Bulan Zulhijjah yang penuh keberuntungan

Setiap orang mau beruntung dan tidak mau merugi

Hal yang tidak diperselisihkan lagi bahwa setiap orang yang hidup di dunia ini inggin meraih keberuntungan sebanyak-banyaknya dan benci kegagalan dan kerugian. Anda melihat betapa para pedangang antusiasnya untuk menjajakan dagangannya pada momen-momen yang dianggapnya akan mendatangkan keuntungan yang besar.

Bukanlah hal yang aneh jika para pedagang sibuk menyetok barang dagangannya menyambut kedatangan Ramadhan dan Iedul Fitri jauh-jauh hari sebelum musim”keberuntungan” itu datang. Demikian juga dengan para pedagang ternak sangat paham bahwa mereka harus menyetok banyak ternak ketika telah dekat hari raya Qurban.

Seiring dengan hal itu, para pembeli juga benar-benar jeli kapan mereka akan membeli dengan harga yang menguntungkan mereka dengan diskon yang tinggi. Biasanya mereka akan mencari masa-masa discount agar mereka dapat menghemat pengeluaran dan menyimpan sisanya.

Apa yang kita disebutkan di atas adalah keuntungan dalam hal dunia yang semua orang tau dan sepakat untuk mencapainya walaupun dengan susah payah, banting tulang, bergadang di malam hari dst. Seluruhnya karena urusan dunia dapat dilihat langsung hasilnya dan cash di tempat. Karena itulah semua orang yakin dan berusaha mengejarnya.

Adapun dalam agama, maka Allah subhanahu wa ta’ala juga telah memberikan musim-musim keberuntungan bagi hamba-hambaNya untuk beramal dan dilipat gandakan amalannya, karena itulah Allah telah memberikan bagi mereka kesempatan untuk mencari keberuntungan akhirat dengan masuknya bulan Ramadhan, Malam lailatul Qadar, sepuluh akhir malam bulan Ramadhan dan musim-musim ibadah lainnya.

Bedanya, untuk musim keberuntungan akhirat ini, kita akan mendapati manusia zuhud (baca tidak tertarik) untuk berlomba-lomba meraihnya, bahkan ketika Ramadhan anda akan mendapati” anak-anak dunia” menghabiskan sebagian besar waktunya untuk ber”jibaku” mengejar target keuntungan dengan melupakan puasa, tarawih, qiyamul lail, baca Quran dan sejenisnya dari pagi hingga larut malam.

ketika “anak-anak akhirat” menyibukkan diri dengan beragam aktifitas ta’at, maka sebaliknya “anak-anak dunia” tenggelam dalam kesibukan dunianya untuk menumpuk keuntungan, memperindah rumah, memperbaharui kendaraan, menyiapkan hidangan untuk tamu, dan membeli segala macam tetek bengek yang berkaitan degan bagaimana menyemarakkan hari raya, tentunya sekaligus ajang berbangga-bangga plus riya dengan keberhasilan dunianya.

Hal ini terjadi karena manusia tidak begitu tertarik dengan sesuatu yang sifatnya tidak tampak dan tertunda, dan amalan akhirat hasilnya baru dapat dilihat kelak setelah datangnya hari kiamat. Adapun amalan dunia hasilnya cash di depan mata. Karena itulah Allah berfirman:

“كلا بل تحبون العاجلة وتذرون الآخرة ”

“Sekali-kali tidak, Namun kamu mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan akhirat”.QS: Alqiyamah 20-21.

Keutamaan bulan Zulhijjah

Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala telah memilih bulan Ramadhan menjadi musim amal yang berlipat ganda karena di dalamnya terdapat rangkaian ibadah, seperti puasa, zakat fitrah ,tarawih, malam lailatul qadar, I’tikaf di sepuluh malam terakhir, turunnya Alquran dan di tutup dengan ied Adha dengan memperbanyak takbir dan zikir, maka Allah subhanahu wa ta’ala juga telah membuka musim amal lainnya yang tidak kalah keutamannya dibandingkan musim Ramadhan, yaitu musim amalan di bulan Zulhijjah.

Jika di Ramadhan ada malam terbaik sepanjang tahun yaitu malam laitaul Qadar, maka di bulan Zulhijjah Allah jadikan hari Arafah tanggal 9 Zulhijjah menjadi siang terbaik sepanjang tahun. Kalaupun di Ramadhan ada sepuluh malam terbaik untuk beri’tikaf mencari malam seribu bulan, maka di bulan Zulhijjah ada juga sepuluh hari yang terbaik untuk mencari keuntungan berlipat ganda yaitu sepuluh hari awal bulan Zulhijjah.

Jika dibulan Ramadhan ada ibadah sosial dengan berbagi makanan dalam bentuk zakat fitrah kepada fakir miskin, maka dibulan Zulhijjah juga ada Qurban yang tak kalah seru pahalanya sebagai bentuk kepedulian agama ini kepada sesama hamba.

Berikut ini adalah tulisan yang berusaha mengumpulkan keutamaan sepuluh hari awal bulan zulhijjah, wallahul musta’an.

Page 1 of 3 | Next page