Hijrah Nan Abadi

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 27 May 2017
Kategori: Kisah Tazkiyatun Nufus

 

Hijrah identik dengan keinginan kuat untuk merubah dan berubah…

Hijrah identik dengan pengorbanan dan berkorban…

Hijrah adalah kesiapan mental untuk menapaki jalan yang terjal lagi mendaki, alur yang penuh onak dan duri, jurang dan lembah ngarai yang dalam.

Hijrah adalah kesiapan mental untuk meninggalkan segala yang dicinta, berupa sanak keluarga, anak dan istri, kerabat dan handai tolan, tanah air dan usaha, harta dan jabatan….demi meraih apa yang lebih besar dari itu semua, menjumpai siapa yang dicintai melebihi segalanya.

Demi mengikuti perintah sang kekasih dan berkumpul dengannya, para sahabat rela berhijrah meninggalkan negeri mereka, berjalan beratus-ratus mil dengan segala kesulitan dan resiko besar berjumpa musuh, dihadang perampok jalanan atau dibunuh…

Demi hijrah Abu Salamah rela berpisah dengan istri tercinta dan buah hatinya, setelah jalannya berhijrah dihadang oleh kerabat Ummu Salamah yang tidak rela puteri mereka ikut suami berhijrah ke Madinah, sementara anaknya dirampas paksa oleh keluarga Abu Salamah tak rela ia dibawa sang ayah.

Setahun Ummu Salamah menangisi nasibnya yang tercerai berai dengan puteranya dan sang suami. Senandung kesedihan terus menerus bergelayut mengikutinya hingga terbuka kesempatan untuk berangkat ke Madinah diantar oleh seseorang Quraisy yang lembut hati dan iba melihat kesedihan Ummu Salamah.

Demi hijrah berkumpul dengan sang kekasih- Rasulullah-Shallallahu alaihi wa sallam, Shuhaib Ar-Rumi yang telah sukses menjadi saudagar di Mekkah rela melepas segala kekayaan dan asset miliknya, ketika dihadang Quraisy yang tak rela membiarkan Shuhaib membawa segala asset dan kekayaannya.

Demi hijrah bersama kekasih, Abu Bakar rela membawa semua harta kekayaannya dalam bentuk dinar dan dirham, tak meninggalkan apapun bagi keluarganya di Mekkah. “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasulnya”..itulah jawabannya ketika ditanya sang kekasih.

Demi hijrah kepada sang kekasih, menunggu dan menanti sang kekasih, Salman Alfarisi rela meninggalkan segala kemewahan istana Persia, menjalani hidup sebagai budak yang terlunta-lunta, berjalan beratus mil di bawah terik mentari dan dinginnya malam.

Jika kau korek kisah hijrah para sahabat, kupastikan kau takkan dapat mencatat segala pengorbanan mereka untuk berkumpul bersama sang kekasih, membela dan berkorban untuk menegakkan kalimat Allah.

* * *

Kini sang kekasih telah tiada, telah wafat dikandung tanah, namun apakah berhijrah kepada beliau telah berhenti ?

Tidak sobat, hijrah kepada sang kekasih hati itu kini tetap wajib dan terwujud dengan berhijrah kepada sunnahnya, ajaran dan warisan ilmu yang dia tinggalkannya.

Berhijrah kepada beliau takkan pernah lepas di hati mukmin sejati, seiring dengan kecintaan yang senantiasa melekat kepada beliau.

Selama masih ada cinta dan rindu untuk berjumpa beliau di Haudh-nya berupa telaga suci dipadang mahsyar, maka takkan pupus pula keinginan berhijrah kepada sunnahnya.

Setiap mukmin yang mengaku sebagai ummatnya dan cinta padanya, akan diuji untuk dapat tegar berhijrah meniti jalan sunnahnya.

Demi hijrah itu, mukmin rela meniti jalan sunyi ketika orang-orang lebih memilih jalan syahawat dan syubuhat yang ramai…

Ia rela terasing hati ditengah-tengah keramaian jasmani manusia yang tak perduli menapaki jalan itu…

Ia rela dihina dan dicemooh karena meninggalkan ajaran leluhur dan adat istiadat yang mengikat…

Namun sayang, tak semua yang mengaku muslim sanggup meniti jalan keselamatan itu, jembatan yang menyampaikan seseorang untuk bertemu sang kekasih.

* * *

Khalili (kekasihku)

Dalam diam ku coba menikmati cinta.
Dalam senyap kusebut dirimu.
Dalam hening kucoba tuk mengeja huruf demi huruf namaMu.
Dalam dekapan rembulan malam kubisikkan kerinduan melalui semilir angin yang berhembus.

Kutorehkan “kesetian” dalam prasasti hatiku.
Ku usir setiap pesona yang datang menghampiri istana kalbuku.
Kukosongkan mahligai itu hanya untukmu..untukmu seorang.

Maafkan jika terkadang “kesetiaan” itu berbagi.
Maafkan langkah kaki yang terseok-seok tak mampu mengikutimu.
Berilah uzur tatkala azam melemah dan lumpur menggenang perlambat langkah ini.

Tunggulah kami di “haudh” mu wahai kekasih.
Izinkan daku melepas dahaga ini dengan air suci itu.
Meskipun noda-noda melumuri diri, walaupun rentang waktu jauh memisah…
hanya modal “cinta” ini..kuharap dapat berkumpul bersamamu ya khalili…

Kota Nabi, 1 Ramadhan 1438/ 27 Mei 2017
——————————————-
Abu Fairuz My

Tulisan Terkait Lainnya