Hukum menikahi wanita hamil yang dizinahi

Diposting oleh Ustadz Abu Fairuz pada 6 November 2012
Kategori: Tanya Jawab

 


Soal: ada seorang lelaki yang menzinahi seorang wanita sehingga hamil, kemudian dia menikahinya dalam kondisi hamil, setelah lima bulan dia melahirkan bayi, setelah itu pernikahan ini terus berkelanjutan dan membuahkan anak-anak yang lain , apakah pernikahan ini sah secara syariat? Dan bolehkan menikahi wanita hamil?

Jawab: alhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ‘alihi wa sahbihi, wa ba’du:
Para ulama-rahimahumullah-telah berselelisih dalam hukum bolehnya menikahi wanita hamil karena zina dalam dua pendapat:

1. Pendapat ulama Malikiyyah dan Hanabilah: hukumnya tidak boleh selama dia belum melahirkan, baik dia dinikahi oleh lelaki yang menzinahinya , ataupun lelaki lain, berdasarkan sabda Nabi saw:
“لا توطأ حامل حتى تضع” رواه أبو داود والحاكم وصححه
Tidak boleh mencampuri/menikahi seorang wanita yang hamil hingga dia melahirkan.HR. Abu Daud , dan Hakim dan dia mensahkannya.

Juga berdasarkan riwayat dari Said bin Musayyib: ada seorang lelaki yang menikahi wanita, tatkala dia mencampurinya ternyata dia mendapati wanita itu dalam keaadaan hami, maka hal ini diberitahukan kepada Nabi dan Beliau memisahkan antara keduanya.

2. Pendapat ulama Syafiiyyah dan Hanafiyyah: hukumnya boleh menikahi wanita hamil karena zina sebab tidak ada kehormatan untuk sperma zina dan tidak dianggap statusnya dalam nasab/ketrurunan. Bersabda Nabi-shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“الولد للفراش وللعاهر الحجر” أخرجه البخاري ومسلم.
Anak (zina)itu adalah milik ibunya, adapun bagi lelaki yang menzinahinya adalah batu(tidak memiliki apapun) HR. Bukhari dan Muslim.

Jika yang menikahinya adalah pria yang menzinahinya, boleh baginya untuk mencampurinya dan pernikahannya adalah sah, tetapi anak yang pertama(terlahir dri hasil zina) tidak di nasabkan pada lelaki itu, menurut salah satu pendapat, dan tidak ada hubungan antara anak tersebut dan lelaki yang menzinahi ibunya, keduanya tidak saling mewarisi ataupun dinasabkan padanya.

Pendapat yang membolehkan ini tentunya setelah keduanya bertaubat dari perzinahan, seandainya belum bertaubat maka tidak boleh dinikahkan, berdasarkan firman Allah:
( الزَّانِي لا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ ) (النور:3(
Lelaki penzina tidaklah boleh menikahi kecuali wanita penzina atau wanita musyrik, dan wanita penzina tidak boleh dinikahi kecuali oleh lelaki penzina ataupun musyrik, dan hal ini di haramkan atas orang-orang beriman. QS. An-Nur :3.

Dinukil dan disadur dari : http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&lang=&Option=FatwaId&Id=4115

Tulisan Terkait Lainnya