Hukum saling mewarisi antara muslim dan kafir

Diposting oleh Ustadz Abu Fairuz pada 24 December 2013
Kategori: Tanya Jawab Tags:

 

Assalam mu’alaikum .
ustad ana mau tanya,
Bagaimana hukumnya menerima harta warisan dari orang tua kandung yang bukan muslim.
dan kita tidak mengetahui dari mana harta itu didapat serta dengan jalan apa harta itu diperoleh.

Apakah saudara kandung yang bukan muslim atau pun karib kerabat yang berhubungan tali darah yang bukan muslim juga mendapat harta warisann tersebut..??

kalau mereka dapat waris apakah sama cara Pembagiannya yang sesuai dengan Syariat Islam..?

Jawaban:

wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Adapun hukum mewarisi orang kafir, atau sebaliknya, saya nukilkan dengan teks aslinya fatwa dari Prof.Dr. Su’ud bin Abdullah Alfunaisan-Dekan Fakultas Syariah Universitas Imam Muhammad Bin Su’ud- yang silam.
السؤال
أنا امرأة مسلمة من أب نصراني، توفي والدي المقيم بفرنسا، وترك ميراثًا، وأرسلوا لي نصيبي من الإرث إلى البلد الذي أقيم به.
فهل يجوز لي أخذ نصيبي من الإرث والتصرف فيه أم هو حرام؟ وإذا كان حرامًا فماذا أفعل بهذا المال، خاصة وأنه قد أرسلوه لي إلى منزلي حيث أقيم؟ وتبعا لوفاة والدي فقد أرسلت إلي شركات تأمين عن الحياة والموت نصيبي من باقي مستحقات بوليصة التأمين إلى مقر إقامتي.
فما حكم هذا المال (التأمين)؟ وهل يجوز لي التصرف فيه؟

الجواب
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
فإرث الكافر من المسلم لا يجوز بإجماع العلماء من السلف والخلف، أما إرث المسلم من الكافر فالمسألة فيها خلاف بين العلماء منذ عهد الصحابة، فقول الجمهور من العلماء أن لا توارث بين المسلم والكافر؛ لحديث أسامة بن زيد –رضي الله عنهما- المتفق عليه: (لا يرث المسلم الكافر ولا الكافر المسلم). صحيح البخاري (6764)، وصحيح مسلم (1614(
وذهب بعض الصحابة -كمعاذ بن جبل ومعاوية بن أبي سفيان –رضي الله عنهما- وبعض التابعين -كسعيد بن المسيب والشعبي وإبراهيم النخعي– إلى جواز ذلك، واستدلوا بحديث معاذ –رضي الله عنه- عند أبي داود (2912)، أن رسول الله –صلى الله عليه وسلم- قال: “الإسلام يزيد ولا ينقص”، كما استدلوا بأننا ننكح نساءهم ولا ينكحون نساءنا- فكذلك نرثهم ولا يرثوننا.
وأشار لجواز هذا القول شيخ الإسلام ابن تيمية –رحمه الله-.
وإذا كان الأمر كذلك في إرث المسلم للكافر فأميل إلى القول الثاني، فلا بأس بأخذ هذا الإرث، وأنصحك بإخراج بعضه صدقة في سبيل الله، وكذلك ما أتاك من (بوليصة التأمين) فإنه جزء من الإرث وله حكمه. والله أعلم.

Soal: Saya seorang wanita muslimah dari keturunan ayah yang beragama Nashrani, ayahku yang berdomisili di Perancis wafat dan meninggalkan warisan, kemudian pihak mereka mengirimi jatah warisanku ke negeri mana saya berada.`
Pertanyaannya, bolehkah saya mengambil bagian dari harta waris tersebut dan menggunakannya ataukah haram mengambilnya? Jika haram, maka apa yang harus saya lakukan terhadap harta tersebut? Apalagi mereka yang telah mengirim harta tersebut ke rumah kediamanku, seiring dengan wafatnya ayahku, pihak asuransi jiwa juga telah mengirimi jatah pembagian milikku ke tempat aku berdomisili, bolehkah aku memanfaatkan uang tersebut?

Jawab: Segala puji milik hanya milik Allah dan semoga shalawat dan salam terlimpah atas Rasulullah, wa ba’du:
Orang kafir tidak boleh menerima warisan dari seorang muslim dengan kesepakatan ulama terdahulu maupun yang datang belakangan.

Adapun hukum seorang muslim mewarisi harta dari kerabat yang kafir,maka hal ini adalah masalah yang diperdebatkan oleh para ulama sejak zaman para sahabat.Pendapat mayoritas ulama, tidak boleh saling mewarisi antara muslim dan orang kafir, dengan dasar hadis Usamah bin Zaid-semoga Allah meridhoi keduanya- yang disepakati (Bukhari dan Muslim):” Tidak boleh seorang muslim mewarisi orang kafir dan tidak pula seorang kafir mewarisi seorang muslim”.(Sahih Bukhari no: 6764, Sahih Muslim: 1614)

Adapun pendapat sebagian dari sahabat seperti Muadz bin jabal dan Muawiyah bin Abu Sufyan, ataupun sebagian tabi’in seperti Said bin Almusayyab, As-Sya’bi dan Ibrahim An-Nakh’i: bahwa hal tersebut( hukum seorang muslim mewarisi orang kafir) dibolehkan. Mereka berhujjah dengan hadis Muadz-semoga Allah meridhoinya-yang diriwayatkan oleh Abu Daud (no. 2912) bahwa Rasulullah bersabda:

“Islam itu menambah dan tidak mengurangi”. Mereka juga beralasan bahwa kita(kaum Muslimin) dibolehkan menikahi wanita mereka (ahli kitab) dan mereka(orang kafir) tidak boleh menikahi wanita kita (muslimah), maka dengan demikian kita boleh mewarisi mereka dan mereka tidak boleh menerima warisan dari kita, dan terlihat Ibnu Taimiyah memberikan isyarat kecondongannya kepada pendapat ini.

Dengan demikian, maka saya lebih condong memilih pendapat yang kedua yaitu bolehnya seorang muslim mewarisi orang kafir, maka tidak mengapa jika dia mengambil bagian tersebut, namun saya menasehatimu untuk menyedekahkan sebagiannya sebagai bentuk sedekah di jalan Allah, demikian pula halnya hukum mengambil bagian dari konpensasi asuransi, karena hal tersebut bagian dari warisan dan mengambil hukum yang sama dengannya. Wallahu a’lam.
Diambil dari fatwa Prof.Dr. Su’ud bin Abdullah Alfunaisan-Dekan Fakultas Syariah Universitas Imam Muhammad Bin Su’ud yang silam.

Adapun ketidak tahuan anak dari mana harta tersebut berasal, apakah didapat dengan cara yang halal ataupun yang haram, tidak menghalangi sang anak untuk mengambil warisan tersebut dan tidak mempermasalahkannya,sampai datang keyakinan yang pasti, bahwa harta tersebut didapat dengan kezaliman dengan merampas hak orang lain, yang akan menyeretnya kepada hal-hal yang membahayakan dirinya.

Apakah saudara kandung yang bukan muslim atau pun karib kerabat yang berhubungan tali darah yang bukan muslim juga mendapat harta warisann tersebut..?? jawabanya adalah ya, mereka punya hak yang sama untuk mendapatkan harta warisan orang tua mereka.

Kalau mereka dapat waris apakah sama cara Pembagiannya yang sesuai dengan Syariat Islam..? jawabnya terpulang pada keinginan mereka sendiri,dan hukum yang mereka yakini, kecuali jika mereka rela pembagiannya dengan cara Islam.

Wallahu a’lam.

Medan, Selasa, 24 Desember 2013 /20 Safar 1435 H
Abu Fairuz Ahmad Ridwan Muhammad Yunus

Tulisan Terkait Lainnya