Hilang ditelan bumi

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 3 February 2015
Kategori: Kisah

 

Kisah ini saya muat bukanlah untuk meredam gejolak orang yang ingin berpoligami. Bukan pula bertujuan menyuruh para suami agar segera berpoligami.Tujuannya hanyalah sekedar untuk mengambil ibrah. Bahwa setiap perbuatan memiliki konsekwensi dan resiko yang harus dipikirkan matang-matang.

Jika anda telah siap maka lakukanlah dan bertawakkallah pada Allah. Hendaklah seseorang selalu melihat rambu- rambu syariat. Jika lampu syariat berwarna merah…maka jangan sesekali di langgar.jika ia berwarna kuning…maka berhati-hatilah. Bila lampu itu berwarna hijau…maka jalanlah dan jangan pernah herhenti di tengah atau mundur ke belakang. Jika anda berhenti ataupun mundur,yakinlah anda akan di gilas kendaraan lain.

Kisah ini berawal dari seorang pria yang ku kenal bersemangat dalam menimba ilmu. Rajin ke kajian dan memiliki anak-anak yang berprestasi.

Dia adalah seorang pedagang yang sukses. Dengan kerja kerasnya dan banting tulang tak kenal lelah siang dan malam,ia berhasil memiliki banyak asset. Kudengar darinya ia memiliki belasan rumah sewa, bahkan ruko-ruko. Dari hasil usaha itu dia dapat membeli mobil lebih dari satu. Dengan usaha itu pula ia dapat menunaikan haji dan umrah yang berulang.

Terasa sempurna kebahagian yang ia miliki.Apalagi gairahnya dalam beribadah…subhnallah,sangat mengangumkan. Jika Ramadhan telah datang, ia tak pernah absen mengisi shaf terdepan. Lengkap dengan atribut gamis dan serbannya yang membuat ia seolah seorang syeikh yang lagi khusuk sholat dan bermunajat pada Allah.

Namun hidup ini adalah ujian,dengan ujian ini pulalah Allah akan mengangkat derajat seseorang atau menjatukannya.Semangkin tinggi iman dan ilmu,maka semangkin kuat ujian yang harus di hadapi. Badaipun datang melanda rumah tangganya.

Berawal dari rasa iba dan kasihan,ia tertarik untuk menikahi salah seorang wanita yang menjadi pelanggannya.Wanita itu menurutnya layak dikasihani,dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan,serta keadaan keluarga dikampung yang susah sementara wanita inilah yang jadi tulang punggung bekerja untuk menafkahi keluarga.Rasa kasihan itu berubah menjadi simpatik dan keinginan untuk menikahinya.

Singkat cerita pernikahan merekapun berlangsung tanpa sepengetahuan dan izin istrinya. Bahkan ia nekat memalsukan tanda tangan istrinya agar jalan menjadi mulus.

Berbekal tanda tangan izin istri menikah lagi..ia meminta salah seorang ustadz untuk menjadi wali bagi calon istrinya. Setelah menikah dan berbulan madu ia berbohong pada istrinya. Ia mengatakan bahwa ia pergi ke luar kota dan berencana langsung pulang kampung selama seminggu.

Lepas seminggu seolah ia baru pulang kampung dan membawa oleh-oleh yang katanya dibeli dikampung. Padahal oleh-oleh itu dia beli sendiri di daerah tempat kediamannya.

Haripun berjalan menjadi minggu dan bergerak menjadi bulan.Bak kata pepatah”sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh jua”. Maka itu pulalah yang terjadi dengannya.

Istrinya mulai curiga melihat gelagat suami yang kini “mati rasa” melihat dirinya. Sudah berbulan ia tidak pernah lagi memberikan nafkah batin sang istri, lambat-laun…pernikahannya yang kedua pun terbongkar. Prahara rumah tangga berkecamuk.

Sang istri mengancam akan memenjarakan suaminya atas pemalsuan tanda
tangannya. Pertengkaran hebatpun tak dapat dielakkan.

Atas dasar”menyelamatkan asset”sang istri pertama mengambil seluruh surat-surat berharga dan dokumen-dokumen penting. Semua sertifikat rumah dan asset lainnya telah dia bawa.

Tidak sampai di situ,bahkan ia memaksa suaminya untuk menceraikan istri barunya setelah berhasil melabrak dan memaki-makinya.

Sungguh menyedihkan. Apalagi kudengar istri keduanya itu telah hamil. Betapa ketakutan memuncak dalam dirinya hingga ia rela seandainya sang suami menceraikannya saja daripada hidup tertekan dan menderita. La haula wala quwwata illa billahi.Sejak pristiwa itu aku tidak lagi pernah mengetahui keberadaan pria itu,seolah ia benar-benar lenyap di telan bumi.

Ramadhan datang. Kucari dirinya di shaf terdepan masjid kami,namun kini harapan melihatnya telah pupus. Aku kehilangan jejaknya. Entah dimana kini ia berada.

Alangkah porak-porandanya mahligai rumah tangga yang ia bina. Entah bagaimana nasib dirinya dan kedua istri serta anak-anaknya. Kudengar mereka pindah, kudengar juga dia pernah nyantri sebagai tempat pelarian. Sebulan lebih nyantri akhirnya ia pun kembali.

Kisah ini kumuat bukan untuk menyalahkan satu pihak,karena semuanya turut andil dalam kesalahan.

Jikalah semua mau saling mengalah dan bersabar pastilah rumah tangga mereka dapat dipertahankan tanpa harus ada yang di kecewakan.

Perjalanan nasib anak manusia tiada yang tau muaranya. Hari ini rumah tangga anda bagaikan laut tak bergelombang. Tenang dan teduh. Siapa tau esok lusa badai mengguncang biduk dan nyaris menenggelamkanya, dan bukan mustahil biduk itu benar-benar tenggelam.

Dalam hidup ini orang bijak senantiasa mengambil pelajaran dan i’tibar dari segala kejadian yang dia saksikan. Bak kata pepatah”pengalaman adalah guru yang terbaik”. Sungguh beruntung orang-orang yang mampu mengambil pelajaran dari kejadian orang lain dan sungguh merugi orang-orang yang dijadikan cermin i’tibar bagi orang lain dalam kegagalannya.

Berkata penyair:”janganlah engkau merasa takjub melihat orang yang tergelincir mengapa ia tergelincir,tapi lihatlah orang yang suksek bagaimana mereka berhasil”.

Antara langit dan bumi dalam perjalanan dari Jeddah ke Tanah Air,7 Rabiul Akhir 1436 /26 Jan 2015

Abu Fairuz.

Tulisan Terkait Lainnya