Jalan Yang Sepi

Diposting oleh jundy priyana pada 19 December 2015
Kategori: Kisah

 

Meniti di jalan yang Sepi

Bismillah…
Jalan kebenaran itu terjal dan mendaki. Dipenuhi onak dan duri, sarat hinaan dan makian. Bukanlah jalan kebenaran itu -sekalipun terang dan jelas-dipenuhi sanjungan dan pujaan,ditaburi bunga-bunga nan harum dan indah.

Jalan itu yang telah membawa Nabiyullah Ibrahim dibuang ke Api, Nabi Yusuf dipenjara, bahkan Nabiyyullah Yahya dan Zakaria tewas terbunuh.

Jalan kebenaran itu begitu sepi dilalui, tak banyak yang melintas,lengang dan sedikit peminat.Jalan sepi itu adalah jalan yang membawa keberkahan abadi sepanjang zaman. Layak ditorehkan dalam prasasti sejarah bertuliskan dengan tinta emas.

* * *

Pria itu berjalan sendiri dari negeri Uyainah-negeri kelahirannya- menuju Dir ‘iyyah setelah di usir oleh Amir Uyainah Utsman bin Hamd bin Ma’mar atas intervensi Penguasa AL-Ihsa yang merasa kepentingannya terganggu dengan dakwah pemuda ini.

Hanya berbekal iman dan tawakkal ia berjalan seorang diri di tengah gurun yang luas. Lidahnya hanyalah melantunkan “Hasbiyallah wa ni’mal wakil”….iapun sampai di Dir’iyyah menumpang di rumah salah seorang kenalannya Ibnu Sulaim al-Urani yang kala itu dihingapi ketakutan dan kekhwatiran atas kedatangan pemuda itu dari Raja Muhammad Bin Suud. Tetapi pemuda itu menghiburnya dannmeyakinkannya bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dan menjadikan keduanya sebagai sebab kebaikan dalam dakwah.

Lelaki itu bernama Muhammad bin Abdul Wahhab. Ialah yang berhasil meyakinkan Raja Suud untuk mengamalkan syariat Allah, menyebarkan dakwah tauhid dan memerangi kemusyrikan. Ia meyakinkan Raja Suud bahwa penguasa yang perpegang dengan kalimat La ilaha illalah dengan segala konsekwensinya ,pasti akan berjaya dan ditolong Allah. Bahkan beliau mendoakan agar Raja Suud dan keturunannya akan menjadi para pemimpin negeri yang besar.

Subhanallah…
Kini anda melihat bagimana negeri tauhid itu menjadi negeri yang penuh berkah dan disegani kawan maupun lawan. Semua bermula dari keiklhasan seorang da’i yang berjuang tanpa pamrih,hanya karena Allah dan untuk memperjuangkan kalimatNya.

Ya…keikhlasan seorang da’i yang berjalan sendiri dari Uyainah menuju Dir’iyah.
Allahu akbar…

Hang Nadim-Cengkareng, 7 Rabiul Awwal 1437/ 18 Des 2015

Abu Fairuz

Tulisan Terkait Lainnya