Wanita Tangguh

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 4 February 2016
Kategori: Kisah

 

Wanita Tangguh

Namanya Asma Binti Umais bin Ma’bad bin Harits Alkhats’amiyyah. Ia tergolong sebagai orang-orang yang terdahulu memeluk Islam bersama rombongan Kaum Muhajirin Al Awwalin, tepatnya sebelum Baginda Nabi memulai dakwahnya secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam bin Abi Arqam.

Kemulian ia dipersunting oleh Jafar bin Abi Thalib “At-tayyar” . Tatkala kaum muslimin diintimidasi dan diteror Kuffar Quraisy, Nabi perintahkan kaum muslimin untuk hijrah tinggalkan Mekah ke negeri Habasyah (Ethiopiya) untuk mencari perlindungan dan ketenangan dalam menjalankan Agama.

Kala itu berangkatlah Asma binti Umais menemani suaminya tercinta menuju Habsyah selepas pernikahan mereka. “Bulan madu” mereka nikmati di negeri pengasingan, jauh dari sanak keluarga demi dapat melaksanakan agama.

Beberapa tahun di Habasyah, kaum muslimin di sana mendengar Nabi telah hijrah ke Madinah, dan Islam telah mewarnai negeri itu. Bahkan peperangan demi peperangan melawan Kuffar selalu dimenangkan oleh Nabi dan para sahabat. Maka pada tahun ketujuh Hijriyah ia berangkat bersama suaminya ke Madinah sabagai Darul Islam untuk berjuang bersama Nabi dan kaum muslimin.

Islam telah tersebar ke seluruh Jazirah Arabia, membuat Romawi “ketar ketir” khawatir disaingi. Mereka mengerahkan pasukan yang begitu banyak laksana “air bah” untuk menyapu bersih Islam. Pecahlah pertempuran dahsyat tak seimbang antara bendera tauhid dan bendera kesyirikan di sebuah tempat bernama Mu’tah.

Sebagai Jenderal tertinggi pemimpin pasukan, Zaid bin Haritsah, kemudian Jafar dan Abdullah bin Rawahah…ketiganya terbunuh sebagi syahid melawan tentara Romawia. Setelah itu Khalid bin Walid “pedang Allah yang terhunus” mengambil alih kepemimpinan dan berhasil menyelamatkan kaum muslimin dari dahsyatnya gelombang pasykan Romawi.

Asma pun menjanda ditinggal mati suaminya tercinta. Lepas iddahnya ia disunting manusia termulia setelah Rasul Abu Bakar Assiddiq –radhiallahu ‘anhu-.

* * *

Ketika Haji bersama Rasul diserukan, ia bergegas mengikuti seruan itu meskipun Usia kandungannya telah sempurna dan tinggal menunggu hari-hari persalinan.

Betapa inginnya hatinya turut menyertai suaminya Abu Bakar dan rombongan para sahabat, tuk dapat berhaji bersama Rasulullah, sebagai satu dari rukun Islam.

Tak peduli dengan usia kehamilannya yang telah mencapai sembilan bulan, ia tetap berangkat haji.

Dengan tubuh yang diberati kandungan, ia tetap setia memacu untanya bersama rombongan kaum muslimin hingga tibalah mereka di suatu tempat bernama Zul Hulaifah.

Nabi dan rombongan istirahat dan menginap di sana sambil menunggu kaum muslimin yang masih tertinggal di Madinah dan ingin ikut haji bersama Nabi.

Tiba-tiba perut Asma mulas sejadi-jadinya, kontraksi tersebut semangkin menjadi-jadi pertanda persalinan akan segera dimulai.

Sungguh Asma benar-benar perempuan tangguh, ia lalui persalinan yang sangat tidak nyaman ditengah perjalanan menuju Mekkah tanpa ditemani dokter spesialis kandungan, tanpa bidan dan tanpa peralatan medis canggih. Ia harus rela melahirkan tanpa ruang persalinan.

Baru satu hari bersalin, ia paksakan dirinya kembali menunggang unta dengan membawa bayi yang masih memerah demi melanjutkan perjalanan menuju Mekkah

Entah bagaimana ia mendekap sang bayi dan menyusuinya di atas sekedup unta dalam perjalanan panjang ratusan mil meretas padang pasir nan luas dengan terik mentari yang membakar kulit.

Sungguh Asma wanita tangguh. Tatkaka kaum wanita yang baru bersalin di negeri kita dimanja dengan persalinan canggih di rumah sakit mahal dengan segala fasilitasnya, berhari-hari tidak diizinkan bekerja keras menjalankan aktifitasnya sebagai ibu rumah tangga, sementara ia tanpa mengeluh sedikit juapun harus bekerja keras melawan panasnya siang dan dinginnya malam. Berhari-hari dalam perjalanan memacu untanya dalan keadaan nifas.

* * *

Kini zaman berubah. Segala sarana transportasi dan fasilitas modern telah memanjakan manusia dan terkadang membuat mereka kufur nikmat.

Perjalan berminggu menuju Mekkah hanya ditempuh dengan beberapa jam saja dengan” burung besi” boing 747 seri terbaru maupun Airbus.

Triknya matahari berganti dengan sejuknya udara ber AC di dalam pesawat dan santapan makanan yang menggiurkan. Panasnya tenda-tenda yang tidak nyaman telah berganti hotel-hotel bintang lima.

Namun perjalanan haji dan umrah pun telah bergeser niat menjadi perjalanan untuk bersenang-senang dan berpelesir, untuk wisata dan berbelanja, untuk mencari pangkat dan kedudukan.

Ibadah haji dan umrah telah kehilangan makna. Setiap jama’ah begitu bangganya mempertontonkan photo selfinya di setiap tempat guna disebarkan di jejaring sosial. Seolah ia ingin sekuruh dunia tau bahwa dirinya hebat, soleh dan bertakwa.

Jadilah haji dan umrah sekedar berebut mencari fasilitas dan kenyamanan bukan mencari ganjaran hari akhirat dan keridhoan Tuhan.

Segala bentuk ketidaknyamanan dalam perjalanan menjadi bahan olokan dan cibiran. Menggerutu dan marah dengan antrian, kesal dan sebal dengan menu makanan dan penginapan.

Bergantilah zikrullah denagan umpatan dan makian. Talbiah dan takbir dengan hujatan dan kekesalan.

Kalaulah seandainya mereka bayangkan betapa sukitnya generasi awwal melewati halangan dan rintangan untuk dapat sampai ke rumah Allah, niscaya mereka kan sangat bersyukur dengan segala fasilitas sekarang, selalu memuji Allah dengan karunia-Nya yang luas.

———-
Perjalanan KL-Jeddah, 24 Rabiul Akhir 1437 H/3 Feb 2016.

Abu Fairuz

Tulisan Terkait Lainnya