Ulama dan Kekuasaan

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 26 August 2016
Kategori: Manhaj

 

Betapa kekuasaan membuat orang terpesona dan terperdaya, awalnya berniat memperbaiki dan akhirnya larut dengan kemungkaran penguasa, minimal mendiamkan kemungkaran yang ia lihat dan ia dengar, padahal ia mampu untuk merubah dan mengingkarinya.

Lebih musibah lagi ketika ulama menjadi tim sukses calon penguasa dan bekerja menyeru ummat kepada tokoh yang dijagokan, dengan iming-iming dunia.

Paling musibah adalah ketika ulama berganti atribut dan kostum menjadi penguasa. Terpaksa ia harus menutup Mushafnya, mengucapkan salam perpisahan pada kitab-kitab hadis, fiqih dan akkdahnya.

Kajian pun berkurang dan lambat laun menghilang dengan alasan sibuk. Dakwah kepada Allah menjadi dakwah kepada dirinya dan untuk mempertahankan jabatannya.

Tidak ada lagi majlis dan halaqah, berganti dengan kampanye dan rekrutment anggota. Kekasihnya adalah para pendukungnya dan musuhnya adalah yang bersebrangan dengannya.

Jikalah para ulama semisal Abu Hanifah berlari dari kejaran penguasa untuk dijadikan Hakim Agung, maka ia berlari kencang menuju “kursi panas” yang diperebutkan ahli dunia.

Berapa banyak kutemui orang-orang pintar membawa gelar Doktor dan Profesor dari alumni Universitas luar negeri yang tersohor membuang ilmu yang dulu dikaji dan dituntutnya bertahun-tahun ketika telah berada dalam lingkaran kekuasaan dan jabatan.

Awalnya merubah tampilan zahir dengan alasan perkara enteng dan remeh-temeh, mulai dari isbal-dengan alasan masalah khilafiyyah- merapikan hingga mencukur jenggot…seterusnya meremehkan urusan bid’ah dan kesyirikan dan ujungnya adalah ia tampak lebih awam dari orang awam, kalau tidak mau dikatakan lebih bodoh dari mereka.

Lihatlah bagiamana salaf terdahulu begitu khawatirnya dengan orang-orang yang berada dalam lingkaran kekuasaan.

Berkata Hudzaifah bin Yaman:
إيّاكم ومواقف الفتن. قيل: وما هي؟ قال: أبواب الاُمراء، يدخل أحدكم على الأمير، فيصدّقه بالكذب ويقول له ما ليس فيه.
“Jauhilah tempat-tempat fitnah” ada yang bertanya, apa maksud tempat-tempat fitnah? ia menjawab: “pintu-pintu penguasa , seseorang yang masuk ke pintu penguasa akan membenarkan segala dustanya dan akan berkata memuji apa yang tidak ada padanya”.

Berkata Said bin Musayyab:

إذا رأيتم العالم يغشى الاُمراء فاحترزوا منه، فإنّه لصّ.
“Bila kalian melihat orang alim senantiasa berdekatan dengan penguasa maka jauhilah, sesungguhnya ia hanyalah seorang penyamun.”

Berkata Makhul ad-Dimasqi:
من تعلّم القرآن وتفقّه في الدين ثمّ أصحب السلطان تملّقاً إليه وطمعاً في يديه، خاض في بحر من نار جهنّم بعدد خطاه.
“Barang siapa yang belajar Quran dan agama kemudian berteman dengan penguasa untuk menjilatnya dan mengharapkan apa yang dia miliki, niscaya akan tenggelam dalam lautan api neraka Jahannam sebanyak langkah-langkah yang ia ayunkan padanya.

Sahnun berkata:

قال: وكنت أسمع أنّه يقال: إذا رأيتم العالم يحبّ الدنيا فاتّهموه على دينكم،

Aku pernah mendengar pernyataan yang bijak: “jika kalian melihat orang berilmu cinta dunia maka curigailah dia terhadap agama kalian” .

Begitulah sikap mereka terhadap penguasa, bukan malah menjadi penjilat karena ingin mendapat gelar “Imam Besar” ataupun “Mufti Resmi” pejabat teras fulan.

Tak jarang berebut tempat di “hati” penguasa melahirkan dendam, hasad dan fitnah. Menghasut dan memecah belah barisan ummat, ya subhanallah. Adakah yang mau mengambil pelajaran..??

*zaman yang telah berubah

————————–
Mekah, Aziziyah- 17 Zul qa’ dah 1437 h/ 20 Agustus 2016

Abu Fairuz Ahmad Ridwan My.

Tulisan Terkait Lainnya