Kenangan Haji bersama Masayikh

Diposting oleh Ustadz Abu Fairuz pada 12 July 2014
Kategori: Tazkiyatun Nufus

 

Sudah menjadi kebijakan kementrian haji dan wakaf Saudi Arabia untuk menjalankan program penyuluhan terhadap seluruh jamaah haji yang datang dari seluruh penjuru dunia.

Untuk hal tersebut pemerintah Saudi telah menyiapkan para ulama dan dai-dai yang dipekerjakan selama musim haji untuk menerangkan tentang Islam, esensi tauhid dan kaifiyat manasik haji dan umrah terhadap para jamaah.
Ratusan dai dan ulama yang senior maupun junior serta ratusan para penterjemah keberbagai bahasa dunia di datangkan dari seluruh dunia, seluruhnya siap turun ke tempat –tempat berkumpulnya jamaah haji, baik di masjid-masjid, bandara maupun pelabuhan.

Pada musim haji tahun 1432 /2012 itu, aku diamanahkan untuk turut menterjemah dan memberikan penyuluhan untuk jemaah haji indonesia yang turun di bandara khusus jamaah haji”Madinatul Hujjaj” di Jedah.

Dalam misi ini aku mengenal banyak sosok ulama yang benar-benar menjadi qudwah bagi kita-kita para –shighar thalabatul ilmi-diantara mereka yang paling berkesan adalah syeikh Abdul Aziz Al-Kanhal.

Tubuhnya kurus dan ringkih, dengan pandangan mata yang tajam sekilas tiada sesuatu yang membedakan dirinya dari orang-orang yang lain. Tetapi setelah aku mengenalnya dengan baik, ada hal yang sangat berkesan dari kepribadiannya dan amat membekas di hatiku tidak akan pernah terlupakan sepanjang masa.

Pertama kali berjumpa dengannya beliau langsung mengajak kami –para penterjemah- untuk makan bareng bersama para masyayikh, yang seyogyanya kami memiliki tempat makan yang berbeda. “Kami tidak mau diebedakan dengan para ikhwah penterjemah” ungkap beliau. Bahkan setiap kali kami berkumpul untuk makan, beliau berusaha berkhidmah dengan membuatkan teh-teh dan menyuguhkannya kepada kami, padahal beliau yang lebih layak untuk menerima khidmat dari kami.

Dari sisi disiplin kerja, beliau benar-benar menjaga waktu kerja, setiap jam 2 kami harus sudah berkumpul di loby hotel dan bersiap-siap untuk berangkat ke bandara.

Jika mobil jembutan telah datang, beliau berusaha sedapat mungkin untuk duduk di kursi paling belakang,bagian kabin dan mempersilahkan para masyayikh lainnya ataupun kami yang duduk di depan, padahal beliau adalah pimpinan regu kami.

Setiba di bandara, sungguh jika di lihat dari sisi kerja, team kamilah yang paling giat mendatangi jamaah yang baru keluar dari bandara sebelum menuju bus pemberangkatan ke Mekah ataupun Madinah.
Tiada satupun jamaah yang terlihat berkumpul kecuali kami menyebar dan berlomba menyampaikan dakwah kepada mereka. Sering kali kami berlomba cepat mendatangi para jamaah.

Aku senantiasa membawa syeikh dengan mobil khusus bandara berkeliling menyapu setiap sudut melihat cela untuk memberikan tausiah.Berbagai bangsa dan bahasa kami datangi, ada jamaah dari Mesir, Tunis, Libya, Maroko, Sudan , Aljazair,negeri-negeri teluk seperti Kuwait,Bahrain, Omman, Yaman dll yang keseluruhannya berbahasa Arab, maka tugasku hanyalah menjadi supir syeikh dan menyiapkan microfon untuk beliau, karena mereka tidak butuh penterjemah.

Ada juga bangsa-bangsa Afrika yang non Arab, seperti Zimbawe, Nigeria, Uganda,Tanzania dll, maka untuk mereka dipersiapkan penterjemah dari kawan-kawan kami dari negeri masing-masing.

Ada juga dari Turkia dan negeri bekas jajahan Rusia seperti, Uzbekistan, Tajikistan, kazahkstan dll yang juga untuk mereka dipersiapkan parat penterjemah dengan bahasa masing-masing. Adapun yang datang dari Indonesia, Malaysia, Brunai, Singapura, Thailand dan burma yang berbahasa melayu maka aku yang menterjemah materi para masyayikh.

Tidak hanya di pelataran bandara, bahkan tatkala para jamaah telah tiba di bus-bus mereka, para masyayikh tetapa mendatangi mereka dari satu bus dan bus lainnya.

Sungguh syeikh Abdul Aziz Alkanhal terlihat tidak pernah lelah berkeliling. Suatu ketika aku bertanya padanya: syeikh…tidakkah anda lelah, berkeliling sementara anda sudah lanjut usia? Beliau menjawab: Ahmad…jujur saya memiliki penyakit pengapuran tulang disebabkan faktor usia yang telah tua, tetapi tiap kali aku melihat ada peluang berdakwah, seketika aku lupa dengan penyakit yang mendera lututku ini, memikirkan besarnya ganjaran pahala yang bakal kuraih”.

Ia melanjutkan:” ahmad…kita tidak pernah tau mana amalan kita yang paling ikhlas dan yang akan menyelamatkan kita dari azab neraka,siapa tau dakwah yang kita sampaikan dapat menyadarkan orang banyak dan sebab hidayah bagi mereka serta menyebabkan turunnya rahmat Allah pada kita?.Tidaklahlah mustahil jika satu dua kalimat yang kita ucapkan dengan ikhlas dalam berdakwah dapat mengangkat diri kita dari kehinaan dunia dan akhirat”.

Sungguh kata-kata yang sangat menyentuh dan menjadi cemeti untuk para dai agar tidak bermalas-malasan dalam berdakwah. Teruslah berdakwah , teruslah perbaiki diri dan amal, teruslah berbuat kebaikan, siapa tau dari seluruh amal yang anda lakukan ada satu dua saja amalan yang ternyata menyelamatkan anda dari azab akhirat.

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-bahwa beliau bersabda:
كَانَ تَاجِرٌ يُدَايِنُ النَّاسَ فَإِذَا رَأَى مُعْسِرًا قَالَ لِفِتْيَانِهِ تَجَاوَزُوا عَنْهُ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا فَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُ
Ada seorang pedagang yang senantiasa menghutangi para pelanggannya, maka jika dia melihat ada pelanggannya yang kesulitan membayar hutang, dia berkata kepada para budak pekerjanya:” toleransilah padanya, semoga Allah-subhanahu wa taala- kelak toleran dan memaafkan kita, maka Allah pun memaafkannya.HR. Bukhari.

Kalaulah kebaikan para penjaja dunia menjadi sebab turunnya rahmat Allah, bagaimana pula para penjaja akhirat…kenapa kita harus berpangku tangan dan enggan berdakwah? Siapa tau satu dari jutaan kata-kata yang kau lontarkan menjadi penyebab selamatnya dirimu dari azab Allah.

Blang pidie, Aceh Barat Daya
Sabtu, 12 Juli 2014 /15 Ramadhan 1435 H.
Abu Fairuz

Tulisan Terkait Lainnya