Senja di Padang Arafah – bag 5 Tamat

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 22 October 2016
Kategori: Kisah

 

MENEMUI RIVAL

Telah menjadi tekatku untuk datang menemui lelaki yang telah lebih dahulu melamar gadis itu. Aku tidak mengenal kecuali namanya. Kabarnya ia baru menyelesaikan kuliahnya dan sekarang mulai berkarya mengamalkan ilmunya dengan menjadi dosen honerer.

Kerabat gadis itulah yang pertama kali menjadi perantara antara mereka. Kabarnya ia lelaki yang tampan dengan postur tubuh dan tinggi yang ideal. Menurut kerabat si gadis, lelaki itu sangat sesuai dipasangkan dengannya. Hal itulah yang membuatku penasaran ingin bertemu dengannya.

Aku telah menyusun kata-kata jika kelak berhadapan dengannya. Akan kukatakan bahwa aku juga punya hak untuk memiliki gadis itu, karena secara syar’i belum ada lamaran resmi yang datang darinya kepada wali gadis itu. Apalagi dalam Islam masalah menerima lamaran dan menikah adalah kewenangan wali wanita, bukan di tangan wanita itu sendiri. Sekalipun sang wanita setuju namun wali tidak merestuinya, tidak kan ada yang namanya pernikahan.

Hanya wanita jahil saja yang nekat menikah tanpa wali. Apalagi “kawin lari” menikah tanpa restu wali dengan sembarang mencomot wali untuk menikahkan dirinya.

TA’ ARUF

Pesona pelangi yang indah tak kan pernah tampak kecuali setelah hujan. Semburat lazuardi nan cerah kan datang mengusir mendung hitam. Begitu juga kehidupan anak manusia. Senantiasa ada keindahan di balik penderitaan.

Aku terperanjat tatkala mendengar berita bahwa keluarga sang gadis menunggu kedatanganku dan keluarga di rumah mereka. Proses ta’aruf dan nazhar akan segera dilangsungkan. Betapa bahagia hatiku mendengar info terbaru ini. Kaget dengan perubahan yang begitu cepat terjadi. Baru saja pupus harapanku yang mulai bersemi untuk menyuntingnya, kini telah bertunas pula harapan baru. Entah apa yang terjadi, wallahu a’ lam yang jelas aku harus menyiapkan mental untuk bertatap muka dengannya.

Hari itu ku datang dengan keluarga ke rumahnya. Didampingi oleh orangtua dan abangnya ia tampil begitu anggun menurutku. Tak salah jika orang-orang mengatakan ia adalah “bunga desa” ini dan menjadi incaran banyak “kumbang”. Adapun aku,hanyalah pemuda yang tidak begitu perduli dengan penampilanku. Kala itu aku datang mengenakan baju yang begitu bersahaja dengan rambut yang kubiarkan memanjang liar karena belum sempat datang ke tukang cukur. Tubuh yang kurus karena banyak bergadang malam bukanlah hal yang aneh bagi para pelajar dikampusku. Demikian juga penampilan yang kurang diperhatikan para pelajar sudah menjadi pemandangan yang lumrah.

Aku lebih banyak berbincang dengan kedua orang tua dan abangnya sambil curi-curi pandangan ke arahnya. Sementara ia acuh tak acuh memandangku sesekali. Zahirnya ia tidak begitu tertarik dengan penampilanku yang “kuper” ini. Menurutku ide acara ini terwujud hanyalah dari desakan pihak keluarganya yang menginginkan aku menjadi bagian dari mereka,bukan darinya. Tapi biarlah segalanya kupasrahkan pada Zat Yang di Atas sana. Ia lebih tau apa yang terbaik bagiku.

Di ujung acara pihak keluarga menerima lamaranku dan mulai membincangkan hari pernikahan kami. Seolah mereka ingin memahamkan kepada si gadis bahwa cinta itu terkadang tidak selalu hadir utuh di hati, tetapi ia kan datang secara perlahan. Biarlah perjalanan waktu yang kelak menyatukan hati-hati dalam tautan cinta.

Memang ada benarnya cinta itu perlu proses. Menumbuhkan bibitnya gampang, yang lebih sulit adalah memupuk bibit itu menjadi kokoh,bak pohon yang tinggi menjulang ke langit dan dahannya menyebar kesegala penjuru. Mengharapkan buah cinta yang lebat tanpa melalui proses dan ujian adalah keliru.

Aku dan keluarga pulang ke rumah dengan membawa sejuta harapan,semoga Allah yang Maha Pengasih memudahkan urusanku ke depan. Jujur aku belum benar-benar merasa yakin dapat bersanding dengannya. Melihat dari proses ta’aruf dan tanggapannya yang tidak begitu merespon keberadaanku. Ah…biarlah waktu yang menentukan kelak.

Setelah kepulanganku, segala macam pujian atas diriku dari pihak keluarga gadis itu sedikit banyak mulai merubah persepsinya tentangku. Kata abangnya ia mulai mencari tau segala sesuatu yang berkaitan dengan jati diriku. Semua ustadz-ustadz dan ulama-ulama yang ia kenal di kota itu ia tanyakan tentangku dan semua memberikan tanggapan yang positif. Semua mereka mengenal riwayat hidupku sejak kecil hingga kini. Konon kata abangnya ia juga membandingkan diriku dengan alumni Riyadh tersebut dan bertanya kemana-mana tentang lelaki gagah itu. Sayang ia tidak menemukan jawaban yang memuaskan sebagaimana tanggapan orang-orang tentangku.

Ketertarikannya padaku mulai tampak. Apalagi ketika ia meminta tanggapan dari kerabatnya yang menjadi perantara antara dia dengan alumni Riyadh itu dan ternyata kerabatnya itu menyarankannya agar memilih diriku.

Subhanallah…alangkah ajaibnya hati manusia yang begitu mudah untuk berbolak balik. Namun tetap kepercayaan itu belumlah sepenuhnya kokoh jua, apabila ia membandingkan penampilan zahir diriku dengan alumni Riyadh itu.

Hari pernikahan memang belum disepakati meskipun telah ada pembicaraan ke arah sana. Boleh saja pihak keluarga menunggu putri mereka sampai benar-benar menyukaiku dan yakin menikah denganku.

SURAT PEMBATALAN

Hari-hari berjalan begitu terasa cepat, gadis itu masih dalam kebimbangan untuk menentukan putusan. Dari satu pihak keluarganya memilih diriku sementara dari sisi lain ia masih meragukan dapat tentram dan bahagia menjadi pendampingku.

Peperangan bantin selalu bergejolak di hatinya hingga akhirnya ia nekat menulis secarik surat ingin membatalkan kesepakatan antar dua keluarga. Malam itu ia benar-benar telah rampung menulis surat dan memasukkannya ke dalam amplop. Rencananya esok pagi akan ia antar sendiri ke rumahku. Isi surat itu adalah mohon maafnya yang sebesar-besarnya kepada diriku dan keluargaku bahwa ia tidak bersedia menjadi pendamping hidupku.

Semua pihak keluarganya menyesal dengan sikapnya itu dan berlepas tangan dari apa yang ia lakukan . Terlebih abangnya yang merupakan sahabat karibku. Tidak seorangpun ada yang bersedia menemani dirinya membawa surat itu.

BERMIMPI

Malam itu sang gadis bermimpi melihat para gadis-gadis belia sedang berkumpul-kumpul berbual-bual. Tiba -tiba ia melihatku melewati majelis para gadis belia itu. Tiba-tiba para gadia itu berlomba-lomba melambaikan tangan ke arahku sementara ia begitu cemburu menatap tingkah laku mereka. Entah kenapa dalam mimpi itu ia merasa lebih berhak atas diriku daripada gadis-gadis itu. Iapun terjaga tatkala fajar menyingsing. Sungguh mimpi itu membekas di hatinya. Entah mengapa ia merasa begitu takut kehilanganku pada waktu itu.

Tetapi mimpi itu tetap ia hiraukan. Tekatnya telah bulat untuk mengantarkan surat itu. Dengan naik becak ia bergerak menuju rumahku.

Tatkala telah mendekat,entah mengapa timbul keraguan yang dahsyat untuk melanjutkan keinginannya. Ia berhenti di salah satu rumah sahabatnya yang adalah tetanggaku. Ia berpura-pura mengunjungi sahabatnya itu, padahal hatinya sedang berperang. Kebingungannya memuncak.

Entah kenapa sahabatnya itu mengarahkan pembicaraan tentang diriku. Ia menyanjung-nyanjung diriku dan menyebutkan bahwa banyak sekali gadis-gadis di kampung ini berharap menikah denganku. Bahkan tanpa malu-malu ia juga menyebutkan ketertarikannya padaku dan bersedia menjadi istriku.

Merah wajah sang gadis, rasa cemburunya terbakar, entah mengapa kali ini dia yakin bahwa dirinya benar-benar telah mencintaiku dan siap menikah.

Ia tetap datang ke rumahku, namun bukan untuk mengatarkan surat itu, melainkan sebagai pemberitahuan bahwa ia benar-benar siap untuk menyambut walimah.

PENUTUP

Cemburu takkan pernah muncul kecuali dari seseorang yang mencintaimu. Mustahil ada cinta tanpa cemburu. Semakin besar dirimu mencintai seseorang semakin dahsyat pula cintamu padanya.

Subhanallah…
Tak disadari ternyata gadis itu benar-benar yakin menikah denganku. Benih cinta yang awalnya bermula dari keraguan kini telah berubah menjadi suatu keyakinan.

Kini diriku telah dikarunia Allah darinya putra-putri buah cinta kami. Bertahun-tahun ia setia menenami diriku belajar di Kota Nabi hingga meraih Doktoral. Berbagai halangan dan rintangan hidup kami hadapi bersama. Suka dan senang, bahagia dan derita, semua semangkin mengekalkan cinta kami.

Sungguh ku bersyukur pada Allah yang telah memilihkan untukku istri sholehah, semoga cinta ini berkekalan hingga nyawa memisahkan kami. Sebagaimana ia adalah bidadari duniaku, kuharap kelak ia pula menjadi bidadariku di akhirat.

Hari ini adalah tanggal 9 Zulhijjah 1437 hijriyah. Aku berada di antara lautan manusia yang sedang wukuf. Senja di Padang Arafah masih tetap seindah dulu. Mengingatkanku pada peristiwa masa lalu. Di tempat inilah kutengadahkan dua tangan ini, merintih dan berharap pada Ilahi agar memilihkan ia menjadi pasanganku, mendampingi hidupku selamanya.

Matahari tenggelam diiringi lantunan talbiyah dan takbir. Jama’ah haji bergerak meninggalkan Arafah. Entah berapa banyak doa-doa yang naik ke atas dikabulkan. Entah berapa banyak genangan air mata tobat dan penyesalan yang diampunkan. Entah berapa banyak pula leher-leher hamba yang dibebaskan dari neraka pada hari ini.

Duhai Tuhan…
Berilah kami istri-istri dan anak keturunan yang membuat senang mata-mata kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

* diambil dari kisah nyata seorang da’i-hafizahullah

Batam, 16 Muharram 1438/17 Okt 2016
———————————-
Abu Fairuz Ahmad Ridwan My.

Tulisan Terkait Lainnya