Senja di Padang Arafah – bag 4

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 8 October 2016
Kategori: Kisah

 

SENJA DI PADANG ARAFAH
KISBUNG(Kisah bersambung bag 4)

MELAMAR

Begitu cepatnya gugusan hari-hari berubah menjadi bulan, dan bulan pun berubah menjadi tahun. Selaksa peristiwa memenuhi catatan hidup anak manusia. Ada kisah suka cita, ada pula kisah tangis dan tawa. Ada yang lahir ada pula yang wafat. Ada yang menikah ada pula yang bercerai. Susah dan senang senantiasa dipergulirkan untuk menguji iman manusia.

Orang beriman sangat meyakini bahwa dibalik kesusahan akan terlahir kemudahan. Menurut mereka tiada banjir yang tak kering, tiada benang kusut yang tak dapat diurai, tiada kemarau panjang tak berhujan. Segala kejadian hidup senantiasa ia sikapi dengan baik. Bila datang kenikmatan berantai ia tak kan lalai mensyukurinya. Bila datang ujian bertubi-tubi ia sabar menghadapinya dan meyakini dibalik semua ujian terkandung hikmah yang besar dan kebaikan yang banyak.

Liburan musim panas kini datang lagi. Tahun ini aku harus pulang ke Indonesia untuk mewujudkan mimpiku berumah tangga. Meskipun tesis belum rampung ku garap, tapi aku harus tetap pulang berlibur. Tidak harus memaksakan diri menyelesaikannya dengan tergesa-gesa. Sudah menjadi kebiasaan di universitasku bahwa waktu tercepat mahasiswa dapat kelar menyelesaikan tesisnya adalah tiga tahun, kalaupun belum tuntas maksimal maka mahasiswa diberi tenggang waktu hingga empat tahun. Kini aku sudah menjalani program ini dua tahun, masih bersisa satu hingga dua tahun lagi untuk merampungkannya.

Universitas Madinah-sepengetahuanku-adalah universitas terlama dalam memberikan gelar S2 dan S3. Untuk merampungkan magister membutuhkan waktu 4 tahun dan untuk Doktor 6 tahun. Semua dalam upaya universitas untuk mengeluarkan alumni yang benar-benar berbobot dan teruji dengan karya-karya mereka yang berkwalitas.

Tiba di indonesia aku tak kuasa bersabar lama untuk tidak menyatakan maksud hatiku untuk melamar gadis itu. Begitu kuat keinginan itu, menggebu-gebu, dan membuncah alam pikirku dan harus kuungkapkan.

Waktu bertemu abangnya jantungku berdebar keras ketika mulai menjurus kepada pembicaraan yang telah lama kususun-susun di rumah. Seolah-olah lisanku menjadi kelu tak dapat kugerakkan. Segala kalimat indah semuanya berantakan tak terarah. Wajahku memerah dan nada suaraku menjadi parau. Keahlianku dalam berorasi dan berbicara semua hilang entah kemana. Dengan susah payah dan terbata-bata akhirnya aku berhasil juga mengutarakan hasrat hati ini untuk melamar adiknya.

Kucoba membaca ekspresi wajahnya mendengar ungkapan jujurku. Alhamdulillah ia tidak tersinggung maupun marah, bahkan rona wajahnya melukiskan kegembiraan mendengar berita ini. Bak kata pepatah” puncuk dicinta ulam pun tiba” ternyata ia pun berharap demikian dan berjanji akan segera menyampaikan lamaranku pada pihak keluarganya.

Rembulan menyembul diantara awan yang berarak. Sinar peraknya menerangi bumi menyibak pekatnya malam. Begitu pula secercah sinar harap telah pula masuk menerangi cela-cela hatiku yang kelam dalam kegalauan sebelum lamaran itu kusampaikan. Semua urusan akhirnya kuserahkan kepada Allah Tuhan Yang Maha Bijak dengan segala ketentuan dan keputusanNya. Manusia hanyalah berharap dan berikhtiar, tetapi Dia Yang Di Atas jua penentu segalanya.

Islam menghalalkan pernikan dan mengharamkan perzinahan. Segala sarana yang menjurus ke zina dilarang Oleh Allah. Tidak dibolehkan bagi seorang lelaki yang tertarik pada wanita untuk bebas bergaul dengannya, berduaan,berpacaraan, bersentuhan..dst. Dalam Islam jika seorang lelaki tertarik pada perempuan, seyogyanya ia menjelaskan pada walinya, baik langsung maupun dengan perantara.

Laki-laki yang tertarik pada seorang wanita atau sebaliknya, tidak terlarang untuk mengungkapkan keinginannya menikah atau dknikahi orang yang dia harap. Tidak baik memendam perasaan dan hanya berdiam diri. Banyak kudengar ratapan “para pengecut” yang hanya berani berandai-andai mencintai seseorang dalam diam akhirnya kecewa tatkala wanita yang diharap telah menjadi milik orang lain.

Aku sangat terkesan sekali dengan keberanian seorang wanita sahabat yang datang kepada Nabi memintanya agar sudi menikahinya, meskipun akhirnya ia tidak bersanding dengan baginda Rasul, tetapi ia telah membawa pesan abadi kepada ummat tentang bolehnya mengungkapkan keinginan menikah atau dinikahi orang yang diharap baik agama dan akhlaknya.

Akhirnya berita lamaranku telah sampai ke telinga kedua orang tua dan keluarganya. Semua menerimaku dengan tangan terbuka. Hanya si gadis yang belum mengetahui informasi ini , karena ia tidak tinggal di kampung. Sejak kuliah ia memilih kost di kota yang berdekatan dengan kampusnya. Tinggallah kewajiban Abangnya untuk berangkat kepadanya membawa berita ini.

KECEWA

Jalan hidup ini tidaklah selalu datar, kan ada masanya sang musafir harus berjalan mendaki bukit, menuruni lereng, menyisir lembah dan ngarai.

Seringkali keinginan hati tak bersesuaian dengan realita hidup, sebagaimana arah kemudi tak selalu selaras dengan arah angin. Terkadang nakhoda arahkan kemudi ke Barat, namun angin membawa perahu layarnya ke arah barat.

Siang itu sahabatku bertemu dengan adiknya. Setelah berbual-bual melepas rindu, ia menyampaikan perihal lamaranku.

“Abang punya seorang sahabat kental teman sepermainan ketika nyantri di pesantren. Orangnya baik, berprestasi dan berkarakter. Hubungan kami layaknya kakak beradik sejak dulu. Kini ia berstatus mahasiswa magister di Universitas Islam Madinah. Ia hanya pernah sekali melihatmu sesaat ketika engkau duduk di meja kasir showroom. Ia tertarik dan ingin melamarmu. Harapannya engkau dapat menemaninya untuk menyelesaikan program magister dan doktoralnya di kota Nabi. Menjadi pendamping hidupnya dan ibu bagi anak-anaknya kelak. Semua keluarga kita mendukung, dan kuharap engkau tidak mengecewakan harapannya”.

Sesaat gadis itu terdiam kaget tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bukanya ia tak sudi menerima pinangan tersebut dan membahagiakan keluarga dan orang tuanya, masalahnya ia sedang menjalani proses ta’aruf ( penjajakan) dengan seorang pemuda tamatan King Abdul Aziz Riyadh-ibu kota Saudi Arabia. Pemuda itu telah lebih dahulu menyampaikan lamaranannya melalui salah seorang kerabat dekat sang gadis. Hati kecilnya menerima lelaki yang baik dan tampan itu. Wanita mana yang tak senang mendapatkan pendamping lelaki sholeh, tampan dan alumni timur tengah meskipun baru bergelar LC.

Belum lagi satu permasalahan,kini telah muncul pula masalah baru. Ia dihadapkan pada pilihan sulit, namun satu hal yang pasti bahwa ia telah mengetahui wujud lelaki pertama yang datang melamarnya. Adapun lelaki kedua hanyalah teman abangnya yang tidak pernah dia ketahui wujud dan bentuknya.

Dengan berat hati ia berkata:” bang…
Seandainya ia datang lebih awal, pasti ku tak ragu untuk menerimanya meski belum melihat orangnya, tapi karena ia datang terlambat, hatiku berat untuk menerimanya.

Sahabatku kecewa dengan ungkapan adiknya, sekalipun keputusan itu barulah sepihak belum diketahui keluarganya. Ia yakin semua keluarga besarnya pasti kan kecewa. TIdak bisa dipungkiri, diantara semua yang kecewa maka akulah orang yang paling kecewa mendengarnya.

Malam itu ku tak kuasa memejamkan mata. Cuaca diluar begitu dingin menusuk tulang. Mendung bergelayut pertanda akan segera turun hujan. Semendung hatiku yang remuk redam mendengar laporan sahabatku tadi siang.

“Duhai Tuhan..ajarkan hati ini untuk selalu berhusnuz zhan dengan goresan tinta dari pena takdirku yang telah mengering….
Lapangkan dadaku dan berilah pengganti musibah yang telah aku alami”.

Bersambung….

Batam, 4 Muharram 1438/ 06 Okt 2016
—————————————————-
Abu Fairuz Ahmad Ridwan My

Tulisan Terkait Lainnya