
Bismillah..
Keikhlasan dan mengikuti sunnah Nabi dua hal yang tak boleh lepas dari satu pendidikan. Sehebat dan sebesar apapun pendidikan, akan hancur dan hilang keberkahannya dengan hilangnya satu atau kedua dari syarat di atas.
Pertama, niat ikhlas untuk apa membangun satu lembaga, apakah niatnya untuk meninggikan kalimat Allah, mengajari manusia untuk ikut tuntunan Rasulullah, atau tujuan utamanya adalah keuntungan dunia dengan segala embel-embelnya, seperti ketenaran, popularitas, pujian dan sanjungan manusia? .
Bilamana ikhlas mengiringi setiap langkah pemilik kebijakan, pengurus yayasan, staf guru dan semua pendukung institusi, maka keberkahan yang harusnya mengiringi lembaga tersebut akan menghilang sesuai dengan kadar keikhlasan yang ada. Bilamana keikhlasan hilang tak bersisa, keberkahan kan habis terangkat pula.
Kedua, adalah upaya lembaga dan seluruh anggota di bawahnya untuk mengikuti total sunnah Nabi, dalam hal, manhaj, ibadah, mua’malah dan akhlak karimah.
Sekuat apa mereka berpegang teguh pada sunnah, sekuat itu pulalah lembaga kan bertahan dengan berkah, selemah apa mereka berpegang dengan sunnah, akan selemah itu pula tegak kokohnya lembaga bersangkutan.
LEMBAGA KEHILANGAN ARAH
Semua lembaga, yang tidak mengarahkan kompas dan petunjuknya pada dua syarat di atas, cepat lambat akan runtuh, meski didukung dengan berbagai fasilitas hebat, finansial yang kuat serta sumber daya manusia yang beken.
Lambat laun lembaga yang kehilangan arah tersebut kan terperosok dalam jurang perselisihan, perpecahan, saingan kepentingan yang akhirnya melenyapkan eksistensi lembaga itu.
Betapa banyak lembaga yang pernah tegak puluhan tahun, tersohor dan terkenal akhirnya lenyap disebabkan runtuhnya keikhlasan dan panduan sunnah.
BILA DUNIA JADI TUJUAN
Terkadang secara tak sadar, lembaga yang awalnya menghusung ikhlas dan sunnah,dan telah tampak kontribusinya yang sarat pada kaum muslimin, tergerus niat ikhlasnya karena godaan dunia fana, yang akhirnya berlomba-lomba untuk mengejarnya.
Dunia pendidikan berbasis agama, kini menjadi lahan subur yang diminati para pecinta dunia untuk berlomba-lomba mencari dunianya dengan kemasan dakwah.
Melihat minat para orang tua yang cenderung ingin memasukkan anaknya ke sekolah berbasis agama, dan membludaknya murid-murid di setiap sekolah berbasis sunnah, maka para pemodal, orang-orang kaya pun berjibun membangun sekolah berbasis pesantren, madrasah dan sejenisnya.
Hakikatnya ini fenomena yang menggembirakan dan pertanda diterimanya dakwah sunnah di kalangan masyarakat awam.
Namun dibalik kegembiraan tersebut, ada hal yang perlu selalu diwaspadai, dan diantisipasi, yaitu perkara niat agar menjadi prioritas utama untuk tetap dijaga. Bilamana niat di tiap lembaga melenceng, maka kan muncul persaingan yang tidak sehat dan permusuhan.
Awalnya setiap lembaga seyogyanya bersinergi dengan lembaga lainnya-bilamana telah memproklamirkan tegak di atas jalan dakwah- tidak kan saling bermusuhan satu sama lain, namun akhirnya karena niat tak lurus, akhirnya berebut anak didik bahkan berebut pengaruh dan saling bersaing memperebutkan guru pengajar dengan iming-iming gaji yang tinggi, dan fasilitas yang terjamin.
Tak hanya sampai di situ, bahkan setiap lembaga bersaing memperebutkan nama para ustadz yang keren dan beken, yang berstatus Profesor, Doktor, LC, MA untuk dijadikan penglaris dagangan, menghias brosur dan pemikat calon wali murid bahwa lembaga yang bersangkutan dibawah bimbingan dan pengawasan orang hebat, meski hakikatnya hanya sekedar nama yang dicatut, sementara realitanya sepak terjang lembaga tersebut tidak diketahui oleh orang yang namanya dijual tersebut.
BUAT LEMBAGA UNTUK APA?
Idealnya membuat lembaga diniatkan untuk mencari wajah Allah, untuk menjadi pemberat timbangan amal sholeh di hari hisab, untuk meraih ganjaran tak terputus setelah jasad hancur terkubur dengan ilmu yang bermanfaat dari para anak didik, untuk sarana membawa orang banyak pada jalan hidayah dan syurga.
Bagaimana bilamana tujuannya selain untuk hal di atas juga untuk meraih dunia, kekayaan dan ketenaran, apakah boleh?.
Untuk menjawabnya perlu diberikan permisalan yang kita ambil dari Al-Quran dalam hal ibadah haji.
Ibadah haji diperintahkan Allah agar dilakukan semata untuk Allah, dalam firmannya yang artinya ”dan hendaknya hanya karena Allah saja diwajibkan bagi manusia untuk melaksanakan ibadah haji bagi siapa saja yang memiliki kemampuan” (Qs: Al-Imran :97)
Namun meskipun demikian , Allah izinkan siapa yang pergi haji untuk bersambang demi mencari penghidupan dan karunianya dalam firmannya: ”tidaklah ada dosa bilamana kalian mencari karunia dari Rabb kalian, namun bilamana kalian telah bertolak dari padang Arafah maka perbanyaklah berzikir manaka kalian berada di masy’aril haram( Muzdalifah) dan berzikirlah untuk mengingatnya walaupun sebelumnya kalian dahulu dari golongan orang yang tersesat” ( Albaqarah: 198).
Dari dua ayat disimpulkan bahwa tujuan ibadah haji haruslah hanya untuk Allah, namun hal demikian tidak menghalangi orang untuk juga berniaga mencari peruntungan dunia.
Demikian juga dengan lembaga pendidikan dan dakwah, wajib menjadikan tujuan satu-satunya karena Allah semata, tidak untuk yang lainnya, namun bilamana niat yang sudah benar tersebut terhujam, tidak masalah bilamana lembaga yang bersangkutan juga berupaya untuk dapat memberi penghidupan yang layak bagi anggotanya, agar mereka dapat penghasilan untuk mai’syah dan kebutuhan hidup mereka dari SPP dan iuran yang dikenakan pada anak didik mereka.
Sebagaimana haji tampa bekal materi tidak akan pernah terwujud, maka pendidikan tampa didukung materi juga tidak akan berjalan.
Dukungan materi bisa diambil dari SPP, bisa juga dari muhsinin dan donatur, atau dari hasil usaha lembaga dan seterusnya, selama dikelola dengan amanah dan jujur.
Terakhir pesanku untuk semua pengelola lembaga pendidikan dan pemilik lembaga pendidikan, banyak-banyaklah mengevaluasi niat dan bermuhasabah, kau membangun itu semua untuk apa dan untuk siapa? Bila untuk dirimu dan kebesaran dan duniamu, maka engkau keliru, namun bila hanya untuk Allah semata semoga hal itu menjadi jalan mu meraih syurga.
Jakarta, 22 Muharam 1447/ 18 Juli 2025
Abu Fairuz Ahmad Ridwan My