Jalan-jalan hidayah

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 21 November 2014
Kategori: Akhlak

 

Begitu berliku jalan-jalan hidayah yang ditapaki seseorang untuk kembali kepada fitrahnya. Ada yang kembali setelah penyakit menderanya, ada yang kembali setelah musibah datang menghabiskan hartanya, ada yang kembali setelah mendengar radio di kendaraannya, ada yang kembali setelah menyaksikan acara dakwah di televisi sunnah, ada yang melalui teman dan seterusnya…

Lelaki itu hidup di tengah-tengah keluarga dan sanak famili yang kaya raya. Rata-rata keluarganya adalah pemilik toko-toko emas di negeri kami. Tidak heran tatkala ia kecipratan kekayaan mereka. Dengan modal bekerja beberapa tahun di toko emas mereka, ia berhasil mengumpulkan modal untuk memulai usaha emas sendiri.

Tanpa terasa kini ia memiliki dua toko emas di salah satu pasar basah yang padat pengunjung setiap harinya. Ia telah dianggap berhasil menjadi pengusaha emas yang sukses. Hanya dalam tempo beberapa tahun saja, omzetnya bertambah dan keuntungan emasnya kiloan pertahun. Kala itu dirinya telah diperhitungkan sebagai salah satu pengusaha emas yang berhasil.

Dengan keberhasilannya, maka tidak sulit baginya untuk mendapatkan pendamping hidup yang cantik dan kaya. Di kampungnya dia berhasil mempersunting seorang wanita cantik yang telah menyelesaikan kuliahnya di keperawatan. Sempurnalah kebahagian yang dia rasakan.

Berhubung sang istri sedang menjalani masa praktek lapangan, terpaksa ia harus rela meninggalkan istrinya di kampung dan kembali bekerja melakoni usaha jual beli emasnya di kotanya.

Berpisah dengan istri tercinta membuat ia merasa begitu tersiksa. Dengan segala perasaan ia harus rela menjalani hari-hari yang sunyi tanpa istri. Sulit baginya untuk melupakan wanita itu. Sejak kepulangannya dari kampung hatinya serasa terpasung bersama istrinya. Ia benar-benar merasa menjalani kehidupan yang hampa dengan setengah jiwa. Jika malam telah tiba serasa ingin rasanya terbang untuk menjemput sang bidadarinya.

Kesunyian benar-benar telah membuatnya pusing tujuh keliling. Untuk menghabiskan malamnya, iseng-iseng ia mulai mengumpulkan kawan-kawan yang dapat menghibur kegalauan hati yang gersang . Mulailah mereka berjudi yang lambat laun ia nikmati karena dianggapnya dapat menghibur kekosongan hatinya.

Kini malam-malam yang panjang dia habiskan di tempat-tempat perjudian. Tidak cukup berjudi, ia juga telah larut menjadi pengunjung tetap beberapa cafe-cafe dan night club dan tempat- tempat karaoke. Dengan hal-hal itulah ia merasa terhibur dan dapat melupakan masalahnya.

Dunia malam telah menjadi bagian dari hidupnya. Pola hura-hura dan menghambur-hamburkan harta telah melekat menjadi karakternya. Dengan uang yang banyak, ia begitu mudah mengumpukan kawan-kawan yang setia menemaninya. Bahkan ia tidak lagi konsen dengan toko emasnya, usaha emas yang dibina dari awal kini diabaikan dan ditinggalkan .

Segala sepak terjang dan tingkah lakunya…telah sampai pula beritanya ke kampung halamannya dan diketahui istri dan mertuanya. Betapa malunya mereka memiliki menantu seorang penjudi dan pemabuk, sungguh tingkah lakunya telah mencoreng nama baik mereka.

Dengan segala harap, ia pulang ke kampung untuk menemui istri tercintanya. Tetapi apa yang terjadi, subhanallah…..mertuanya tidak mau menerima kedatangannya. Dengan paksa dia memerintahkan lelaki ini untuk menceraikan putrinya. Inna lillahi wa inna ilahi rajiun.

Ia terpaksa pulang dengan membawa malu yang besar, Sungguh peristiwa itu telah menghancurkan segala harapannya untuk memboyong istri tercinta. Dengan langkah gontai ia pulang dengan membawa kepedihan dan kesedihan.

Semuanya memang salahnya.. semuanya memang disebabkan dosa-dosanya. Begitu pahit pil perpisahan itu ia rasakan, membuat dirinya serasa tak berguna lagi hidup di dunia.

Sejak saat itu ia benar-benar tidak peduli lagi dengan toko emasnya yang menyebabkan usahanya tumpur dan dilecehkan keluarga besarnya. Begitu kejam baginya dunia, dan begitu seram masa depan yang akan dia hadapi.
Ia enggan pulang ke rumah, hidup luntang-lantung di pasar-pasar bagaikan makhluk gembel tak memiliki sanak keluarga. Bahkan untuk tidurpun ia terkadang harus tidur di emperan-emperan toko di pasar…subhanallah, begitu cepatnya perkara dunia ini berubah.

Ia marah dan dendam, tetapi tidak tau kemana harus diarahkan, ia benci dan murka tetapi tidak paham kepada siapa dia tujukan. Bukankah semuanya disebabkan kesalahan fatal yang dia lakukan…?? bukanlah seluruhnya akibat dosa-dosanya..?.

Pernikahan pertamanya gagal,dan kini ia kembali mengalami kegagalan kedua beristrikan wanita malam yang dahulu dia temui dan kenal di salah satu tempat mangkalnya tatkala sisa-sisa kekayaan belum punah seluruhnya. La haula wala quwwata illa billahi.

Di dalam keterombang-ambingannya, ia mengenal seorang ikhwan yang berhasil mengangkatnya dari lumpur kegagalan dan kemaksiatan untuk kembali kepada fitrah Islam. Ia diajak kerja sama untuk mengelola usaha shipyard. Sungguh besar jasa ikhwan tersebut yang telah mengenalkannya pada kajian-kajian sunnah. Hidayah mulai menyinari relung hatinya yang gelap dengan maksiat. Secara bertahap dia mulai condong kepada kajian-kajian sunnah, meskipun perubahan itu tidak secara sekaligus mampu dia lakukan.

Terkadang tarikan magnet kebaikan lebih kuat menariknya untuk menghadiri halaqah-halaqah, terkadang lepas kajian ia dipanggil big boss nya yang non muslim untuk menghantarkan uang di cafe-cafe dan diskotik- diskotik sehingga seolah ia ditarik kembali kepada habitat lamanya.

Cukup lama pertarungan antara haq dan batil berperang di hatinya. Di satu sisi big boss muslim yang taat dan menjadi jalan penghantar hidayah baginya, senantiasa mengajaknya kepada kebaikan dan kajian-kajian ilmu, baik yang diadakan di rumah, di perusahaan maupun di masjid markaz dakwah ahlus sunnah.Di sisi lain teman-teman lama dan big boss keduanya yang non muslim menggiringnya kepada kemaksiatan dan dunia kelam yang dulu digelutinya.

Kini lelaki itu kulihat telah benar-benar kembali kepada fitrahnya dan selalu tiap subuh menghadiri kajian-kajian rutin, alhamdulillahi rabbil alamin. Kulihat dia senantiasa membawa buku-buku agama dengan wajah yang teduh dan senyum bahagia. Wajah yang kusut masai dengan maksiat telah berganti wajah yang teduh. Teman-teman lama yang merupakan syaitan berwujud manusia telah berganti dengan teman orang-orang sholeh yang merindukan surga.

Majlis judi dan khamar telah berganti dengan majlis ilmu taman-taman surga. Kini dia telah dianugerahkan seorang istri yang baik-insyallah- dan telah pula dikarunia anak, bahkan hidayah yang dia dapatkan disempurnakan dengan mengikuti perjalanan ritual ibadah umrah ke tanah suci.

Subhanallah…maha suci Tuhan yang membolak balikkan hati manusia. Semoga Allah menjaganya dan kita semua untuk dapat istiqomah di atas ketaatan hingga akhir hayat.

Batam, 28 Muharram 1436/ 20 Nov 2014-11-20

Abu Fairuz

Tulisan Terkait Lainnya