Bagai Kacang Lupa Kulitnya

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 8 September 2016
Kategori: Akhlak

 

” Fenomena Alumni Wahabi mencela Wahabi”

Agama ini selalu mengajari kita untuk berbuat ihsan, membalas kebaikan dengan kebaikan. “Orang yang tak pandai bersyukur pada makhluk, tak kan pandai bersyukur pada Sang Khaliq” . Itulah pesan Nabi kita.

Sungguh tercela orang yang membalas kebaikan dengan keburukan, membalas susu dengan air tuba, membalas madu dengan empedu.

Binatang sekelas anjing saja, tau berterima kasih pada tuan yang membesarkan dan memeliharanya, apatah lagi manusia yang diberi akal dan perasaan. Hanya orang yang tak punya akal dan perasaan saja yang tiada peduli pemberian dan membalasnya dengan kejelekan.

Perumpamaan orang tak tau bersyukur dan kufur nikmat terhadap pemberi nikmat, bagaikan seseorang yang membesarkan anak singa, tatkala ia besar dan dewasa maka tuannya ia terkam dan cabik cabik.

Aneh bin ajaib jika ada seorang alumni salah satu universitas Wahabi begitu gencarnya mempropagandakan anti wahabi. Entah berapa banyak Riyal Saudi yang telah makan. Entah berapa banyak fasilitas belajar dari negeri wahabi yang dia nikmati dan entah berapa banyak gelor Doktor pemberian negeri Wahabi dia manfaatkan.

Tidak cukup sekedar propaganda anti Wahabi, lebih dari itu ia memproklamirkan di mana-mana bahwa semua teroris di RI adalah Wahabi. Dengan kata lain bahwa Wahabi adalah gudang dan dalang untuk semua gerakan terorisme dan radikaliame.

Belum puas sampai di situ, bahkan ia membuat imej bahwa keberadaan pesantren-pesantren salaf yang mengajarkan agama dan akidah yang murni tanpa embel-embel bid’ah, membahayakan dan harus ditutup.

Apakah Wahabi ancaman bagi NKRI?. Jawabnya tidak, ia adalah hanyalah ancaman bagi para “tekong” bid’ah hasanah. Ancaman bagi kejumudan berfikir dan taklid buta kepada para punggawa kaum tradisionil yang kukuh mempertankan khurafat, takhayyul, dan kesyirikan.

Membendung arus Wahabi bagi mereka adalah upaya menjaga pengaruh dan eksistensi mereka yang bakal hilang ketika ditinggalkan para pengikut. Plus menjaga agar “dapur mereka tetap berasap”. Menjaga kepentingan politik kelompok tertentu agar langgeng meraih kekuasaan sekalipun ia kafir ataupun munafik.

Sebab Wahabi tak dapat dibeli, terbiasa memiliki jiwa yang merdeka tak mau diperbudak. Tak punya rasa takut kecuali pada Allah. Tidak haus kekuasaan dan dunia. Selalu mendukung segala kebaikan yang dilakukan penguasa. Menasehati mereka dengan bijak dan santun. Mendoakan kebaikan untuk mereka. Mengharamkan pemberontakan kepada penguasa muslim. Bersabar atas kezaliman mereka. Apakah layak yang seperti ini dikatakan ancaman untuk NKRI..??

Siapa dan apa itu wahabi ? Marilah kita baca apa yang dikatakan Buya Hamka dalam bukunya “Perbendaharaan Lama”:

Memang sejak abad kedelapan belas, sejak gerakan Wahabi timbul di pusat tanah Arab, nama Wahabi itu telah menggegerkan dunia. Kerajaan Turki yang sedang berkuasa takut kepada Wahabi. Karena Wahabi adalah permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya akibat serangan bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. Dan Wahabi pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah, karena apabila dia masuk ke suatu negeri, dia akan membukakan mata penduduknya untuk menentang penjajahan. Karena paham Wahabi meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik. Disebabkan hal itu timbullah perasaan bahwa tidak ada yang harus ditakuti kecuali Allah. Wahabi menentang keras sikap jumud, yaitu kebekuan dalam memahami agama. Orang harus kembali kepada Al-Qur`an dan Al-Hadits.”

Inilah hakikat wahabi yang ditakuti bangsa-bangsa penjajah di nusantara sebelum merdeka dan di seluruh dunia Islam.

Ia melahirkan para pahlawan, bukan penjilat. Melahirkan tokoh bukan “penokoh”, merekalah pilar-pilar kebangkitan Indonesia dan penentang penjajah yang gigih berjuang demi akidah bangsa agar merdeka hanya menjadi hamba Allah dan tidak tunduk di bawah penjajah kaum kuffar.

Bila pohon tumbuh benalu
Alamat ia kan segera mati
Bila tuan tiada bermalu
Sila berdusta sesuka hati

Rama-rama terjerat sayap
Sangkut di sarang si laba-laba
Fikir dahulu sebelum berucap
Sesal kemudian tiada berguna

Burung dara burung tekukur
Dijerat oleh putera panglima
Orang berbudi pandai bersyukur
Diberi nikmat tiada lupa

Mentari terbit di ufuk timur
Indah nian bias sinarnya
Orang keji tak tau bersyukur
Bagai kacang lupa kulitnya

—————————————-
Mekah, 4 Zulhijjah 1437 / 6 Sept 2016

Abu Fairuz Ahmad Ridwan My.

Tulisan Terkait Lainnya