Bercermin dari Kayu Gaharu

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 1 February 2016
Kategori: Kisah Tags:

 

BERCERMIN DARI KAYU GAHARU

Bismillahi..

Betapa mahalnya nilai kayu Gaharu. bisa dihargai puluhan bahkan ratusan juta per kilo. Tahukah anda apa yang membuat ia mahal? Jawabnya adalah karena harumnya yang begitu semerbak. Ketika anda membakarnya sedikit di tungku perapian, ia akan mengeluarkan harum yang begitu dahsyat dan mempesona. Untuk itulah kayu ini diburu sampai ke dalam hutan belantara. Karena harganya yang meroket.

Bagaikan kayu gaharu yang menjadi harum semerbak setelah dibakar, demikian juga dengan kehidupan di dunia ini. Segala kenikmatan, keberuntungan dan kejayaan baru kan diperoleh setelah proses panjang yang melelahkan.

Berbagai sandungan, rintangan, tantangan akan senantiasa mengiringi mukmin untuk mencapai kejayaan.

Jika bukan karena diusir dari negeri Mekkah tiada wujud Madinatun Nabi sebagai basis pemerintahan Islam awal yang darinya tersebar cahaya hidayah ke seluruh penjuru.

Jika bukan karena Ibrahim terusir dari Babilonia, tak kan ada sejarah Baitul Maqdis di Palestina.

Jikalah tanpa pengorbanan Hajar dan Ismail yang ikhlas ditempatkan Ibrahim- atas titah Allah-di lembah yang tandus dan kering, tak kan ada yang namanya Ka’bah dan Masjidil Haram.

Jikalah tidak dibuang di sumur, dijual sebagai budak, difitnah istri menteri, dan dipenjara bertahun-tahun tanpa proses dan tanpa kesalahan, tiada kan pernah ada kisah kejayaan Yusuf menjabat sebagai orang penting dan bagian dari penguasa Mesir.

Dalam hidup ini kan selalu ada berbagai bentuk ujian dan penderitaan untuk menentukan siapa hakikat seseorang. Tanpa ujian tiada kan dapat dibedakan mana pemenang dan mana pecundang, mana pengkhianat dan mana pahlawan.

* * *

Lelaki itu sedang di rumah bersama keluarganya di Irak, tiba-tiba anaknya datang memberitahukan kedatangan tentara Dinasti Abbasiyah telah memancangkan panji hitam di seluruh kota untuk mencari dirinya.

Sebagai salah satu keturun dari Dinasti Bani Umayyah yang baru digulingkan oleh Dinasti Abbasiyyah, ia layak mati menurut kebijakan penguasa kala itu. Mereka yang berpotensi memberontak dan menuntut balas atas kekalahan mereka, wajib dimusnahkan.

Lelaki itu bernama Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam Bin Abdul Malik -cucu dari para khalifah-khalifah dinasti Bani Umayyah sebelumnya.

Ia melarikan diri membawa saudaranya Khalid bin Muawiyah yang berusia 13 tahun di tengah kejaran pasukan pemerintah. Tiada jalan lain kecuali keduanya harus menceburkan diri ke sungai Eufrat dan berenang menjauh dari pasukan.

Dari kejauhan ia melihat tentara memanggil-manggil dirinya dan saudaranya agar kembali dan menyerah. Keduanya dijanjikan tidak akan dibunuh. Saudaranya Khalid bersikeras untuk kembali, tetapi Abdurrahman menolak dan berkata: “jika kau kembali…niscaya mereka akan membunuhmu”. Tetapi Khalid telah kelelahan berenang dan iapun kembali. Sesampainya di darat, Abdurrahman menyaksikan dengan mata kepalanya bagaimana saudaranya di khianati dan di bunuh.

Ia terus berenang menjauh menyebrang sungai dengan rasa sedih dan kecewa. Ia terus berjalan menuju Marokko tempat saudara-saudaranya dari jalur ibu. Sungguh perjalanan panjang yang melelahkan. Ia harus menyebrangi panasnya gurun di Hijaz, melewati Mesir, melintas Libia dan Kairowan. Perjalanan yang begitu panjang dari Irak Hingga ke Kairowan di Libia. Ia hanya berjalan seorang diri di tengah bayang-bayang tentara Bani Abbas yang siap menyembelihnya.

Ketika tiba di Kairowan, ia baru menginjak usia 19 Tahun. Di negeri tersebut ia mendapati para pemberontak dari kaum Khawarij di bawah pimpinan Abdurrahman bin Habib menguasai seluruh Afrika Utara. Mereka melepaskan diri dari kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Sementara mereka begitu membenci seluruh keturunan Bani Umayyah yang menurut mereka kafir sejak masa Muawiyah berkuasa.

Kebencian terhadap keturunan dinasti Umawi yang telah mengurat-mengakar di hati kaum Khawarij, membuat mereka segera ingin menghabisi Abdurrahmam ketika mendengar kedatangannya Kairowan.

Mereka mengumpulkan pasukan untuk membunuh Abdurrahman bin Muawiyah yang membuat dirinya terpaksa melarikan diri ke Libia di tempat paman-pamannya di sana.

Empat tahun sudah ia bersembunyi di sana . Dalam persembunyiannya ia terus berfikir, apakah terus bersembunyi hingga kematian datang menjemputnya,atau ia menampakkan dirinya ditengah kaum khawarij yang ingin memisahkan kepalanya di Maghrib Arabi, dan dinasti Bani Abbas yang ingin mengincar kepalanya di daerah timur Syam. Era dimana setiap lelaki keturunan Bani Umayyah dicari untuk dibunuh tanpa kesalahan.

Akhirnya ia memutuskan untuk berangkat menyebrangi lautan ke negeri yang jauh dari dinasti Bani Abbas dan Kaum Khawarij. Ia memutuskan untuk berangkat ke Sepanyol yang kala itu bernama Andalusia.
Negeri itulah yang dianggap aman baginya, apalagi suasana politik yang sedang bergejolak di sana yang membuat ia nyaman dari kejaran.

* * *

Sebelum berangkat ke Andalusia ia memerintahkan budaknya di Andalusia untuk mengumpulkan seluruh keluarga dinasti bani Umayyah yang berserakan, ketika keadaan telah memungkinkan ia berangkat menuju Andalusia dan berhasil menyatukan suku-suku Barbar dan suku-suku Arab dari Yaman. Ia juga berhasil meraih simpati masyarakat selain dari suku-suku di atas yang merindukan kembalinya kejayaan Dinasti Bani Umayyah yang terkenal dengan kebaikan dan kemakmuran dan mensejahterakan rakyat.

Melihat keberadaannya yang mengkhawatirkan penguasa di Andalusia -Gubernur Yusuf Alfihri- maka ia mengerahkan seluruh pasukannya untuk menghabisi Abdurrahman yang sejak masuk ke Andalusia bergelar”Ad-dakhil” yang bermakna imigran.

Pertempuran sengit berkecamuk, suku-suku Yaman yang banyak, ditambah suku Barbar dan keturunan dinasti Bani Umayyah dan simpatisannya bekerja sama hingga berhasil mengalahkan gubernur Yusuf al-fihri yang memulai penyerangan.

Setelah dikalahkannya penguasa Yusuf Alfihri, sejak itu pula seluruh Andalusia takluk di bawah kendali Abdurrahman Ad-dakhil. Kebijksanaan, kelembutan, ilmu dan hikmah membuat ia begitu disegani dan dicintai rakyatnya.

Meskipun berkali-kali diserang dengan badai pemberontakan yang datang silih berganti, namun seluruhnya dapat ditaklukkan dengan bijak dan arif.

Pernah pula khalifah Bani Abbas di Baghdad coba-coba untuk mengirim pasukannya untuk menaklukkan Abdurrahman. Ia mengirim pasukan yang jumlahnya besar, namun dapat dikalahkan nya dan pemimpinnya terbunuh.

Dengan itu tau lah Khalifah Abu Ja’far tidak mampu untuk menaklukkannya, mencaplok dan memasukkannya ke dalam daerah kekuasaan dinasti Bani Abbas.

Bahkan ia memuji dan menjuluki Abdurrhman Ad dakhil sebagai ” Elang Quraisy” . Ia bersyukur dengan adanya lautan yang membatasi antara kekuasaannya dan Kekuasaan Abdurrahman Ad -Dakhil. Jika tidak ia khawatir Abdurrahman Ad dakhil akan mengembalikan kejayaan Dinasti Bani Umayyah di Baghdad.

Mengapa Abdurrhaman Ad-Dakhil, tidak takluk dan ikut serta di bawah kekuasaan Bani Umayyah..?? apakah beliau dianggap pemberontak?? Jawabnya tidak. Kesalahan seluruhnya terpulang kepada Bani Abbas yang ingin membunuh seluruh pria keturunan Bani Umayyah. Abdurrahman tidak punya pilihan, jika ia menyerah dan berikan kekuasaannya kepada mereka, niscaya kepalanya akan dipisahkan dari tubuhnya.

Seandainya Bani Abbas cerdik dan bijak,niscaya mereka akan dapat dukungan dari bani Umayyah. Membiarkan mereka hidup dan menjadikan mereka sebagai menteri atau gubernur, akan meredam gejolak dan menghalangi darah yang tidak bersalah tertumpah.

Lihatlah bagiamana bijak dan arifnya Abdurrahman ad Dakhil, ketika pasukan Bani Abbas tersebut kalah, ketika para personil pasukan Abdurrahman Ad-Dakhil berusaha mengejar mereka dan membunuhi pasukan Bani Abbas yang kalah, Abdurrahman Ad Dakhil melarang mengejar mereka dan membiarkan mereka pergi.

Ungkapannya yang begitu bijak “biarkan mereka dan jangan dibunuh, semoga kelak mereka akan bergabung bersama kita” benar-benar menjadi kenyataan. Berduyun-duyun tentara Bani Abbas dan tentara Gubernur Yusuf Alfihri bergabung menjadi tentaranya.

* * *

Abdurrahman dikenal sebagai orang yang cerdas dan berani. Ia memilih menaklukan Spanyol daripada harus merebut kembali kekuasaan khalifah dari tangan Abbasiyah. Dengan pasukan yang dihimpunnya selama perjalanan, ia kemudian memilih menyerang Cordoba. Dia berhasil menaklukkan kota itu dan kemudian menjadikannya sebagai ibu kota kerajaan.

Sayangnya, sejumlah orang dari bangsa Yamaniyun (Arab Selatan) tidak menghendaki Abdurrahman menjadi pimpinan mereka. Bersama sejumlah orang barbar, mereka pun melakukan pemberontakan.

Ancaman terhadap Abdurrahman tidak hanya dari Dinasti Abbasiyah. Kaisar Romawi yang bertahta di Prancis, Charlemagne juga beberapa kali menyerang Cordoba. Namun berkat kesigapan dan keterampilan Abdurrahman dalam memimpin, pasukan Romawi bisa dipukul balik.

Abdurrahman pun kemudian membangun angkatan bersenjata yang besar yang jumlahnya tidak kurang dari empat puluh ribu personel.

Dia sadar bahwa Andalusia sangat mungkin diserang dari tiga arah di lautan. Oleh sebab itu, dia kemudian membangun armada perang laut yang tergolong sebagai armada yang pertama kali di Andalusia. Armada ini menjadi armada perang laut terkuat di Barat dan Laut Tengah.

Abdurrahman pun tak hanya cakap dalam memimpin pasukannya. Di bawah kekuasaanya, Andalusia mencapai pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi, dan perkembangan peradaban yang sangat pesat. Suatu kemajuan yang belum pernah dicapai oleh Andalusia hingga saat ini. Cordoba bersaing dengan Konstantinopel dan Baghdad dari segi kemegahan, kemewahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan seni. Cordoba kemudian dikenal di barat sebagai sebagai Permata Dunia.

Tiga tahun sebelum meninggal dunia, Abdurrahman merenovasi dan memperluas bangunan Masjid Cordoba. Atapnya disangga oleh tiang-tiang besar yang berjumlah 1293 tiang. Bangunan ini laksana Ka’bah kaum Muslimin di dunia Islam bagian barat. Hingga kini masjid itu masih berdiri megah. Ia termasuk tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan setelah Istana Al-Hamra, sebagai peninggalan sejarah yang menarik.

* * *

Ibarat kayu gaharu yang mengeluarkan harum setelah dibakar… demikian juga kisah-kisah orang-orang besar yang melewati berbagai ujian dan rintangan. Itu yang membuat sejarah mereka menjadi harum di tengah-tengah manusia. Diingat dan dikenang sepanjang masa, ditulis dalam prasasti sejarah ummat manusia.

Tiada tempat kemulian bagi para pemalas, para pecundang dan para pengecut dalam catatan sejarah. Mereka akan musnah dilindas masa dan terkubur di dalam sejarah sebagaimana terkuburnya jasad-jasad mereka.

Kav Seroja-Batam, 20 Rabiul awwal 1437/31 Des 2015

Abu Fairuz

Tulisan Terkait Lainnya