Mutiara Hikmah Kajian Ust Ade Hermansyah

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 26 May 2016
Kategori: Tazkiyatun Nufus

 

Dalam kitab Thariqul Hijratain, Ibnul Qayyim membagi kaya menjadi dua tingkatan:

1. Kaya tingkat rendah, berupa harta benda, emas dan perak, sawah dan ladang, ternak dan lain-lain yang di istilahkan beliau dengan ungkapan “غنى سافل”.
2. Kaya tingkat tinggi, yang disebut ” غنى عال”.

Kedua hal di atas termaktub dalam Alquran:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). QS: Al-Imran: 14.

Maka pemilik emas, perak, kuda, binatang ternak, sawah ladang adalah orang kaya biasa yang tidak memiliki keistimewaan apapun di mata Allah. Mereka itu orang kaya tingkat rendah.

Adapun perasaan apa yang ada pada Allah itu yang terindah dan paling berharga, membuat ia memandang rendah semua kekayaan dunia, maka ialah orang kaya tingkat tinggi.

Kaya tingkat tinggi dibagi menjadi tiga tingkatan:
1. Kaya hati ” غنى القلب “, Yaitu ketika hatinya merasa cukup dengan segala yang ia miliki.
2. Kaya diri” غنى النفس”, yaitu ketika dirinya merasa cukup dengan apapun yang diberikan Allah padanya.
3. Kaya karena merasa memiliki Allah Zat Yang Maha Kaya dan di tangannya segala kekayaan. Inilah kekayaan tertinggi yang membuat seseorang tidak silau dan iri dengan apapun yang dimiliki manusia.

Contoh orang kaya tingkat rendah yang paling miskin di sisi Allah adalah Qarun. Sekalipun ia yang terkaya di zamannya, namun ialah orang paling faqir karena kekikirannya.

Orang yang paling kaya di sisi Allah meskipun ia memiliki seluruh kekayaan dunia adalah Nabi Sulaiman -alaihis salam-.

Kekayaan yang dia miliki berupa kerajaan dunia, tidak berarti dimatanya, karena ia merasa kaya dengan Allah pemilik Alam semesta.

Karena itulah ia tidak perduli mengorbankan kuda-kuda perangnya tatkala dianggapnya melalaikan dirinya dari mengingat Allah dan sholat. Allah berfirman:
إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ

(ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore,

فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ

maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”.

رُدُّوهَا عَلَيَّ ۖ فَطَفِقَ مَسْحًا بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ

“Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. QS: Shad :31-33.

* * *

Banyak orang begitu ambisinya untuk mengejar kekayaan dunia dengan momentum Ramadhan. Maka tidak perlu heran bila ia telah siap-siap jauh hari untuk menyetok barang dagangannya. Bahkan orang kafir pun tidak tinggal diam memanfaatkan momentum tersebut untuk mengeruk laba sebesar-besarnya.

Lepas ramadhan, wajah merah berseri-seri dengan laba dunia yang mereka peroleh, meskipun mereka benar-benar “apes” dari laba akhirat. Satu bulan penuh mereka banting- tulang untuk dunia mereka hingga melalaikan bahagian akhirat mereka.

Orang kaya yang hakiki dengan momentum Ramadhan adalah orang yang berambisi mengejar ganjaran pahala yang dijanjikan Allah. Mereka telah jauh-jauh hari siapkan diri untuk menyambut momentum ramadhan dengan amal sholeh, zikrullah, shaum, qiyamul lail, itikaf dst.

————————–
Batam,17 Sya’ban 1437h/ 24 Mei 2016

AF-AR-MY

Tulisan Terkait Lainnya