Berjiwa besar

Diposting oleh Ustadz Abu Fairuz pada 15 December 2012
Kategori: Akhlak

 

Berjiwa besar

Mukaddimah

Hakikat yang membedakan manusia satu sama lainnya adalah cita-cita, harapan dan target-target dalam hidupnya. Adapun tampilan zahir, anda akan melihat bahwa manusia itu sama bentuk wujudnya,sekalipun bebeda ras, etnis, bahasa dan warna kulit, masing-masing punya kepala, dua mata, dua telinga, satu hidung dengan dua lubang, satu mulut dengan dua bibir dan satu lisan,dua tangan dan dua kaki,dst….

Dalam pekerjaan dan memilih profesi contohnya, sebagaian orang rela hanya sampai pada tingkat helper ataupun operator, di sisi lain ada orang-orang yang tidak pernah merasa puas kecuali menjadi general maneger.
Dalam dunia sekolah ada siswa yang merasa begitu gembira dengan nilai 7 yang dia peroleh dalam ujian, sementara ada siswa lain yang merasa sedih sekalipun telah mendapatkan nilai 9 dalam materi itu.

Dalam ibadah contohnya, ada yang hanya rela jika telah melaksanakan kewajiban-kewajiban semisal sholat, puasa, zakat dll..sementara ada orang-orang yang tidak rela kecuali menambah kewajiban dengan amalan-amalan sunnah, seperti memperbanyak sholat sunnah, puasa sunnah, infaq sunnah dst.

Dalam hal keimanan, Allah-subhanahu wa taala- telah mengklasifikasikan manusia menjadia tiga bagian; ada kelas “sabiqun bilkhairat” yang senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan, ada kelas “muqtasid” yaitu orang-orang yang hanya rela dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban, dan adapula kelas “zalimun linafsih. Semua ini menunjukkan berbedanya cita-cita, target dan harapan manusia.

Allah berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”.QS. Faathir:32.

Dalam hal persepsi melihat dunia, anda akan mendapati begitu beranekanya pola pandang manusia dan penilaiannya terhadap hakikat dunia. Ada orang-orang yang cita-cita, harapan dan impiannya berhenti pada dunia , namun ada orang-orang yang cita-citanya menembus dunia fana ini, melanglang buana ke negeri akhirat.

Dunia binatang

Jangankan pada manusia, binatang-binatangpun memiliki keinginan dan harapan yang berbeda-beda yang menunjukkan kelasnya. Laba-laba contohnya,sejak lahir akan membuat sarangnya sendiri tanpa pernah membutuhkan bantuan ibunya. Adapun ular yang memiliki tabiat jelek, senantiasa bersarang dalam lubang yang dibuat binatang lainnya.

Jika gagak tidak hinggap kecuali pada bangkai dan dan lalat pada kotoran, maka elang tidak akan hinggap memangsa kecuali hewan yang hidup dan lebah tidak hinggap kecuali pada sari dan serbuk bunga.

Cita-cita empat pemuda Quraisy

Suatu ketika, berkumpul Abdullah bin Umar, Urwah bin Zubair, Mush’ab ibn Zubair dan Abdul Malik bin Marwan di halaman Ka’bah dan semuanya adalah pemuda Quraisy; Mush’ab mulai mengangkat pembicaraan: bercita-cita dan berandai-andailah ! serentak mereka menjawab: kamu saja yang memulai !, maka berkata Mus’ab: aku bercita-cita inggin menjadi gubernur yang menguasai Irak, menikahi Sakinah binti Husain dan Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah,ternyata kelak cita-citanya berhasil dia gapai, dia berhasil menjadi Gubernur di Irak dan menikahi kedua wanita yang dia idam-idamkan dan memberikan mahar bagi masing-masing 500.000 dirham, dan perehelatan yang senilai itu pula.

Adapun Urwah, dia bercita-cita inggin menjadi Ahli fikih dan ulama hadis yang menjadi rujukan manusia dan orang-orang banyak yang datang mengambil riwayat darinya.. semua orang telah mengenalnya sebagai sosok ulama Madinah yang tersohor dan menjadi rujukan manusia untuk menimba hadis-hadis Nabi darinya.

Adapun Abdul Malik bin Marwan, dia bercita-cita inggin menjadi khalifah kaum muslimin yang menguasai dunia dan ahkhirnya dia capai keinginannnya menjadi Khalifah yang tersohor dari Dinasti Umawiyyah.
Adapun Abdullah bin Umar, beliau berharap agar dapat menjadi penghuni surga! Semoga Allah berikan baginya cita-citanya yang maha tinggi tersebut.

Jiwa besar Sang Penaklus Andalus

Sejarah telah mencatat bahwa awal kedatangan Abdurrahman ad-Dakhil-elang quraisy- sang penakluk Andalus di negeri Andalusia, dia dihadiahkan seorang budak wanita yang cantik jelita memikat setiap orang yang memandangnya. Tatkala memandangnya seketika dia mengungkapan kalimat yang begitu berharga layak dicatat dengan tinta emas:

إنها من النظر والقلب بمكان، وإنْ أنا شُغِلتُ عنها ظلمتُها، وإنْ أنا شُغِلتُ بها ظلمتُ نفسي وهمَّتي، وأمَر بردِّها إلى أصحابها.

“Sungguh gadis ini alangkah cantiknya memikat pandangan mata dan hati ini,namun jika aku menerimanya dalam kondisiku yang begitu sibuk, khawatir aku akan menzaliminya, sebaliknya jika aku disibukkan dengannya aku akan menzalimi diriku dan keingginan besarku”, maka segera dia mengembalikan budak itu kepada tuannya.

Bersanding dengan Nabi di surga

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami dia berkata:
كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Aku menemani Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-pada suatu malam,maka aku datang membawakan air untuk wudhu dan hajat beliau, melihat itu beliau berkata padaku:” Mintalah sesuatu!”aku menjawab:”Aku meminta padamu agar berdoa(pada Allah) untuk dapat menemanimu di surga”.Rasulullah menjawab:” Mintalah selain itu!” , aku menjawab: hanya itulah permintaanku”, beliau bersabda:” jika demikian maka bantulah aku untuk dirimu dengan memperbanyak sujud(sholat).HR.Musli,

Wanita hitam ahli surga

Dalam Sahih Bukhari Atho bin Abi Rabah menceritakan:

أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ فَقَالَتْ أَصْبِرُ فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ فَدَعَا لَهَا

”berkata padaku Ibnu Abbas:” Maukah engkau kutunjukkan seorang wanita ahli surga? Aku menjawab: ya,dia berkata:” inilah dia wanita hitam itu, datang menemui Nabi-shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan berkata:” sesungguhnya penyakit kesurupan/ayan ku terkadang kambuh, dan kondisi itu membuat auratku tersingkap, maka mohonlah dengan doamu pada Allah agar menyembuhkanku! , maka Rasulullah menjawab:” seandainya engkau mau bersabar kelak gantinya adalah surga bagimu, atau jika mau aku akan berdoa pada Allah agar menyembuhkanmu?wanita itu menjawab: “aku memilih bersabar, namun doakanlah agar auratku tidak tersingkap!”maka Rasulullah mendoakan agar auratnya terjaga. HR.Bukhari.

Menepati janji pada Allah

Anas bin malik menceritakan tentang pamannya Anas bin an-Nadhr:” Pamanku Anas bin An-Nadhr luput untuk mengikuti perang Badar, maka dia menemui Nabi dan berkata:” Wahai Rasulullah! Aku absen pada peperangan pertama tatkala anda memerangi kaum musyrikin, seandainya aku diperkenankan Allah untuk memerangi kaum musyrikin pastilah Allah akan melihat apa yang ku lakukan,tatkala terjadi perang Uhud dan ketika itu kaum muslimin berlari mundur kocar-kacir, maka Anas berkata: Ya Allah aku memohon padamu untuk diberi uzur dari apa yang dilakukan mereka-yaitu para sahabatnya-dan aku berlepas diri dari apa yang dibuat mereka-yaitu kaum musyrikin-kemudian dia segera maju menyongsong musuh,ketika itu dia berjumpa Sa’ad bin Muaz dan segera berkata padanya: wahai Sa’ad bin Muaz! Sesungguhnya Aku melihat surga begitu dekat dan aku telah mencium baunya sebelum Uhud.

Berkata Sa’ad bin Muaz: aku tidak mampu melakukan apa yang dia lakukan-wallahi- ya Rasulullah!.

Berkata Anas bin Malik: kami dapati disekujur tubuhnya 80 lebih tikaman, tusukan dan sayatan pedang,panah dan tombak, bahkan kami menemukannya-usai perang- telah dicincang-cincang kaum musyrikin sehingga jasadnya tidak lagi di kenal, kecuali oleh saudarinya yang mengenalnya dari jar-jarinya, maka kami menganggap ayat ini turun untuknya dan orang-orang semisalnya:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلاً﴾[الأحزاب:23

Diantara orang-orang beriman ada para lelaki yang jujur dengan apa yang mereka janjikan pada Allah, diantara mereka ada yang telah wafat dan ada pula yang tengah menunggu gilirannyam dan mereka tidak pernah merubah niat dan janji mereka.QS: Al-Ahzab: 23.
Kisah di atas menunjukkan betapa tingginya cita-cita para sahabat Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- , mereka tidak pernah rela dengan apapun juga kecuali surga, bahkan mereka tidak inggin bermajlis kecuali di surga tertinggi mendampingi kekasih hati mereka Rasulullah.

Jalan menuju kemulian

Jalan menuju kemulian harus dilalui dengan berbagai rintangan dan hambatan, bekalnya adalah jujur,kemauan keras, dan cita-cita yang tinggi untuk menggapai kecintaan Allah dan keridhoanNya.

Jalan ini telah ditempuh para pendahulu kita assalafus sholeh, maka mereka korbankan segalanya untuk menggapai impan mereka, mereka tinggalkan segala bentuk kemalasan, berleha-leha, tengelam dalam gemerlap dunia, berlari berlomba menuju Surga Allah dan cintaNya. Mereka sadar betul bahwa hidup hanya sekali, barang siapa yang menyia-nyiakan umurnya dengan segala hal yang sia-sia dan hura-hura, tidak akan pernah sampai pada kemulian Islam dan Kaum muslimin.

Jika para pendahulu kita telah memberikan pada kita contoh suri tauladan untuk di ikuti, ternyata realita yang terlihat di zaman ini menunjukkan lemahnya mental dan jiwa kaum muslimin, cita-cita yang rendah dan hina.

Semua kita inggin kejayaan Islam; keberuntungan dalam hidup di dunia dan akhirat; hidup nikmat di surga kelak dan dijauhkan dari neraka,tetapi benarkah kita telah berusaha untuk menggapainya dengan amal yang kongkrit?, atau kita malah lebih banyak berangan-angan dan dan berleha-leha?, mana kesungguhan kita untuk membangun dan meninggikan agama ini?apa yang pernah kita berikan untuk Islam?mana orang-orang yang rela mendahulukan kepentingan umat daripada kepentingan sendiri?

Bukankan Allah berfirman:

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُوراً

“Maka barang siapa yang menginginkan akhirat dan berusaha untuknya dan dia beriman maka mereka itulah yang usahanya diterima dan diberikan ganjaran”.QS.Isra :19.

Bukankah dalam ayat di atas Allah menjelaskan bahwa memimpikan akhirat harus dibarengi iman usaha dan kerja keras yang nyata?. Bukankah berharap tanpa berusaha hanyalah melahirkan generasi pengigau dan pemimpi ? yang hanya mampu membangun istananya di atas awan, dan mengukir harapan di atas ai?r.

Fenomena yang memprihatinkan, bahwa untuk dunia orang-orang mampu berusah mati-matian demi memperoleh keinggian dan asa nya, mereka yakin tidak akan memperoleh kesuksesan tanpa kerja keras dan usaha maksimal, namun untuk akhirat, untuk menggapai ridho Allah dan surgaNya mereka hanya berleha-leha tidak beramal, hanya berandai-andai dan terlalu berprasangka baik bahwa dengan modal ktp Islamnya dia akan memperoleh kenikmatan surga firdaus.

Menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi

Tatkala Umair bih Alhammam-radhiallahu ‘anhu- mendengar Nabi-shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam perang badar memberikan motivasi kepada para sahabat dan berkata:
“قوموا إلى جنة عرضها السموات والأرض!”
“majulah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!!”.

Maka Umair berkata:” wahai Rasulullah: surga yang luasnya seluas langit dan bumi? Beliau menjawab: ya. Maka seketika Umair berteriak mengucapkan: بخٍ بخٍ (kalimat yang diucapkan jika kagum terhdap sesuatu perkara)sehingga Rasulullah bertanya padanya:”apa yang membuat kamu mengatakan hal itu? dia menjawab: tidak wahai Rasulullah kecuali aku berharap akan menjadi salah seorang dari penghuni surga. Maka Rasullah menjawab: engkau adalah bagian dari penghuninya”.

Seketika Umair mengeluarkan kurma-kurma yang ada di uncangya sembil memakannya dan berkata:”seandainya aku masih diberikan kehidupan hingga menghabiskan kurma-kurma ini, maka alangkah lamanya hidup in bagikui”!! spontan dia melemparkan kurma-kurma itu dan berlari menyerbu orang-orang kafir hingga terbunuh-semoga Allah meridhoinya. HR. Muslim.

Penghalang-penghalang seseorang berjiwa besar

Ada sejumlah faktor-faktor berat yang menjadi penghalang seseorang mencapai cita-cita yang tinggi dan mendapatkan kemuliaan di negeri akhirat, diantaranya adalah: sifat kikir dalam urusan dunia, pengecut, menunda-nunda amal, panjang angan-angan, berprasangka buruk terhadap Allah dll.

Penghalang terbesar adalah syaitan dan bala tentaranya

Tiap kali seseorang berkeinginan untuk berinfak dan mengeluarkan hartanya, maka syetan akan datang menghalanginya dengan menakut-nakutinya dengan kefakiran, kebutuhan anak dan istri serta keluarganya, akan berkurang bahkan habisnya harta,banyaknya tuntutan hidup..dst hingga syetan berhasil menggagalkan niatnya untuk berinfak.

Jika seseorang berazam untuk berjihad maka syetan akan menghadangnya dengan rasa takut meninggalkan dunia, meninggalkan anak-anak dan keluarganya, dan dahsyatnya sayatan pedang yang akan mencincang-cincang tubuhnya hingga akhirnya dia membatalkan niatnya.

Jika hamba bertekad menekuni ibadah maka dia akan berusaha membuatnya bermalas-malasan, berleha-leha dan membayangkannya kesulitan menjalankan aktivitas ibadah hingga akhirnya hamba tidak beramal.
Berkata Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik:

يعقد الشيطان على قافية رأس أحدكم إذا هو نام ثلاث عقد، يضرب على مكان كل عقدة: عليك ليل طويل فارقُدْ ، فإن استيقظ فذكر الله انحلت عقدة ، فإن توضأ انحلت عقدة ، فإن صلى انحلت عقده كلُّها، فأصبح نشيطاً طيب النفس، وإلا أصبح خبيث النفس كسلان

Syetan akan mengingkat tengkuk salah seorang kalian tatkala dia tidur dengan tiga buhulan, setiap buhulan dia akan me-nina bobok-kan dan berkata:”malam masih panjang tidurlah! Jika dia bangun dan berzikir mengingat Allah terbukalah satu buhulan,jika dia berwudhu maka terbukalah buhulan berikutnya, dan jika dia sholat maka terbukalah semua buhulan, dan dia bangun dengan jiwa yang baik dan semangat, jika tidak…maka dia akan bangun dipagi hari dalam keadaan jiwa yang keji dan bermalas-malasan.HR.Muttafaq ‘Alaihi.

Maka hendaklah orang yang memiliki jiwa besar dan keingginan tinggi berusaha mengalahkan segala halangan dari syetan maupun jiwanya yang jelek, dengan senantiasa bermohon pada Allah agag menyampaikannya pada harapan dan
cita-citanya yang tinggi.

Tecipta untuk mengemban urusan besar

Ada orang-orang yang memang di angerahi Allah terlahir dengan jiwa besar, tidak rela kehinaan, apalagi perkara-perkara yang rendah tak bermutu dan sia-sia. Hidupnya senantiasa mencari kesempurnaan dalam segala hal, yang terbaik dan tertinggi.

Berkata Umar bin Abdul Aziz-rahimahullah-:”
إن لي نفسا تواقة, لم تزل تتوق إلى الإمارة, فلما نلتها تاقت إلى الخلافة, فلما نلتها تاقت إلى الجنة
Sesungguhnya aku memiliki jiwa yang besar , tidak pernah berhenti hingga aku meraih jabatan,tatkala jabatan gubernur telah kuraiih, maka jiwa ini tidak berhenti hingga menginginkan jabatan kekhalifahan, dan tatkala semua telah kucapai jiwa ini menginginkan surga.

Sebaliknya ada orang-orang yang sudah menjadi karakter bawaannya, senang bermalas-malasan, rela dengan kerendahan dan kehinaan. Seolah mereka berkata:”kita bukan diciptakan untuk hal-hal itu”.

Didikan orang tua dan pengaruhnya
Betapa besar pengaruh kedua orang tua untuk membentuk karakter anak-anak mereka, biasanya jika kedua orang tua berjiwa besar, senantiasa menjadi contoh kebaikan bagi anak-anak, tidak pernah jenu menempa jiwa anak-anak mereka untuk senantiasa siap memikul beban berat dan perkara besar, terus menerus memompa semangat mereka untuk menjadi pahlawan dan orang besar, memupuk mereka agar berakhlak dan budi pekerti yang luhur, menjauhkan diri mereka dari segaal kehinaan, sifat malas dan berleha-leha, mengulur-ulur waktu, tidak disiplin..dst.

Untuk orang tua yang seperti ini, biasanya akan melahirkan anak-anak yang akan jadi cikal bakal pahlawan, mujahid sejati, ulama, dai, guru ataupun profesi-profesi mulia lainnya yang dibutuhkan umat dan agama.

Seorang anak akan senantiasa berbangga dengan orang tua dan nenek moyang mereka yang berdarah pahlawan, menjadi sosok ulama yang dikenal , ahli fatwa dan sejenisnya sehingga kelak mereka juga berupaya mengikuti jejak mereka. Kita mengenal banyak ulama yang terlahir dari lingkungan ulama,sebutlah Ibnu Taimiyah-rahimahullah- sosok alim besar yang terlahir dari orang tua dan kakek yang alim.demikian juga denga syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dll.

Ali bin Abi Thalib

Jarang sekali anda mendapati orang besar kecuali terlahir dari orang tua yang berjiwa besar dan memiliki pengaruh besar di kaumnya. Lihat lah Ali bin Abi Thalib, siapa dibalik kesuksesannya? Tentu kita mengatakan adalah ibunya Fatimah bintu Asad dan Khadijah bintu Khuwailid yang mengasuhnya sejak kecil.

Muawiyah bin Abi Sufyan

Lihatlah orang besar Muwiyah bin Abu Sufyan, khalifah kaum muslimin dan raja termulia ummat ini, ditangannnya Allah kumpulkan seluruh ummat islam dan dimasanya takluk bangsa-bangsa ajam, tahukah kita bahwa dibalik kesuksesan ini ada pengaruh ibunya yang berjiwa besar di samping bapaknya yang menjadi tokoh ditengah-tengah Quraisy baik ketika jahiliyyah maupun setelah Islam? Tahukah anda siapa ibunya? Dialah Hindun Bintu Utbah yang pernah berkata-tatkala ada orang yang memuji Muawiyah anaknya kelak akan menjadi pemimin bagi kaumnya:”celakah Muawiyah jika hanya mampu memimpin kaumnya,”.

Maksudnya bahwa Muawiyah kelak akan menjadi pemimpin dunia, bukan hanya kaumnya dan bangsa arab saja. Tiap kala ada orang yang membanggakan diri di hadapan Muawiyah maka dengan segera dia mengatakan dengan penuh kebanggan” Akulah anak Hindun ”.

Abdullah bin Zubair

Lihat juga pahlawan Islam,Khalifah kaum Muslimin Abdullah bin Zubair –radhiallahu ‘anhu- siapa wantia dibelakng layar yang telah melairkannya dan mendidiknya menjadi orang besar? Dialah Asma binti Abu Bakar.
Dialah yang berkata dengan penuh kebanggaan tatkala diberitakan padanya dengan tewasnya anaknya Abdullah bin Zubair:”kenapa aku harus bersedih, padahal kepala Yahya bin Zakariya saja dipenggal dan dihadiahkan pada alah seoerang pelacur dari Bani Israil”.

Dialah yang berkata pada puteranya Abdullah bin Zubair tatka meminta persetujuannya untuk memerangi Hajjaj dan bala tentaranya:” Pergilah perangi dia, sesungguhnya –demi Allah- terbunuh dengan sayatan atau tikaman pedang itu lebih mulia daripada menyerah dan hidup dengan kehinaan dibawah pukulan cemeti “.

Peran lingkungan masyarakat

Jika kita jeli melihat sejarah orang-orang besar sepanjang zaman, kita pasti mendapati bahwa mereka adalah orang-orang yang tumbuh dilingkungan dan zaman yang penuh dengan kemuliaan. Tidak pernah terlahir orang-orang besar dari golongan para ulama, para pujangga,dan penguasa dunia semisal Imam Syafi’i , Malik, Ahmad dan Abu Hanifah,Umar bin Abdul Aziz, kecuali pada keemasan Islam.

Motivator yang baik

Berkata Abdullah bin Ahmad: aku senantiasa mendengar ayahku berkata:”semoga Allah merahmati Abul Haitsam “. Maka aku bertanya: wahai ayahahanda siapa abul Haitsam? Ahmad menjawab: tatkala aku digiring meuju algojo dan kedua lenganku dibelenggu dengan dua rantai, tiba-tiba ada seorang pemuda yang menarik bajuku dari arah belakang, dan dia berkata padak:” apakah anda mengenal saya? Aku menjawab:tidak.

Dia berkata: akulah Abul Haitsam Al-‘ayyar, pencuri yang terkenal, dan telah dituliskan di buku catatan Amirul mukminin bahwa aku pernah dipecut dengan cambuk sebanyak 18.000 kali dalam waktu yang berselang dan aku mampu bersabar dalam rangka ketaatan kepada syaitan demi dunia, maka sabarlah anda dalam rangka ketaatan pada Ar-rahman demi membela agama. itulah yang membuatku tegar.

Penutup

Inilah ulasan singkat tentang hakikat jiwa besar, semoga Allah –subhanahu wa ta’ala- menjadikan kita orang-orang yang berjiwa besar, akhirnya semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah pada junjungan kita Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- walhamdulillahi rabbil alamin.

Medan, 1 shafar 1434/15 Des 2012-12-15
Abu Fairuz Ahmad Ridwan My.

Tulisan Terkait Lainnya