Setegar batu karang

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 6 December 2014
Kategori: Kisah Tags:

 

Suara gulungan ombak yang memecah karang serasa begitu indah ditelingaku. Bukit-bukit kokoh berbatu cadas disepanjang pantai, nyiur yang melambai, pantai pasir putih bak mutiara berserakan,trumbu-trumbu karang yang masih alami belum terjamah….seluruhnya mempesona bagi kami yang biasa hidup di kota.

Sesampainya rombongan kami di pulau itu, hilanglah segala beban dunia dari atas pundak kami. Belum lagi jamuan ketam-ketam(kepiting) besar, cumi-cumi dan ikan-ikan mahal yang berkelas dihidangkan, keramah-tamahan penduduknya… semangkin menambah betahnya kami berada di sana. Kalaulah bukan karena banyaknya kesibukan dan tugas-tugas ingin rasanya menetap di pulau yang tenang dan damai dari segala hiruk-pikuk kehidupan kota.

Di pulau itulah hidup seorang da’i dan istrinya yang begitu sabar dan tegar berdakwah, setegar batu karang yang tidak pernah hancur dengan hempasan ombak dan terpaan badai.

Aku mengenalnya sebelum menginjakkan kakiku di bumi Batam ini yaitu tatkala aku menghadiri salah satu daurah intensif beberapa hari di kota Bogor. Daurah itu adalah daurah Tauhid yang mengundang para ustadz-ustadz dari berbagai pesantren di Indonesia. Ketika itu beliau menjadi utusan salah satu pesantren di Jawa. Selepas daurah kami kembali ke kota masing-masing, aku kembali ke Medan dan beliau kembali ke Jawa.Sejak itu hubungan kami pun terputus.

Bulan juli tahun 2002 dalam suatu acara daurah di masjid Nurul Islam Muka Kuning, aku kembali bertemu dengannya,dan ternyata ia telah di tempatkan sebagai da’i di pulau terpencil yang kerap kali kami kunjungi sekarang.

Masyarakat pulau tersebut ber-etnis Melayu dan keturunan Cina. Menurut ceritanya, dahulu awal-awal kedatangan beliau di pulau itu banyak sekali tradisi masyarakat yang jauh dari nuansa agama. Tradisi minum berlkohol, berjudi, meninggalkan sholat adalah hal yang dianggap biasa,bahkan ritual kesyirikan seperti berdukun dan memberi sesaji pada pohon juga banyak dilakukan di pulau tersebut.

Dari sisi pendidikan masyarakat tidak mengenyam pendidikan kecuali tingkat SD yang juga jauh dari standar karena miskinnya sumber daya manusianya. Anak-anak tidak dimotifasi belajar karena –menurut orang tua mereka- tidak bisa menghasilkan uang. Sebaliknya jika mereka lebih mengutamakan melaut dengan memancing di Rompong ataupun menjala ikan, cumi dan udang, dan pulang membawa uang daripada bersekolah yang tidak menghasilkan apa-apa.

Di pulau itulah beliau memulai dakwah, mendidik dan membimbing anak-anak pulau untuk bergairah belajar dan sekolah. Bahkan beliaulah yang pertama kali mengajari anak-anak untuk disiplin dan memakai sepatu ketika masuk kelas. Biasanya pulang anak-anak dari sekolah barulah sorenya beliau mengajari mereka mengaji dan agama di masjid kecil yang mereka bangun.

Dengan gaji yang begitu minim bahkan tidak mencukupi kebutuhan hariannya, beliau tetap istiqomah mengajar. gajinya hanya cukup untuk membeli bahan bakar pompong(sampan kayu) setiap bulannya untuk memberikan laporan tugasnya ke Batam, tidak membuat surut niatnya untuk tetap mengabdi. Untuk menambah belanja keluarga, beliau gigih bekerja membuat bubuh dan jaring untuk menjaring ikan-ikan yang hasilnya dijual untuk menutupi kebutuhan hidup.

Di awal kedatangan, masyarakat begitu antusias menyambutnya, untuk tempat tinggal mereka menyiapkan rumah tinggi yang terbuat dari papan. Di tempat itulah beliau hidup dengan istrinya sambil mulai mengajari mereka mengaji.

Awalnya beliau berusaha mengikuti tradisi masyarakat dan kemauan mereka dalam beragama, tetapi seiring dengan bertambahnya ilmu dan mulai masuknya kajian salaf dari salah satu radio dakwah di Pulau Batam yang siarannya terdengar hingga ke sana, beliau mulai berupaya membawa masyarakat untuk mengikuti sunnah dan meninggalkan segala bentuk adat dan kebiasaan yang bertentangan dengan agama. Maka sejak itu pulalah ujian padanya datang bertubi- tubi.

Masyarakat mulai terprovokasi dengan satu dua orang yang merasa kepentingannya terganggu untuk memusuhi dakwah beliau. Begitu gencarnya permusuhan mereka hingga beliau dituduh membawa paham sesat dan baru. Berbagai fitnah terus menerus di kobarkan hingga membuat sebagaian masyarakat termakan isyu dan sepakat untuk mengusir beliau.

Persis tatkala beliau pulang kampung untuk berlibur lebaran, rumah gubuk beliau yang amat sangat sederhana di masuki warga, wadah-wadah air di kamar mandi rumah beliau mereka masukkan racun pembunuh serangga. Bahkan mereka hampir merubuhkan dan membakar rumah untuk menghentikan dakwah belia dan hengkang meninggalkan pulau mereka.

Ada kejadian aneh yang semangkin memperkuat serangan dan fitnah mereka, yaitu tatkala angin kencang dan badai datang bertiup ke pulau menumbangkan pohon kelapa yang tumbuh di sekitar rumah. Atap rumah yang dibangun dengan sederhana tersebut hancur berantakan dan batang kelapa yang besar itu hampir membinasakan keduanya.Betapa tidak, sulit dibayangkan bagaimana pohon itu jatuh tepat diantara mereka berdua dan keduanya selamat dari kematian.

Ketika peristiwa naas itu terjadi, sebagian warga menganggap keduanya telah tewas tertimpa, namun masyaallah keduanya selamat dari kematian tanpa cidera sedikit juapun. Pohon itu cukup dahsyat menghancurkan rumah hingga bersisa setengahnya saja.

Dengan adanya peristiwa ini, semangkin santer sajalah fitnah warga dan ungkapan-ungkapan sinis pada beliau. Mereka menganggap kejadian ini tanda kualat dan sesatnya ajaran yang diajarkan beliau.

Kedengkian warga tidak cukup sampai di situ, bahkan mereka juga merusak dan memotong bubuh maupun jaring yang dipasang beliau di laut untuk mencari nafkah. Beliau hanya dapat mengelus dada dengan perlakuan yang jelek seperti itu. Belum lagi tuduhan yang mereka lemparkan bahwa beliau korupsi mengambil dana-dana bantuan pemerintah untuk perbaikan jalan kampung.

Bulan demi bulan beliau lewati dengan segala macam bentuk halangan dan rintangan dalam berdakwah. Bahkan pernah suatu ketika masyarakat mengumpulkan tanda tangan sebagian besar warga pulau sebagai bentuk kesepakatan mereka tidak setuju dengan dakwah beliau dan sekaligus tuntutan agar beliau keluar meninggalkan pulau mereka.

Subhanallah sungguh perjuangan yang penuh berliku. Seluruhnya beliau hadapi dengan keuletan dan kesabaran yang luar biasa..beliau tetap istiqomah membina masyarakat ,hingga mulailah satu demi satu penduduk mulai ada yang simpati dengannya dan mulai mengaji.

Dakwah dari rumah kerumah juga gencar beliau jalankan, membuat semangkin banyak yang menaruh simpati pada dakwah beliau. Dibantu dengan dakwah via Radio…masyarakat menemukan kebenaran dakwah yang dia sampaikan.

Begitu besarnya jasa beliau membuka cakrawala pemikiran masyarakat yang dulu bagaikan katak dalam tempurung. Jika ada acara daurah-daurah besar, beliau mengajak masyarakat untuk turut serta ke Batam mengikuti kajian-kajian. Kini sebagian yang dulu memusuhi dan ingin mengusir beliau telah berubah menjadi pendukung setia dakwah. Alhamdulillah.

Tahun demi tahun kini dakwah di pulau itu semangkin membaik, anak-anak pulau mulai satu demi satu diantarkan beliau untuk sekolah di luar, bahkan banyak yang beliau carikan sponsor dan orang tua asuh untuk mendanai sekolah mereka. Hingga kini telah ada satu dua dari mereka yang pulang dengan membawa ilmu dan wawasan yang lebih luas.

Bantuan-demi bantuan mulai mengalir ke pulau itu, apalagi dengan adanya rombongan para ikhwah dan asatidzah yang rutin mendatangi pulau itu, telah merubah pola pikir mereka untuk lebih maju ke depan.

Memang sulit mengawali dakwah di pulau terpencil yang miskin infra struktur itu. Fasilitas pendidikan hanya sampai SD, tidak ada fasilitas rumah sakit , tidak juga fasilitas listrik dan signal seluler. Jika malam datang pulau tersebut menjadi gelap dan mencekam. Kalaupun ada gengset untuk penerangan, amat terbatas hingga tengah malam, belum lagi sumber air yang sangat minim dan pola hidup masyarakat yang terkebelakang, namun semua itu tidak pernah mengendurkan niat da’i tersebut untuk tetap mengabdi di pulau itu.

Jujur sebenarnya banyak tawaran-tawaran untuk beliau agar meninggalkan pulau dan mengabdikan diri untuk berdakwah di Batam maupun tempat lainnya, tetapi semua beliau tolak dan sabar dengan segala keterbatasan hidup.

Kini Allah ta’ala telah membukan bagi beliau pintu-pintu kebaikan yang banyak. Dakwah nya semangakin tersebar hingga ke pulau-pulau yang lain. Tiap jumat hingga Ahad beliau setia memberikan ceramah yang menyejukkan hati para pendengar di Radio Dakwah yang kami miliki.

Bukan hanya warga pulau yang mendengarkan kajiannya, bahkan ceramah beliau didengarkan di Batam, Tanjung Pinang, Karimun dan dua negara tetangga Singapore dan Malaysia. Tidak sampai di situ bahkan kunjungan ke negeri jiran sebagai pemateri juga telah beliau lakukan. Masya Allah la haula wala quwwata illa billahi.

Sejak kedatangan beliau ke pualu itu, aku melihat banyak sekali keberkahan yang Allah cucurkan pada penduduk setempat. Fasilitas air bersih atas usaha beliau kini telah dinikmati orang pulau, bahkan sembelihan qurban yang sebelumnya nyaris tidak pernah ada, kini melimpah ruah hingga puluhan qurban yang beliaukan dapat dari ikhwan Singapore.

Ketegaran dan kesabarannya dalam berdakwah, menjadi contoh bagi setiap da’i, mejadi i’tibar bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan Hamba-hambanya yang berjuang ikhlas di jalan-Nya.Semoga keistiqomahan dan kesabaran beliau dan kita di atas rel dakwah ini berkelanjutan hingga akhir hayat .

Batam, 16 Muharram 1436/8 Nov 2014

Abu Fairuz

Tulisan Terkait Lainnya