RUMITNYA CINTA

Diposting oleh jundy priyana pada 25 February 2015
Kategori: Tazkiyatun Nufus

 

Betapa sulitnya untuk mendefenisikan cinta…

Cinta bukanlah ungkapan “aku mencintaimu” sebagaimana ungkapan lelaki “hidung belang”dan “wanita jalang” kepada pasangannya.
Jika sekedar ucapan…seolah mereka juga punya cinta….

Cinta tidak harus tersalurkan lewat ungkapan para ahlu bid’ah yang mewiridkan puji-pujian kepada Nabi lewat album mereka”cinta Rasul-cinta Nabi”….dst, yang hakikatnya hanyalah sekedar cari laba dan keuntungan.

Cinta bukanlah apa yang terlahir dari lisan para penyair maupun pujangga,tidak pula berupa tembang yang disuarakan para biduan dan biduanita…..sebab dalam alam nyata…terkadang ucapan mereka bertolak belakang dengan realita.

Cinta terkadang…tidak bersuara dan tidak bersambut… sebagaimana cintanya Mughits kepada Barirah.

Cinta terkadang tidak terwujud dalam mutiara kata,sebab tidak setiap orang yang jatuh cinta adalah pujangga.

Betapa kuatnya cinta Bilal kepada kekasihnya bahkan tidak sanggup lagi untuk menyuarakan cintanya dalam lantunan azan”asyhadu anna Muhammadan Rasulullah..setelah wafatnya kekasih…bahkan lebih ringan baginya kematian daripada melafazkan hal itu.

Cinta tidak selalu harus bersama dan seirama,sebagaimana cintanya Ibrahim kepada Hajar dan putranya Ismail yang berjauhan antara masjidil Haram dan Masjidil Aqsa…

Cinta itu bahkan selalu hadir dalam diam, terwujud dalam ungkapan, terpatri di dalam hati,walau tak terucap.

Cinta hakiki itu,akan melahirkan pengorbanan,pengabdian,keinginan untuk terus memberi yang terbaik dari apa yang dimiliki.

Cinta yang selalu menuntut dari kekasih,terkadang cinta yang bercampur dengan nafsu dan kepentingan….ketika hal itu tiada,cinta itu akan beralih biduk….
Allahul musta’an A’la ma tashifun.

Mekah, 29 Rabiul Awwal 1436 h/20 Jan 2015

Abu Fairuz

Tulisan Terkait Lainnya