Senja di Padang Arafah Bagian 1

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 20 September 2016
Kategori: Kisah

 

SENJA DI PADANG ARAFAH

KISBUNG (KISAH BERSAMBUNG) Bag 1

Buah nangka buah rambutan
Masak disimpan dalam tembikar
Bila sudah suratan tangan
Tak kan lari jodoh dikejar

* * *

LIBURAN MUSIM PANAS

Musim panas telah tiba, membuat penghuni Kota Madinah enggan ke luar dari rumah. Menurut mereka lebih baik di dalam rumah yang udaranya sejuk daripada berpanas-panas ria di luar rumah, karena itu tak heran jalan-jalan menjadi lengang seolah kota Nabi tersebut tak berpenghuni. Angin siang begitu kuat mendesau seolah membawa bara yang hendak membakar negeri yang penuh berkah tersebut.

Biasanya ketika panas memuncak seperti itu liburan panjang di sekolah dimulai. Tidak berbeda dengan Universitas Islam Madinah yang meliburkan siswanya antara pertengahan juni hingga pertengahan September.

Waktu liburan biasanya dimanfaatkan para mahasiswa untuk pulang ke negeri masing-masing dalam rangka silaturrahmi, berdakwah di keluarga dan masyarakat, menjenguk istri yang ditinggal di Indonesia atau untuk mencari istri bagi yang belum menikah.

Sebagian teman-teman ada yang memanfaatkan liburan untuk berkunjung ke negeri-negeri Islam. Ada yang menghabiskan lubrannya di Mesir, di Pakistan, Malaysia dan negeri lainnya.

Aku baru saja menyelesaikan tahun pertama program “manhajiyah” untuk meraih Magister di Universitas Madinah . Biasanya jika telah selesai dari tahun pertama “manhajiyyah” berarti tinggal nulis tesis dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Liburan musim panas bulan juni ini akan kumanfaatkan untuk berlibur ke negeri-negeri teman-temanku yang berada di Asia Tenggara. Aku berjanji sebelum sampai di indonesia akan kelililing dulu ke Malaysia, Bangkok ibu kota Thailand dan beberapa negeri lainnya.

Tujuanku adalah untuk refreshing sambil meyambung tali persaudaraan dengan teman-teman di sana sambil melihat perkembangan dakwah dan terakhir -jika ditakdirkan- semoga dalam petualanganku ini bisa pulang membawa wanita pendamping hidupku kelak.

Menurutkku sudah layak rasanya aku beristri untuk menyempurnakan agamaku dan menentramkan jiwa ini yang selalu gelisah jika melihat teman-teman sejawat telah pada menikah. Jangankan sedang menempuh jenjang magister, di jenjang S1 saja sudah banyak pelajar-pelajar dari Indonesia yang menikah. Ada juga yang baru duduk di semester dua di kuliah sudah nekat menyunting wanita idamannya, meskipun ia tau akan menegak pahitnya piala perpisahan kelak setelah satu hingga dua bulan meresapi indahnya bulan madu.

Ketika itu pihak Universitas memang tidak akan pernah mengeluarkan visa untuk para istri-istri pelajar yang masih duduk di strata satu. Jadi bukanlah hal yang aneh jika sebagian mahasiswa yang nekat menikah di masa kuliah harus rela “kurus kering” berpisah dengan istri-istri mereka dan hanya berjumpa setahun sekali bila masa liburan datang dan dapat menyelesaikan seluruh mata kuliah yang diujikan. Bila ada mata kuliah yang gagal, maka jangan harap diberi tiket gratis dari universitas, jika mau pulang dia harus keluarkan uang dari kocek nya sendiri. Karena tiket pulang pergi hanya menjadi hak istimewa setiap pelajar yang lulus tanpa her.

Kuingat ada seorang pelajar yang baru satu dua minggu menikah lantas berangkat belajar ke Madinah, duduk di kelas Syu’bah untuk persiapan bahasa….subhanallah..

Betapa sulit baginya merenda hari-hari tanpa istri tercinta, membuat ia gagal fokus dan akhirnya Ramadhan nekat pulang ke tanah air dan tak pernah kembali lagi ke Kota Nabi tersebut. Itulah sebagian ujian menikah dikala belajar.

Bagi yang sabar, Alhamdulillah banyak juga yang dapat menyelesaikan kuliahnya hingga tamat. Tapi jujur saja, aku kasihan melihat sebagian mereka menyendiri dan terkadang duduk berjam-jam berbicara di hadapan tape recorder, bercumbu rayu dengan istri via kaset yang dikirim ke tanah air dan baru nyampai setelah sebelas hari perjalanan laut.

Kala itu kita belum mengenal kecanggihan internet, Hp Android, Line, Dimdim, Skype..dst.
Jangankan Hp Android, komputer saja menjadi barang langka yang hanya ada di tempat photocopy dan kantor-kantor. Paling hebat kala itu adalah pemilik pager yang selalu dengan bangga digantungkan disaku-saku mereka yang berduit.

Kalau pun malas via kaset yang direkam, mereka setiap bulan tidak pernah bosan berkirim surat, menjalin kasih mesra yang halal melaui goresan-goresan tangan penuh cinta dan setia.

Ku ingat setiap datang waktu istirahat, maka para mahasiswa Indonesia antrian di depan kotak pos, sekedar bertanya dan berharap kalau-kalau mendapatkan surat orang yang terkasih dari tanah air.

Sedangkan aku sendiri telah menyelesaikan jenjang itu dan kini menjalani program magister. Untuk setiap pelajar yang telah menyelesaikan starata satu, pihak kampus bersedia mengeluarkan visa untuk istri-istri mereka agar dapat tinggal di Madinah bersama suami-suami . Meskipun para pelajar yang bawa istri ini benar- benar harus peras otak untuk mencari subsidi dan infak dari para muhsinin dan donatur buat bayar Syuqqah(tempat tinggal), kecuali jika orang tua atau mertua mereka adalah orang kaya dan berduit.

Waktu itu, banyak teman-temanku yang “laris manis” menikah dengan anak-anak orang kaya plus dapat subsidi bulanan dan sewa flat. Bahkan ada yang wanitanya diantar oleh ayahnya ke Madinah untuk dinikahkan langsung dengan sebagian pelajar madinah sekaligus disewakan bagi mereka flat dan subsidi bulanan.

Merekalah pala pelajar yang dapat “rezeki nomplok” menikah dengan “modal dengkul”. Bahkan untuk maharpun sebagian mereka ada yang disubsidi calon mertua, agar tidak malu di depan kerabat mereka. Aku teringat ada seorang temanku yang kini jadi bupati di satu daerah, hanya punya modal nekat saja menikah dengan salah seorang wanita Betawi. Ia benar-benar dapat subsisi 80 persen dari semua uang hantaran dan mahar dari calon mertua sendiri.

* * *

Ada seorang sahabat akrabku berkebangsaan Thailand, selalu menceritakan padaku tentang adik perempuannya. Membuat hatiku selalu berdebar-debar jika mendengarnya. Khayalanku seketika terbang ke langit berandai-andai kalau saja adiknya sesuai seleraku dan berkenan hati menerimaku apa adanya. Dalam khayalku alangkah indahnya jika bisa membawa gadis muslimah yang cantik bermata sipit berkulit putih dari negeri Gajah Putih- Thailand tersebut.

Siang yang terik itu, tidak begitu kurasakan disebabkan berbagai lintasan hati dan berbagai perasaan jiwa yang berkecamuk di dalam dada. Dari Bandara prince Muhammad bin Abdul Aziz Madinah, pesawat menerbangkanku ke Kuala Lumpur setelah sebelumnya transit di Bandara King Abdul Aziz Jeddah.

Tak terasa delapan jam terbang antara langit dan bumi, kini aku telah meninggalkan negeri yang kering, penuh dengan gunung batu dan padang pasir, kini kakiku menginjak negeri yang serba hijau dan indah, negeri para Hang pahlawan Melayu, negeri Ipin dan Upin.

Dari Bandara KLIA ( Kuala Lumpur International Airpot) aku berangkat memulai perjalananku mengunjungi kerabat-kerabatku di sana yang telah berkebangsaan Malaysia. Rencananya setelah dari Malaysia, aku kan kulanjutkan menuju Bangkok. Apalagi udah janjian dengan sahabatku itu untuk berjumpa dengannnya di Bangkok.

Setibanya di Rumah pamanku, aku disambut hangat oleh sanak kerabat di sana, bahkan ada tawaran untuk mengajar di sana kelak setelah tamat dari Madinah. Tidak hanya ditawarkan mengajar, ada juga isyarat-isyarat tidak langsung sekiranya aku juga berkenan untuk menikah dengan salah seorang sepupuku.

Namun entahlah, hatiku tidak tertarik dengan sepupu-sepupuku meskipun dari sisi kecantikan dan adab mereka tidak mengecewakan.

Beberapa hari di Malaysia, Ibu menghubungiku via telepon menyuruhku untuk segera pulang guna menghadiri acara walimahan abang yang dipercepat dua minggu. Awalnya aku kuberatan dengan segala alasan, namun ibu merayuku setiap hari agar pulang dahulu ke Indonesia, dengan setengah memaksa akhirnya kuturuti kemauan ibu untuk pulang ke kampung halamanku terlebih dahulu. Ku yakin jika telah pulang,maka niat awal untuk keliling dunia terancam batal, sebab ku tau betapa sulitnya melepaskan diri dari para kerabat dan handai tolanku yang telah lama merindukan kepulanganku.

BERSAMBUNG…..

Batam, 16 Zulhijjah 1437/ 18 Sept 2016
————————–————————–———–
Abu Fairuz Ahmad Ridwan My.

 

Tulisan Terkait Lainnya