Salaf Menyikapi Ahli bid”ah

Diposting oleh Ustadz Abu Fairuz pada 31 October 2011
Kategori: Manhaj Tags: ,

 

Jauhi bid’ah dan ahli bid’ah

Para salafus sholeh begitu khawatirnya bermajlis dengan ahli bid’ah, karena itulah mereka mencela bermajlis dan bercampur dengan mereka. Bukanlah bagian dari karakter seorang muslim yang mengimani apa yang diturunkan Allah pada RasulNya yang paham agama, gemar mengikuti syubhat dan menyibukkan diri dengannya. Karena manhaj yang benar adalah menjelaskan hakikat Islam kepada manusia terlebih dahulu sebelum membantah syubhat-syubhat, atau menjawab apa yang ada dalam benak mereka, karena yang utama adalah menyampaikan apa-apa yang wajib di ketahui. Setelah itu tidak mengapa– jika memang dianggap perlu–untuk mengomentari hal-hal yang dianggap keliru dalam memahaminya.

Hendaklah perumpamaan orang yang berjalan menuju Allah dan negeri akhirat ketika menghadapi syubhat bagaikan perumpamaan seorang musafir yang terhalang dalam perjalanannya dengan kalajengking, ular berbisa dan lain-lain. Tiap kali dia menjumpai ada binatang-binatang seperti ini di hadapannya menghalangi jalan, maka segera dibunuhnya.

Tetapi dalam perjalanan jika dia tidak menemui binatang-binatang seperti diatas ,maka bukanlah hal yang bijak jika dia malah berusaha mencari-cari dan mengikuti jejak binatang-binatang tersebut, sebab jika itu yang menjadi pusat perhatiannya niscaya dia tidak akan pernah sampai pada tujuannya dan boleh jadi dia akan tersesat di jalan.

Inilah manhaj yang benar yang harus ditanamkan kepada setiap para pemuda dan penimba ilmu, hendaklah mereka diajarkan terlebih dahulu tentang Quran, Sunnah, hakikat iman dan keyakinan yang benar, barulah jika muncul syubhat dibenak sebagian dari merreka, guru sebagai orang alim segera meluruskannya, membantah syubhat dan memberikan jawabannya.

Jadi bukan menjadikan bid’ah, syubhat, atuapun kekeliruan dalam akidah menjadi pusat perhatian seorang guru dalam mengajarkan murid-muridnya di awal perjalanan mereka dalam menimba ilmu dan mencari hidayah, yang tidak jarang malah membuat dia gemar berdebat dan membicarakan pendapat-pendapat yang kontroversial,yang dampaknya malah membuat para pemula gemar berdebat dan berselisih , sebagaimana realita di lapangan dakwah, wallahul musta’an.

Membantah ahli bid’ah bukalah untuk semua orang

Membantah syubhat bukan dapat dilakukan setiap orang, tapi hal ini adalah kerjaan para ulama yang kawakan dan ilmunya mapan. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

من سمع بالدجال فلينأ عنه, فوالله إن الرجل ليلأتيه وهو يحسب أنه مؤمن فيتبعه مما يبعث به الششبهات”
“Barang siapa yang mendengar kedatangan Dajjal maka hendaklah dia menghindar dan menjauh, Demi Allah ada seorang lelaki yang benar-benar nekat mendatanginya dan ia menganggap tetap tegar dengan imanannya ternyata kelak menjadi pengikut Dajjal disebabkan syubhat yang dilontarkannya.”

Perkataan ulama salaf agar menjauh, tidak mendengar dan bermajlis dengan ahli bid’ah

Berkata Imam Ibnu Battah mengomentari hadis di atas:”ini adalah adalah sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam yang Jujur dan benar, maka takutlah kalian pada Allah wahai kaum muslimin, janganlah terlampau berbaik sangka terhadap diri sendiri –menganggap diri telah memiliki ilmu– dan menganggap telah menguasai syubhat yang ada pada lawan debatnya, yang akhirnya nekat nyerempet bahaya dalam agamanya dengan memilih bermajlis dengan sebagian ahli bid’ah, dengan alasan:”aku akan mendebatnya, dan akan mengeluarkannya dari kesesatan” , karena sesungguhnya mereka lebih dahsyat fitnahnya daripada Dajjal, dan ucapan mereka lebih dahsyat menempel daripada kudis yang menempel, dan lebih dahsyat membakar dari api yang melahap. Aku pernah menemui sebagian orang yang awalnya menyumpah serapah dan melaknat ahlu bid’ah,tak lama kemudian bermajlis dengan mereka dengan niat mengingkari,namun lambat-laun dengan seringnya bermajlis dengan mereka, dan dengan tipudaya musuhya yang begitu tersembunyi dan halusnya kekufuran yang disuntikkan, akhirnya dia membenarkan mereka.”

Perkataan Muhammad bin Sirin

Datang dua orang ahli bid’ah menemui Muhammad bin Sirin rahimahullah, keduanya berkata: ”wahai Abu Bakar bolehkah kami menyampaikan padamu sesuatu hadis?! Dia menjawab:”tidak”. Keduanya melanjutkan pembicaraan:”Bolehkan kami membacakan padamu satu ayat dari kitab Allah?!”.Dia kembali menjawab:”tidak, jika kalian tidak pergi meninggalkanku maka akulah yang pergi meninggalkan kalian”.

Ketika ditanya tentang sikapnya berbuat demikian, maka beliau menjawab:”aku khawatir mereka membacakan padaku ayat dengan menyelewengkan (penafsirannya) kemudian hal itu menempel di hatiku.”

Jelas bagi kita sikap salaf yang keras dalam bermajlis dengan ahli bid’ah dan dalam berdiskusi dengan mereka, hal ini disebabkan pemahaman mereka yang dalam terhadap syariat dan upaya mereka untuk mengikuti jejak Nabi dan petunjuk sahabat—semoga Allah meridhoi mereka seluruhnya.

Dalam Sahih Bukhari dari hadis Alqasim bin Muhammad dari Aisyah radhiallahu ’anha dia berkata:” pernah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam membacakan ayat ini:

“هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه من ابتغاء الفتنة وابتغاء تأويله-إلى قوله- أولو الألباب”.

“Dialah yang telah menurunkan atasmu Alkitab (Alquran) diantara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Alquran, dan yang lain(ayat-ayat) yang mutasyabihat, adapun orang-orang yang dalam hatinya ada penyimpangan maka mereka akan mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya—hingga firmanNya—orang-orang berakal.”QS. Al-Imran: 7).

Berkata Aisyah: “ maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
“فإذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم”
“Jika kamu melihat ada orang-orang yang mengikuti apa-apa yang mutasyabihat dari Alquran maka mereka itulah orang-orang yang Allah maksudkan dan berhati-hatilah terhadap mereka”.

Sikap ibnu Abbas terhadap perdebatan dalam agama

Para salafus sholeh benar-benar membenci perdebatan secara mutlak sekalipun tidak berkaitan dengan perkara yang dapat merusak akidah. Dari Wahab bin Munabbih dia berkata:”Aku dan Ikrimah pernah memandu Ibnu Abbas ketika matanya telah buta hingga kami masuk ke dalam Masjidil Haram, dan di sana kami dapati ada sebagian orang yang duduk sedang berdebat di dekat pintu Bani Syaibah, Maka Ibnu Abbas berkata kepada kami:”Bawakan aku ke majlis mereka yang sedang berdebat”. Kami membawanya kepada mereka dan ia langsung berkata pada mereka:”sebutkan Nasab kalian agar aku mengetahui siapa kalian”. Sebagian dari mereka menyebutkan nasabnya, kemudian Ibnu Abbas melanjutkan:”tidak kah kalian mengetahui ada suatu kaum yang Allah bisukan mereka untuk berbicara—karena takut pada Allah, padahal mereka bukan jahil bukan pula tuli!! Merekalah sebenar-benarnya ulama, yang memiliki kefasihan ,kemulian dan ahli retorika, namun tiap kali mengingat kebesaran Allah- yang Maha Perkasa dan Mulia- terbang karena itu akal mereka, tunduk hati mereka, dan terdiam lisan mereka, hingga ketika mereka sadar segera mereka beramal yang dapat mensucikan mereka, bagaimana kedudukan kalian jika dibandingkan dengan mereka?”. Berkata Wahab:”kemudian beliau (Ibnu Abbas) meninggalkan mereka,dan tidak terlihat lagi setelah itu seorangpun dari mereka.

Atsar-atsar dari salafus sholeh tercelanya berdebat

Hammad bin Zaid meriwayatkan dari Zaid dari Muhammad bin wasi’ dari muslim bin Yasar bahwa ia penah berkata:”Jauhilah berdebat sesungguhnya itu merupakan waktu jahilnyanya seorang alim, ketika itulah syetan berusaha menggelincirkannya”. Apalagi jika perdebatan itu dicampuri dengan bid’ah, maka mereka benar-benar lari menjauh darinya, dan banyak sekali riwayat tentang hal ini, diantaranya:

Berkata Alhasan dan Muhammad: “jangan kalian bermajlis dengan ahli bid’ah, jangan dengar dari mereka dan jangan berdebat dengan mereka”.

Berkata Abdurrazzaq:”pernah berkata kepadaku Ibrahim bin Abu Yahya:”aku melihat di tempat kalian ini banyak sekali orang mu’tazilah”aku menjawab:”Ya tapi mereka mengganggapmu adalah bagian dari mereka!. Dia(Abdur razzaq berkata):”maukah anda kuajak sebentar ke tempat itu untuk berbincang-bincang?”. Aku menjawab: “tidak” dia bertanya:”Kenapa?”. Aku menjawab:”karena hati itu lemah, dan agama ini bukanlah bagi siapa yang menang dalam berdebat”.

Ketika menyebutkan tentang ahli bid’ah , berkata Abu Al-Jauza’ :”Jika rumahku ini dipenuhi oleh kera-kera dan babi-babi lebih kucintai daripada bertetangga dengan seorang dari ahli bid’ah”.

Berkata Muhammad bin Ali:”Jangan bermajlis dengan orang-orang yang senang berdebat sesungguhnya mereka selalu hanyut dalam perdebatan tentang ayat-ayat Allah”.

Berkata Mush’ab bin Sa’ad:” jangan duduk dengan seorang yang terfitnah (dalam agamanya) sebab pasti dia akan merugikanmu dengan satu dari dua hal: boleh jadi dia meracuni hatimu menjadi sakit dan mengikutinya atau dia akan menyakitimu sebelum engkau pergi meninggalkannya”.

Berkata Ayyub:’ berkata Abu Qilabah:” Jangan duduk dengan ahli bid’ah, karena aku khawatir terhadap dirimu jika mereka berhasil menggelincirkanmu pada kesesatan mereka, dan mengecohmu dengan menyelipkan syubhat dari apa-apa yang kau ketahui”.

Ucapan ini dilontarkan pada Ayyub seorang qari yang alim, maka jika Abu Qilabah berkata seperti ini kepada Ayyub as-Sakhtiyani yang dikenal keilmuannya, bagaimana lagi dengan dirimu wahai para pembaca yang tidak sedikitpun mencapai derajat Ayyub dalam ilmu dan agama, maka janganlah anda mendekatinya!! Dan ini menunjukkan hal ini buka perkara yang ringan.

Berkata Abdur Razzaq:” Ma’mar menceritakan kepada kami: “ adalah Ibnu Thaus sedang duduk, maka datang seorang mu’tazilah dan langsung berbicara. Berkata Ma’mar: ”Maka dia (Ibnu Thaus) menutup kedua telinganya dengan kedua jari telunjuknya dan berkata kepada anaknya:” Wahai anakku masukkan kedua jarimu kedalam telingamu dan kuatkan jangan sampai kau mendengar sedikit juapun dari perkataannya”. Berkata Ma’mar:” sebab hati manusia lemah”.

Adalah Imam malik bin Anas rahimahullah begitu mencela perdebatan, dia berkata:”apakah tiap kali datang kepada kita orang yang lebih lihai dalam berdebat kita akan ikuti dia dengan menolak apa yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam?!!.

Berkata seseorang kepada Alhasan Albasri:”wahai Abu Sa’id marilah kita berdebat dalam perkara agama ini”!. Alhasan menjawab:” aku tidak butuh berdebat karena telah paham dengan agamaku, andaikata engkau tersesat dan tidak paham dalam agamamu maka carilah dia”.

Berkata Sallam:”berkata seseorang dari ahli bid’ah kepada Ayyub:”Wahai Abu Bakar izinkan aku bertanya padamu tentang satu kalimat”! Maka Ayyub meninggalkannya dan berkata:”Tidak, walaupun setegah kalimat” dia ulangi dua kali dan mengisyaratkan dengan dua jarinya.

Berkata Yahya bin Yasar:” aku pernah mendengar Syarik berkata:” Jika saja di setiap kabilah ada seekor keledai lebih baik bagiku daripada ada diantara mereka seorang dari pengikut si fulan(salah seorang ahli bid’ah).

Berkata Abu Hatim rahimahullah:”aku mendengar Ahmad bin Sinan berkata:” bertetangga dengan seorang pemukul gendang lebih baik bagiku daripada bertetangga dengan ahli bid’ah, sebab aku dapat mencegah atau merusak alat musiknya, sementara ahli bid’ah dapat merusak manusia, para tetangga dan anak-anak.

Perkataan salaf –semoga Allah merahmati mereka-di atas menunjukkan bahwa perdebatan dan berselisih dalam agama adalah merupakan faktor yang membuat ahli bid’ah dapat menyebarkan kesesatan mereka.

Amr bin Qais bertanya pada Alhakam bin Uthaibah:” Apa yang membuat orang-orang Murjiah terjerumus pada kesesatan mereka?” dia menjawab:” perdebatan”.

Berkata Alauza’iy :” jika Allah ingin menimpakan kejelekan pada suatu kaum, maka Dia akan membukakan atas mereka pintu perdebatan, dan menahan mereka dari amal.

Alimam Al-Ajurri telah menuliskan bebarapa bab dalam kitabnya Assyariah tentang wajibnya menjauhi ahli bid’ah dan bermajlis dengan mereka. diantaranya berbunyi:”Bab Anjuran berpegang teguh dengan Alkitab dan Sunnah Rasul shallallahu ’alaihi wasallam serta para sahabatnya—semoga Allah meridhoi mereka semua-dan meninggalkan bid’ah, dan berdebat dalam perkara yang menyelisihi Alkitab dan Sunnah dan perkataan sahabat”.

juga beliau menulis:”Bab tercelanya berdebat dalam agama, bab keutamaan duduk menghindari fitnah tidak larut padanya, dan khawatirnya para ulama tehadap hati mereka jika mencintai apa yang dibenci Allah dengan duduk berdiam di rumah dan beribadah untuk Allah”.

Al-Lalaka’iy menuliskan pada bukunya”bab apa-apa yang datang dari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dalam bentuk larangan untuk mendebat ahli bid’ah, berbincang-bincang dengan mereka dan mendengarkan perkataan-perkataan mereka yang mengandung bid’ah dan pendapat-pendapat mereka yang tercela””.

Berkata Syeikhul Islam Abu Ismail Alharawi dalam mencela ilmu kalam: ”bab larangan dalam berdebat, ancaman yang berat padanya dan penjelasan tentang sialnya perkataan ini”.

Ulasan dia atas sebagi landasan dasar perkara ini, bahwa inilah hukum asal dalam berdebat agar dipahami dan diterapkan, karena banyaknya orang-orang yang tidak berilmu terjun dan memeperluas perkara ini di zaman sekarang. Sedikit sekali yang memperhatikan prinsip ini dan meniru sikap salaf dalam bermajlis dan mendengarkan perkataan ahli bid’ah. Dan masih banyak sekali atsar-atsar yang tidak disebutkan yang jumlahnya ratusan .

Maka hendaklah orang yang berakal melihat dirinya, dan mempertimbangkan dampak-dampaknya kedepan(sebelum berdebat) agar dia dapat menjaga agamanya supaya tidak ternodai, sebab dampak perkara ini hanya dua saja, jika tidak surga maka ujungnya adalah neraka. dan tidak ada sendau gurau dengannya.

Kepada setiap orang yang tidak memiliki pengalaman dan hujjah yang kuat, jangan pernah mendebat ahli bid’ah penyeru kepada bid’ahnya apalagi jika bid’ah yang dia serukan mengkafirkan pelakunya, Nauzubillah minal kufri

Batam,Senin, 31 Oktober 2011 / 4 Dzulhijjah 1432 H
Disarikan oleh Abu Fairuz
dari Room” minhajus sunnah-AlserdaaB” Pin 26D441 BEB.

Tulisan Terkait Lainnya