Sepuluh hal yang harus menjadi buah pikiran manusia dan lekat di benaknya

Diposting oleh Ustadz Abu Fairuz pada 26 November 2011
Kategori: Tazkiyatun Nufus

 

Berkata syeikh Abdurrahman bin Yahya Almua’allimi-rahimahullah-:

Pertama:

Hendaklah seseorang senantiasa memikirkan betapa mulianya kebenaran dan begitu hinanya kebatilan, yaitu dengan memikirkan kebesaran Allah, bahwa Dialah Rabbul Alamin, yang mencintai kebenaran dan membenci kebatilan, bahwa siapa yang mengikuti kebenaran berhak mendapatkan ridhoNya, pertolonganNya di dunia dan Akhirat, dengan memilih yang terbaik baginya dan yang termulia hingga Allah mewafatkannya dalam keadaan yang diridhoiNya, dimuliakan di sisi Tuhannya dalam surga yang berkekalan yang tidak tergambarkan alam pikiran.

Sebaliknya barang siapa yang memilih untuk condong kepada kebatilan, berhak untuk mendapatkan kemurkaan dan siksaNya, kalaupun Allah memberikan padanya bagian dari kenikmatan dunia , hakikatnya karena kehinaan orang tersebut agar semangkin jauh dariNya, untuk menerima azab yang berlipat ganda di negeri akhirat, siksa yang berkekalan yang tidak dapat digambarkan betapa dahsyatnya.

Kedua:

Hendaknya manusia selalu membandingkan kenikmatan dunia dengan keridhoan Allah –Rabbul alamin- dan surga yang penuh kenikmatan, membandingkan antara jeleknya dunia dengan kebencian Allah dan azabNya di akhirat. Hendaknya senantiasa memikirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ . أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَةَ رَبِّكَ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَةُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ . وَلَوْلَا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِنْ فَضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ . وَلِبُيُوتِهِمْ أَبْوَابًا وَسُرُرًا عَلَيْهَا يَتَّكِئُونَ . وَزُخْرُفًا وَإِنْ كُلُّ ذَلِكَ لَمَّا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan mereka berkata:”mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dan salah satu dua negeri(Mekah dan Thaif)ini?Apakah mereka yang membagi-bagi Rahmat Tuhanmu?kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka di dunia dan kami telah meninggikan derajat sebagian mereka atas sebagian lainnya agar mereka saling membutuhkan satu sama lainnya dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu niscaya kami akan jadikan bagi orang-orang kafir rumah-rumah yang beratapkan perak dan tangga-tangga yang mereka naikim dan kami akan buatkan bagi mereka pintu-pintu dan dipan-dipan dari perak sebagai tempat mereka bersandar dan bertelakan diatasnya,dan kami akan buatkan perhaiasan-perhiasan emas untuk mereka, dan semua itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa.QS: az-zukhruf: 31-35.

Dipahami dari ayat ini bahwa kalaulah bukan ketetapan Allah menjadikan manusia satu umat, maka Dia akan menguji orang-orang yang beriman dengan apa-apa yang diluar kebiasaan berupa kefakiran yang bersangatan, penyakit, ketakutan, dan kesedihan. Cukuplah menjadi pelajaran apa-apa yang ditimpakan Allah kepada para nabiNya dan para orang-orang pilihan berupa bencana dan musibah yang beraneka ragam.

Dari Ka’ab bi Malik dia berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنْ الزَّرْعِ تُفِيئُهَا الرِّيحُ تَصْرَعُهَا مَرَّةً وَتَعْدِلُهَا أُخْرَى حَتَّى تَهِيجَ وَمَثَلُ الْكَافِرِ كَمَثَلِ الْأَرْزَةِ الْمُجْذِيَةِ عَلَى أَصْلِهَا لَا يُفِيئُهَا شَيْءٌ حَتَّى يَكُونَ انْجِعَافُهَا مَرَّةً وَاحِدَةً )رواه البخاري ومسلم.(

“Perumpamaan seorang mukmin bagaikan batang pohon kecil yang meliuk-liuk diterpa anggin, terkadang tegak lurus dan terkadang bengkok hingga akhirnya dia akan mengering,adapun perumpamaan orang kafir bagaikan pohon yang menjalar pada batangnya tidak ada yang menggoyangnya hingga akhirnya mati dalam satu waktu”. HR. Bukhari dan Muslim.

Maksud hadis di atas adalah pelajaran bagi setiap muslim, agar tegar menghadapi berbagai kesulitan dan musibah dengan ridho dan sabar dengan mengharapkan gajaran pahala, dia tidak pernah benar-benar ambisi terhadap kenikmatan dan tidak pula iri karenanya, dia tidak pernah merasa tentram dengan kenikmatan yang di dapat tidak pula condong padanya, tetapi dia menghadapi segala kenikmatan hidup yang didapat dengan segala kewaspadaan dan kekhawaatiran, jangan-jangan nikmat yang diperolehnya adalah sarana merusak imannya, maka segera dia gunakan kenikmatan dunia tersebut untuk jalan Allah, dia tidak akan berleha-leha karenanya tidak pula menjadi kikir, tidak menjadi sombong dan tertipu karenanya. Sementara hadis Nabi ini tidak mencakup orang kafir karena hujjah telah tegak atasnya.

Dari Sa’ad bin Abu Waqqas dia pernah bertanya: ”Wahai Rasulullah siapakah yang paling berat ujiannya?” maka beliau menjawab:

(( الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ )). رواه الترمذي وأحمد والدارمي.((

“Para Nabi kemudian orang-orang yang dibawah mereka, maka seseorang akan diuji sesuai dengan tingkat agamanya, jika agamanya kuat maka ujiannya akan berat, andaikata agamanya lemah maka ujiannya juga ringan, dan ujian demi ujian akan terus menerpa seorang hamba hingga kelak dia meninggalkan bumi ini tanpa ada lagi dosa-dosa yang dipikulnya” .HR. Tirmizi Ahmad dan Darimi.

Allah pernah menguji Ayyub dengan penyakit yang dideritanya, menguji Ya’qub dengan kehilangan dua anak yang dicintainya, betapa berbekasnya hal itu dalam diriya sehingga Allah mengkisahkan tentangnya dalam Alquran:

وَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
“Dia berpaling dari mereka sembari berkata:”Aduhai alangkah malangnya nasib Yusuf” sehingga matanya menjadi putih karena kesedihan yang dia sembunyikan”.

Nabi Muhammadpun di uji sebagaimana yang tertulis dalam sirah perjalanan hidup beliau. Allah telah bebankan beliau mendakwahi kaumnya agar meninggalkan kesyirikan dan keseatan yang mereka warisi turun temurun dari nenek moyang mereka. Beliau mendakwahi mereka dengan segala cara mulai dari sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan, tanpa jenuh berdakwah siang dan malam. Beliau berdakwah mendatangi kaumnya ditempat-tempat perkumpulan mereka selama tiga belas tahun tanpa pernah berhenti, sementara kaumnya menanggapi dakwah yang ditawarkan beliau dengan segala bentuk teror dan kejahatan, padahal beliau telah mereka kenal empat puluh tahun lebih sebelum menjadi Rasul sebagai sosok seorang yang mulia tidak pernah disakiti, karena nasab beliau yang terhormat dari keturunan orang-orang yang terhormat, beliau tumbuh dewasa dengan akhlak dan perangai yang mulia membuat mereka menghormatinya, apalagi beliau memiliki sifat pemalu yang bersangatan, kemulian diri….maka orang yang memiliki segala karakter seperti ini mustahil mau menghinakan diri agar disakiti kaumnya.

Tetapi sejak beliau menjadi Nabi maka mulailah segala bentuk teror dan intimidasi menghampiri beliau,segala cacian dan makian yang beliau dapatkan,dicela, diludahi, ada yang memijak lehernya ketika sujud, ada yang menaburkan kotoran biantang daiatas tubuhnya ketika sujud, ada yang menarika kerah bajuna dan mencekik lehernya, ada yang menjerat untanya agar melemparkan beliau dari atas tubuhnya, bahkan pamannya senantiasa menyakitinya dan memperingatkan orang agar menjauhinya dengan berbagai ungkapan semisal”pendusta, maupun orang gila. Ada pula yang mempengaruhi orang-orang yang tidak berakal agar melontari beliau dengan batu hingga berdarah kedua kakinya, bahkan mereka sepakat memboikot beliau dan kerabat beliau bertahun-tahun agar mereka semua mati kelaparan. Bahkan para pengikut beliau juga tidak lepas dari segala kejahatan mereka. Ada yang disiksa dengan dijemur di tengah-tengah padang pasir yang panas membara tanpa diberi air, ada yang mereka bakar, bahkan ada seorang wanita yang mereka siksa agar mau kembali ke agama mereka, tatkala mereka putus asa darinya mereka menombak kemaluannya hingga tembus dan membunuhnya.

Semua mereka lakukan terhadap beliau dan pengikutnya tidak lain tidak bukan kecuali karena beliau inggin mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya petunjuk, dari keburukan kepada kebaikan, dari kemurkaan Allah kepada keridhoanNya, dari siksa yang berkepanjangan kepada kenikmatan yang abadi, namun mereka tidak memenuhi seruannya dengan segala hujjah yang terang dan jelas yang beliau sampaikan pada mereka dikarenakan seruan ini menyelisihi hawa nafsu mereka.

Lihat pula bagaimana Allah meguji Nabinya sejak kecil telah menjadi yatim piatu ditinggal kedua ayah bundanya, kemudian tak lama setelah itu kembali ditinggal mati paman yang senantiasa melindunginya, tak berselang lama istrinya turun meninggalkannya yang senantiasa mendukungnya meringankan bebannya, kemudian ujian demi ujian terus menerus mengahmpirinya—sangatlah panjang jika diungkapkan seluruhnya- padaha beliau adalah pemimpin seluruh anak adam dan makhluk yang paling dicintai Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka jadikanlah sebagai pelajaran bahwa apapun yang kita berlomba-lomba untuk mengejarnya bahkan rela binasa karenanya dari segala bentuk gemerlap dunia dan kedudukan yanga ada padanya tidak pernah sebanding dengan keridhoaan Allah dan kenikmatan yang abadi selamanya di sisi Allah. Sebaliknya bahwa segala penderitan hidup di dunia ini dan ujian padanya yang orang-orang berusaha berlari menghindarinya,tidak ada bandingannya dengan kemurkaan Allah dan kebencianNya,dan azab yang kekal di neraka Jahannam.

Dari Anas bin Malik beliau pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

(( يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ)) رواه مسلم .

“Akan didatangkan seseorang penduduk dunia yang paling nikmat hidupnya di dunia dari golongan penduduk neraka, kemudian di celupkan dengan sekali celupan dalam neraka kemudian ditanyakan padanya: wahai anak Adam pernahkah dirimu mendapatkan kenikmatan hidup(di dunia), pernahkah nikmat hidup singgah menghampirimu? Maka dia menjawab: tidak pernah-demi Allah- wahai Rabbku. Kemudian di datangkan seseorang yang paling menderita hidupnya di dunia dari golongan penduduk surga, maka dia dicelupkan dengan sekali celupan ke dalam surge dan ditanya: wahai anak Adam pernahkan engkau merasakan penderitaan hidup (di dunia) walaupun sedikit? Pernahkan penderitaan hidup datang menghampirimu? Maka dia menjawab: Tidak-demi Allah—wahai Rabbku aku tidak pernah merasakan penderitaan hidup tidak pula pernah dia datang menghampiriku”.HR. Muslim.

(Bersambung)

Tulisan Terkait Lainnya