Ulama-ulama yang menyesatkan

Diposting oleh Ustadz Abu Fairuz pada 20 December 2013
Kategori: Aqidah Tags:

 

Mukadimah
Bimillah walhamdulillah, wa ba’du:
Sudah menjadi ketentuan yang telah digariskan secara kauni, bahwa semangkin jauh ummat ini dari masa kenabian, maka semangkin jauh pula mereka dari sunnah Nabi- shallallahu alaihi wa sallam-. Persis sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Zubair bin Adi, dia berkata:
أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الحَجَّاجِ، فَقَالَ: «اصْبِرُوا، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ». سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Kami mendatangi Anas bin Malik mengadukan perihal kezaliman Hajaj bin Yusuf, maka Anas berkata: “hendaknya kalian bersabar, sesungguhnya tidak akan datang kepada kalian suatu zaman, kecuali zaman yang berikutnya lebih jelek darinya hingga kalian bertemu dengan Rabb kalian, seperti itulah yang kudengar dari Nabi kalian-shallalahu alaihi wa sallam-.Hr.Bukhari

Ketika Islam Jauh dari Masa kenabian
Bagaikan hulu sungai yang jernih dan bersih, semangkin jauh ke muara akan semangkin keruh dan kotor, begitu jugalah keadaan umat Islam, yang telah diberitakan Rasulullah. Tangan-tangan jahil dan nakal, tidak pernah bosan mengotori sungai itu dengan segala sampah dan kotoran, sehingga membuat sungai menjadi tercemar dan berbau busuk.
Demikian juga dengan kemurnian Islam yang telah dibawa Rasulullah, berupaya dicemari oleh para “perampok agama” yang bersembunyi dibalik jubah ulama. Tanpa pernah merasa jenuh, mulut-mulut kotor mereka terus menerus memuntahkan berbagai syubuhat dan kesesatan. Karakter yang mereka perankan tak ubah bagaikan perumpamaan “Srigala berbulu domba”, akan senantisa mengecoh dan menjungkir balikkan kebenaran.
Dengan kelihaian mereka dalam bertutur kata, disulaplah kesyirikan menjadi tauhid, bid’ah dholalalah menjadi sunnah, yang haram menjadi halal, dan yang halal menjadi Haram…Allahul musta’ an.

Kemunculan ulama suu’ “penjaja kesesatan”
Kedatangan “penjaja kesesatan ini” telah disinyalir Nabi –shallallahu alaihi wa sallam dalam hadis beliau yang diriwayatkan Abu Daud dalam sunan nya dari jalur Tsauban-maula- Rasulullah:”
قَالَ رَسُولُ « إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِىَ الأَرْضَ » . أَوْ قَالَ « إِنَّ رَبِّى زَوَى لِىَ الأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ مُلْكَ أُمَّتِى سَيَبْلُغُ مَا زُوِىَ لِى مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الأَحْمَرَ وَالأَبْيَضَ وَإِنِّى سَأَلْتُ رَبِّى لأُمَّتِى أَنْ لاَ يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلاَ يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّى قَالَ لِى يَا مُحَمَّدُ إِنِّى إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لاَ يُرَدُّ وَلاَ أُهْلِكُهُمْ بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلاَ أُسَلِّطُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَلَوِ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ بِأَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضاً وَحَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يَسْبِى بَعْضاً وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِى أُمَّتِى لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى الأَوْثَانَ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى كَذَّابُونَ ثَلاَثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِىٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى وَلاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى عَلَى الْحَقِّ » . قَالَ ابْنُ عِيسَى « ظَاهِرِينَ » . ثُمَّ اتَّفَقَا « لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ »

Sesungguhnya Allah telah memperlihatkan bumi ini, atau beliau mengatakan: sesungguhnya Rabbku telah memperlihatkan bumi ini padaku, maka aku dapat melihat timur dan baratnya, dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan membentang seluas apa yang diperlihatkan padaku, dan aku diberikan dua perbendaharaan merah dan putih (kerajaan Persia dan Romawia) dan sesungguhya aku meminta pada Rabbku untuk ummatku agar tidak dibinasakan dengan bencana kelaparan yang merata, dan jangan sampai membiarkan musuh-musuh mereka menguasai mereka-dari luar diri mereka-dan sesungguhnya Rabbku berkata: Wahai Muhammad, jika aku telah menetapkan suatu ketetapan maka tidak akan dapat ditolak, aku tidak akan membinasakan mereka secara keseluuhan dengan bencana kelaparan, dan aku tidak akan membiarkan musuh-musuh mereka menguasai mereka-dari luar mereka- walaupun musuh-musuh mereka bersatu dari seluruh penjuru dunia hingga sebagian mereka sendiri yang kelak akan membinasakan sebagian lainnya dan sebagian mereka menawan sebagian lainnya. Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas umatku adalah para pemimpin (ulama) yang menyesatkan, jika pedang telah dihunuskan atas umatku maka tidak akan dapat diangkat hingga hari kiamat, dan tidak akan terjadi kiamat hingga sebagaian dari umatku akan mengikuti orang-orang musyrikin dan sebagaian kabilah dari ummatku kembali menyembah berhala, dan akan muncul di tengah ummatku para pendusta sebanyak 30 orang, seluruhnya mengaku nabi padahal akulah penutup para Nabi, dan tidak ada nabi setelahku, dan akan tetap ada satu golongan dari umatku di atas kebenaran -berkata Abu Isa (Tirmizi)– akan dimenangkan, mereka tidak akan dibahayakan oleh orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang urusan Allah (kimat). HR.Abu Daud.

Pelajaran berharga dari hadis di atas:
• Islam akan menguasai dunia
• Kaum Muslimin tidak akan dapat binasa dengan bencana kelaparan dan tidak pula dapat dimusnahkan musuh mereka hingga hari kiamat.
• Kebinasaan kaum muslimin datangnya bukan dari musuh di luar agama mereka, tetapi datangnya dari sesama mereka sendiri.
• Yang paling dikhawatirkan Nabi adalah munculnya para ulama yang menyesatkan sebagai sebab perpecahan, yang menceraiberaikan kaum muslimin.
• Pedang yang telah dihunus antara sesama kaum muslimin tidak akan pernah berhenti hingga hari kiamat, dan penyebabnya adalah bid’ah yang memcah belah ummat yang senantiasa dijajakan oleh para ulama suu’ yang menyesatkan.
• Umat Islam akan mengikuti cara beragama orang-orang musyrik, hingga akhirnya sebagian mereka menjadi musyrik benaran kembali menyembah berhala.
• Diantara sebab perpecahan ummat adalah munculnya para Nabi palsu berjumlah 30 orang (yang terbesarnya).
• Nabi kita adalah Nabi terakhir dan penutup para Nabi.
• Ahlus sunnah akan tetap eksis hingga hari kiamat, yaitu hingga datangnya angin yang berhembus dan mencabut nyawa seluruh orang beriman.

Kemunculan fatwa-fatwa pesanan yang nyeleneh
Fenomena yang memprihatinkan saat- saat menjelang “Hari Natal” belakangan ini, munculnya kembali fatwa-fatwa yang pesanan yang nyeleneh yang ditujukan kepada kaum muslimin tentang bolehnya keluarga NU mengucapkan “selamat Hari Natal” terhadap orang-orang Nashara dengan itikad bahwa niat dasarnya hanyalah mengucapkan selamat atas hari kelahiran Isa bin Maryam sebagai Hamba dan utusan Allah, bukan sebagai Anak Tuhan.
Subhana Muqallibal Qulub. Maha suci Tuhan yang membolak-balik hati manusia, alangkah murahannya fatwa ini, apa manfaat yang didapat bagi kaum muslimin kecuali membuat senang orang-orang Nashara-musuh mereka-dan upaya mengkaburkan akidah Islam yang bersarang di dalam dada kaum muslimin di negeri ini.
Betapa gembiranya hati orang-orang Nashara menerima fatwa ini, Cuma kalaulah kita boleh bertanya: berapa ahli fatwa ini dibayar oleh mereka untuk melariskan dagangan kekufuran mereka??

Masuk ke sarang kekufuran
Kalaulah fatwa nyeleneh di atas ditujukan kepada kaum muslimin Indonesia, maka ada lagi hal yang lebih “teruk” dari kasus di atas, yaitu digelarnya acara “Natal Kebangsaan” yang diisi oleh pemateri dari orang-orang yang mengaku beragama Islam dan bergelar” Kyai Haji” ditambah lagi “embel-embel” gelar Doktor, maka lengkaplah sudah musibah menimpa ummat ini, tunggulah berita membanjirnya jamaah murtaddin (orang-orang yang murtad) dari kalangan Nahdiyyin, dan jika itu yang terjadi, wajar jika kita mengucapkan : ”Selamat” pada pak Yai yang berhasil menggiring –pengikutnya menjadi penyembah ”salib”.

Batam, Jumat, 20 Desember 2013 /17 Safar 1435 H
Abu Fairuz Ahmad Ridwan Muhammad Yunus

  • Heri Taryana

    barokallahufik ya ustadz

Tulisan Terkait Lainnya