Ajarkan aku tuk membencimu

Diposting oleh jundy priyana pada 12 May 2015
Kategori: Akhlak

 

Beragam ungkapan seorang dalam mengekspesikan cintanya pada sang kekasih.

Ungkapan “aku mencintaimu…engkaulah kekasih hatiku..uhibbuk…my honey..my baby” ..dst diantara sekian juta-juta ekspresi cinta,walaupun boleh jadi sebagian hanya ungkapan di mulut jua….tidak lewat hingga di kerongkongan…apalagi hingga ke hati.

“Ajarkan aku untuk membencimu”…itulah ungkapan cinta terindah yang pernah kudengar dari seorang wanita kepada kekasihnya. Cinta yang begitu kuat terpatri dalam prasasti hatinya..hingga terkadang membuat dirinya ingin menguasai orang yang di cintai dan membelenggunya menjadi hamba sahaya cinta.
Ungkapan ketakutan jikalah sang nakhoda melabuhkan jangkarnya pada dermaga-dermaga baru dengan meninggalkan dermaga lama.

Cinta itu adalah anugerah teindah yang diberikan Sang Maha Pemurah pemilik cinta yang dengan cintaNya tegak segala urusan langit dan bumi dan dengannya dikirim para utusan-utusan untuk membawa cahaya petunjuk kepada Alam rendah ini.

Adapun cinta yang ada pada sesama makhluk dan pasangannya..hanyalah merupakan percikan dari tetes-tetes Samudera cintaNya yang diturunkan.

Pada dasarnya cinta ini tidak dipuji ataupun dicela oleh agama. Tetapi efek dari cinta itu sendiri yang akan dinilai terpuji atau tercela.

Jikalah cinta itu melahirkan kelalaian dalam ketaatan kepada Sang Pemberi cinta.. bahkan menjadi penghalang untuk menuju Samudera cintaNya yang hakiki…maka itulah cinta tercela dan terlarang.

Tatkala Abdullah bin Umar menikahi seorang gadis yang jelita,sungguh hatinya terpaut pada gadis tersebut..membuat dirinya lalai dan ketaatannya kepada Maha Pemberi Cinta semangkin melemah, seketika itu Ayahanda tercinta menegurnya dan memerintahkan agar Puteranya itu segera menceraikan kekasihnya. Abdulah merasa tidak nyaman dengan perintah itu hingga terpaksa ia mendatangi Nabi dan meminta pendapatnya atau pembelaan darinya. Setibanya di hadapan Nabi dan ia menceritakan segalanya …maka nabi bersabda:”patuhi ayahmu”…subhanallah…ia pun menceraikan istrinya dengan segala perasaan sedih yang berkcamuk dan membuncah dalam dadanya. Sungguh keputusan yang berat,tetapi Abdullah tidak punya pilihan kecuali mematuhi orang tua dan Nabinya. Ikatan cinta itu segera dia putus dan Abdullah kembali lagi pada ketaatannya pada Zat yang Maha Layak untuk di cinta. Kembali dalam kekhusuyukannya dan kenikmatannya berjalan menuju samudera cinta.

Jika percikan cinta itu menjadi pendorong seorang hamba untuk semangkin cepat bergegas dalam pengembaraannya menuju Samudera cintaNya..maka hal ini terpuji dan bernilai ibadah. Sebagaimana kecintaan wanita -wanita sholeha kepada para suaminya yang menjadi sumber inspirasi positif bagi sang suami untuk melakukan segala bentuk penghambaannya kepada Zat Maha Pemurah dan Penyayang.

Lihatlah kecintaan permaisuri Raja Muhammad bin Su ud hingga membujuk beliau untuk menjemput ulama besar yang berhijrah ke negerinya Muhammad bin Abdul Wahhab. Dari bujukan inilah terwujud berjuta kebaikan dan tertutup berjuta kejelekan.

Dari cinta inilah terlahir negeri Tauhid yang telah berhasil menumbangkan berhala-berhala kesyirikan di seantero Jazirah. Berhasil meruntuhka para penguasa-penguasa yang pongah penyeru kepada kesesatan.

Percikan air cinta yang indah itu menjadi tidak indah lagi bahkan menjadi sumber bencana, tatkala menjadikannya sebagai tujuan hidup yang dibangun diatasnya wala dan bara…cinta mati ini yang akan melahirkan para pujangga dan orang-orang gila semisal Qois majnun Laila,Butsainah dan semisalnya dalam versi Arabnya,ataupun Romeo dan juliet dalam versi Ajamnya. Cinta yang berujung penderitaan melalaikan pemiliknya dari tujuan hakiki menuju samudera cintaNya.

28 Jumadil ula 1436 h/19 Maret 2015 m

Abu Fairuz

Tulisan Terkait Lainnya