Ulama Pengkhianat Bangsa

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 12 September 2016
Kategori: Aqidah

 

Pengkhianat bangsa bukanlah para da’i yang mengajak manusia agar bertauhid hanya beribadah menyembah Allah.

Pengkianat bangsa bukanlah para da’i yang senantiasa mengajak ummat meneladani Rasulullah..

Pengkhianat bangsa bukanlah para da’i yang senantiasa mendoakan kebaikan untuk penguasa muslim, menasehati mereka dengan hikmah dan bijak, mengajak masyarakat turut andil membangun negeri, mencerdaskan ummat dan mengharamkan pemberontakan terhadap pemerintah muslim yang sah.

Pengkhianat bangsa bukanlah para da’i yang ingin memecah belah ummat, membid’ahkan dan mengkafirkan serampangan, memaksakan manusia harus ikut mereka dalam masalah-masalah khilafiyah..

SIAPAKAH PENGKHIANAT BANGSA ?

Dialah yang menjual agamanya kepada kaum Rafidhah hanya karena “gelap mata memandang gemerlap dunia”.

Dialah yang menjadi senjata Kaum Rafidhah Majusi untuk memecah belah anak bangsa, menciptakan kekacauan, provokasi dan berupaya membenturkan antara ummat Islam yang satu dengan yang lainnya. Agar kelak manjadi budak Kaum Rafidah sebagaimana yang terjadi di Libanon, Irak, Yaman, Bahrain, Tanzania, dll. Dialah ancaman NKRI.

Dialah yang menjual agama kepada kaum kafirin, menjadi “tunggangan politik” guna meluluskan orang kafir untuk jadi pemimpin, pendukung setia mereka, penjaga gereja, pendakwah di kuil dan vihara. Betapa cintanya mereka terhadap kaum kafirin, dan betapa bencinya mereka kepada Ahlus Sunnah, yang menyeru kepada Kitab dan Sunnah.

Dialah yang memberikan loyalnya kepada segala penghusung kesesatan dari kaum SEPILIS, LGBT, FEMINIS dan segala bentuk kelompok yang nyempal dalam Islam.

MEREKALAH PENGKHIANAT BANGSA

Yang tidak tau bersyukur kepada jasa para pahlawan negeri ini. Mereka berkhianat menyelisihi cita-cita pendiri bangsa dari kalangan ulama negeri ini.

Para ulama dan pejuang negeri, telah berhasil memerdekakan negeri ini dari para penjajah Kuffar, Ingris, Portugis, Belanda dan Jepang. Melepaskan belenggu penghinaan dalam rantai-rantai penjajahan.

Wilayah dicaplok, rakyat menderita, kekayaan bumi dirampok dibawa ke negeri mereka. Alim ulama dicekal, dibuang dan dibunuh.

Keberhasilan penjajah tidak pernah lepas dari peran para pengkhianat bangsa, para penjilat yang hanya memikirkan perut dan syahwatnya.

Kalaulah bukan peran para ulama pemangku adat dan tradisi yang bersatu dengan kaum bangsawan yang terbiasa hidup mewah dan hura-hura yang mengadu kepada Belanda dan minta bantuan mereka untuk memerangi kaum PADERI, niscaya tak kan ada penderitaan kaum Minang Kabau kehilangan negeri mereka, menjadi tenaga kerja paksa membuat jalan-jalan umum guna mengangkut kopi-kopi milik Belanda.

Betapa menderitanya rakyat yang dipaksa menanam kopi untuk belanda, tidak boleh mereka nikmati dan wajib dijual kepada Belanda dengan harga yang murah dan Belanda menjualnya dengan harga berlipat -lipat.

Lihatlah bagaimana para ulama pengkhianat yang rela menjual negeri ini kepada Kaum Kuffar, Rafidhah, Liberal, Komunis, Sekuler, dan menjadi garda terdepan pemelihara segala kesesatan dan kemunafikan…??

Sebaliknya merekalah penghalang penegakan syariat Islam yang mulia, penghalang dakwah menuju keistiqamahan untuk mengamalkan Syariat Nabi, para sahabat dan para Tabi’in, baik dari aspek akidah, muamalah, siyasah dan syariah.

Negeri ini akan menjadi negeri yang mulia ketika rakyat benar-benar mengikuti syariat Islam yang Murni.

Selama rakyat dibiarkan terjajah dengan taklid kepada kiyai dan alim ulama, tidak boleh mendebat dan bertanya mana sumber rujukannya..

Selama rakyat digiring kepada kesyirikan, khurafat, takhayyul dan bid’ah..

Selama para dukun, tukang tenung, penjaja jimat bebas merajalela…

Selama Sekulerisme, Matrealisme, Komunisme, Plualrisme dipertahankan..

Selama paham- paham kesesatan, syiah, khawarij, ghulat sufiyyah, quburiyyah, jahmiyyah dibela…..

Selama para koruptor, para pengkhianat yang menjual bangsanya, memuluskan orang-orang kuffar untuk menguras kekayaan negara dibiarkan, dipelihara dan dilindungi..

Negeri kita tidak kan pernah “merdeka” dalam arti yang sebenarnya.

Pagi Arafah, 9 zulhijjah 1437/ 11 Sept 2016
———————————————–
Abu Fairuz Ahmad Ridwan My.

Tulisan Terkait Lainnya