Jalan yang melelahkan

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 13 April 2016
Kategori: Tazkiyatun Nufus

 

Terkadang diri kita begitu lelah menatap jalan panjang yang seolah tak berujung. Selalu muncul pertanyaan: “kapankan kaki ini menapaki ujung jalan tersebut?.

Terkadang muncul perasaan bahwa ujung jalan itu tak mampu dicapai, sementara di hadapan mata begitu banyak simpang jalan yang menggiurkan dan ringkas, meskipun boleh jadi ujungnya jurang yang dalam.

Dalam memilih pasangan hidup, seorang wanita terkadang tak mampu membaca garis tangan ke depan, apakah ia kan dapat disunting sang pangeran yang perfect sebagimana yang ia inginkan? Seorang lelaki sholeh yang baik agama dan akhlaknya..? Meskipun penantian tersebut belum jelas ujung pangkalnya?

Ataukah ia pilih saja tawaran yang jelas, calon pangeran yang ingin menyuntingnya meskipun calon pangeran tersebut ngak jelas agama dan akhlaknya. Apalagi jika sang pangeran adalah pengusaha dan konglomerat muda, ataupun pejabat tinggi, berat rasanya tawaran tersebut untuk ditolak.

Biasanya sang wanita dan keluarganya tutup mata atas kekurangan agama dan akhlaknya dengan alasan “nanti kan bisa di upgrade agama dan akhlaknya”.

Di alam realita, ada orang-orang yang dulu kukenal istiqamah kini telah pudar keistiqamahan tersebut disebabkan pasangan yang tidak mendukungnya.

Awalanya berhijab bahkan bercadar, tetapi setelah menikah hijab lenyap dan cadarpun hilang. Tampilannya ngak beda jauh dengan orang-orang yang ngak pernah belajar sunnah.

Sebaliknya kukenal,ada seorang pria yang baik agama dan akhlaknya, hampir tak pernah absen menghadiri kajian keislaman. Berkali-kali disodori akhwat yang zahirnya baik agama dan akhlaknya, namun ia tolak dengan alasan tidak tertarik. Akhirnya ia pun memilih seorang akhwat yang berhasik merenggut hatinya, sayangnya akhwat tersebut dalam jerat syubuhat paham-paham sesat kelompoknya.

Kita sudah nasehatkan ia agar tidak mengambil resiko menikahi wanita seperti itu. Namun cinta jika telah menghujam dalam dada membuat mata buta. Ia nekat menikahi wanita itu.

Bulan madu mereka dihiasi dengan perang hujjah dan debat yang hampir memisahkan antara keduanya. Seiring dengan lahirnya sang buah hati, aku tak lagi pernah melihatnya menghadiri kajian, entahlah apakah ia telah termakan syubhat pasangannya atau memang sibuk dengan kerja dan profesinya sebagai ayah baru…?? Wallahu a’lam.

Tiap orang harus memilih jalan lurus, sekalipun panjang melelahkan, sekalipun ia harus berjalan dengan tertatih-tatih dan merangkak, sekalipun ia mati di tengah jalan tersebut.

________________
Batam, 4 Rajab 1437 H/ 11 April 2016 M

Abu Fairuz Ahmad Ridwan My.

Tulisan Terkait Lainnya