KERUPUK CINTA

Diposting oleh jundy priyana pada 19 January 2016
Kategori: Kisah

 

Wajahnya hitam manis, sepintas mirip dengan orang Bangladesh. Tubuhnya kurus ringkih. Ia telah menikmati pahitnya Lapas beberapa tahun dan seingatku sisa hukuman yang masih dijalaninya tinggal 6-7 tahun lagi. Ia masuk Lapas karena terlibat Narkoba. Tetapi itu masa silamnya telah berlalu. Kini ia kulihat begitu saleh dan tawadhu’nya, mencintai ilmu dan selalu mengkoleksi ceramah-ceramah para asatidzah.

Kesan yang tidak pernah kulupakan adalah ,upayanya untuk mendekati para ustadz walaupun hanya menghadiahkan satu bungkus kerupuk. Aku menyebutnya “kerupuk cinta”. Pemberian yang ikhlas dan terlahir dari kecintaannya kepada para dai yang silih berganti memberikannya ilmu.

Ada dua hingga tiga kali aku berkesempatan memberikan kajian di Lapas itu,dan sungguh ku terkesan menyaksikan wajah-wajah yang teduh dan bercahaya setelah tergelincir dalam lembah syahwat. Berbagai sebab yang menggiring mereka menjadi penghuni setia Lapas tersebut. Ada yang terlibat kasus pembunuhan,narkoba,pencurian dan perampokan ..dst,sungguh lapas mengumpulkan para napi yang bermasalah di masyarakat.

Ketika kecintaan terhadap ilmu telah merasuki mereka,aku tak bisa lagi membedakan mereka dari sisi tampilan zahir. Kini mereka tidak sedikitpun mirip penjahat, mereka lebih mirip para santri dan para dai penyeru kebenaran.

Kulihat kesungguhan mereka bertaubat,bahkan ada yang mendatangiku dengan menangis,menceritakan bahwa ia telah melakukan dosa besar dengan membunuh, bertanya kepadaku bagaimana cara tobat dari perbuatan terkutuk itu.

Diantara seluruh NAPI yang mengaji, aku tidak dapat melupakan wajah manis dan ringkih itu. Orang-orang memanggilnya Fajri dan berasal dari daerah Sigli di provinsi Nangro Aceh Darus Salam. Bagaimana kudapat melupakannya,sementara ia begitu ingin selalu bersamaku,dan senantiasa mengantarku hingga ke gerbang Lapas dengan sebungkus kerupuk cintanya.

Memang kerupuk tersebut tidaklah mahal bagiku,namun ku yakin itu yang mampu ia hadiahkan untukku dan para ustadz lainnya. Darimana orang-orang di Sel mendapatkan uang kalau bukan pemberian ala kadarnya dari pihak keluarga yang membezuknya.

Dua hari yang lalu,sampai berita padaku ia terbaring kritis di Rumah Sakit Umum Daerah, terlihat tipis kemungkinan dapat sembuh karena penyakitnya teramat parah, ia menderita radang otak kronis. Ia juga berwasiat jika kelak wafat agar jenazahnya diselenggarakan sesuai sunnah oleh para ikhwan.

Tadi siang sekitar jam 12 an…ruh lelaki itu, berpisah meninggalkan badannya. Ia wafat setelah merenggang nyawa dirawat beberapa hari di rumah sakit. Husnul khatimah insyaallah.

Aku selalu teringat kegigihannya menimba ilmu,bahkan ia paksakan untuk membeli flash disk guna merekam kajian-kajianku. Subhanallah…sungguh ia kini telah berpulang ke Alam barzakh, mendahului kita semua.

Selamat Jalan sahabatku…
Semoga dirimu senantiasa menjadi contoh bagi kami orang-orang yang selalu khilaf dan berdosa untuk segera bertaubat.

Duhai Tuhan yang Maha Pemurah, rahmatMu begitu luasnya mengalahkan murkaMu,ampunkan ketergelinciran sahabatku dan tempatkan ia ditempat yang Kau Ridhai.

Batam, 19 Syawal 1436 h/3 Agustus 2015.

Abu Fairuz

Tulisan Terkait Lainnya