Wanita perkasa

Diposting oleh Ustadz Abu Fairuz pada 17 October 2014
Kategori: Akhlak

 

Wanita perkasa
Lepas kajian di Bukit Tinggi kami diundang seorang ibu yang ikut kajianku untuk makan di rumahnya. Ibu tersebut mengenalku karena pernah tinggal lama di Batam dengan anak-anaknya, bahkan di sanalah dia membesarkan dan menikahkan anak-anaknya.

Dengan Avanza milik seorang ikhwan dari Bukit Tinggi, kami pergi bersama menuju rumah ibu itu. Setelah melewati jalan-jalan pegunungan yang indah dengan pesona Alam Bukit Tinggi dan udaranya yang sejuk dan dingin…kami tiba di sebuah rumah yang luas bertingkat dua yang dikelilingi tanan-tanaman di sekitar rumah. Dengan segala keramahan kami disambut beliau dengan menghidangkan makanan.

Wanita itu tidak tinggal sendiri, dia ditemani beberapa pelajar putri berasal dari beberapa tempat yang jauh untuk kost di rumah itu. Aku mencoba bertanya tentang perjalanan hidupnya yang kuanggap sukses dalam membesarkan anak-anaknya hingga dewasa dan bagaimana perjalanan nasib yang telah mengantarkannya ke Batam.

Dia bertutur:” kekecewaan pada suami membuatku nekat berlari membawa semua anak-anak yang berjumlah enam orang mengadu nasib untuk mencari keberuntungan demi membesarkan mereka.Hidup beberapa tahun dengannya yang berlepas tangan dari segala kewajibannya sebagai kepala rumah tangga, membuatku muak dan tak mampu bersabar lagi .Betapa tidak, sebagaian besar waktunya dia habiskan untuk duduk-duduk di warung bersama teman-temannya. Bukan hanya sekedar duduk, bahkan terkadang ia larut berjudi dengan mereka.

Aku begitu kecewa melihat tradisi masyarkat di negeriku yang memanjakan para lelaki hingga seolah mereka itu tercipta hanyalah sebagai “pejantan tangguh” tanpa beban dan kewajiban untuk menafkahi dan mengayomi anak dan istri mereka.Masyarakat menganggap hal yang lumrah tatkala kaum lelaki menghabiskan waktu mereka di lapau-lapau(warung-warung) sementara kaum wanitanya kerja banting tulang di sawah dan ladang, jadi buruh mengambil upah bekerja pada sawah-sawah milik orang, ataupun berdagang di pasar untuk dapat mendopang perekonomian keluarga yang seolah menjadi kewajiban yang dipikulkan di atas pundak mereka”.

Sambil sesekali menyuapkan nasi ke mulutnya dia kembali bertutur:
“Dengan segenap keberanian, ku bawa seluruh anak-anakku ke Medan untuk mengadu nasib di bumi perantauan. Setelah beberapa tahun di sana dan aku belum melihat adanya perubahan yang berarti, kuterima tawaran untuk bekerja di kebun sawit di daerah Aceh, dalam benakku senantiasa muncul harapan-harapan indah untuk masa depan yang cerah untuk anak-anakku kelak.

Beberapa tahun di Aceh, ternyata hidup kami dan anak-anak tidak berbeda jauh dengan yang sebelumnya, bahkan kuteringat peristiwa pahit tatkala aku harus membawa pulang kerumah lontong-lontong basi pemberian dari sisa penjualan yang tidak laku. Sesampainya di rumah, lontong itu ku cuci dan keberikan pada anak-anakku.

Semangat untuk hidup yang lebih baik buatku dan anak-anak, membuatku nekat untuk hijrah ke Batam dengan sejuta harapan. Negeri yang terkenal dengan penghasilan dan gaji yang tinggi dibandingkan daerah lainnya di Indonesia,membuatku tergiur untuk mendatanginya. Apalagi imej tentanb Batam yang disebut” negeri Dolar Sing” begitu tersebar membuatku “kepinjut” tuk segera datang dan menaklukkannya. Aplagi faktor geografis yang strategi karena berdekatan dengan negeri tetangga Singapura dan Malaysia, membuat orang-berbondong mendatangi Batam untuk kelak menyebrang ke dua negeri tetangga yang makmur tersebut.

Kucoba untuk mencari kerja serabutan di Batam untuk memenuhi tanggung jawabku terhadap anak-anak. Tapi yang namanya berita ternyata tak selalu seiring dengan realita. Ternyata hidup di Batam dengan segenap mimpi-mimpi indahku pupus ketika kenyataan pahit yang kuhadapi tidak sama dengan apa yang ku dengar.Aku hanya mampu menyewa rumah yang murah beberapa bulan saja, setelah itu kupaksakan diri untuk membangun rumah liar beratapkan getah dan berdindingkan kayu triplak, Yang sebenarnya lebih layak untuk disebut kandang daripada rumah.

Di situlah aku dan anak-anak hidup bersempit-sempit dengan segala keterbatasan. Bahkan untuk mencari tambahan belanja aku terpaksa setiap pagi sebelum pergi kerja serabutan di daerah Sekupang, kusempatkan untuk mencuci tiga taksi tetangga dengan bayaran per-taksi 2500 rupiah, lebih murah dari mencucikan di door smeer yang kala itu 3000 Rupiah. Untuk itu sisa-sisa air yang telah terpakai, ku endapkan semalaman di dalam ember-ember cat untuk kelak kugunakan pagi harinya.Ya… dengan itu tiap pagi aku dapat 7500 Rupiah untuk membeli tambahan jatah makan anak-anakku.

Pada suatu malam, sekitar jam tiga-an malam, rumahku diketuk oleh pak RT dan temannya. Ternyata mereka mengantarkan ke rumah kami beras-beras dan beberapa amplop berisi uang untukku dan anak-anakku. Sungguh aku terharu tatkala mereka mengatakan bahwa keluarga kami sangat layak menerima santunan ini disebabkan sulitnya hidup yang kami jalani. Air mataku jatuh bergulir tiap kali mengenang peristiwa itu,sembari berkata dalam hatiku:” ya Allah hingga kapankah penderitaan ini berakhir?”.

Suatu hari, rumah kami didatangi seorang wanita kenalanku yang menumpang di rumahku beberapa waktu, untuk melanjutkan tujuan perjalanannya mengadu nasib ke negeri seberang. Dengan antusias dia menyuruhku agar membuat pasport untuk pergi bersamanya ke Singapore untuk bekerja apa saja yang bisa dikerjakan.

Dengan modal nekat dan uang pas-pasan, kubulatkan tekat untuk berangkat ke Singapore, namun sayangnya wanita yang
menjanjikan pergi bersamaku itu ternyata berhalangan pergi dan memaksaku untuk pergi sendiri saja dan dia berjanji akan menjaga anak-anakku hingga aku dapat pekerjaan.Inilah awal keberangkatanku ke singapore. dengan modal pas-pasan hanya membawa uang 40.000 Rupiah sisa dari pembuatan Paspor.

Kebetulan di Ferry aku bertemu dengan seorang wanita yang punya keinginan yang sama sepertiku, bedanya dia bisa berbahasa Inggris, sementara aku hanya mengandalkan bahasa Melayuku saja. Dengan kebaikannya aku ditumpangi taksinya untuk berhenti di Arabic Street berdekatan dengan Masjid Sultan.

Setibanya di sana, aku diberhentikan dan dia arahkan agar aku mencari-cari pekerjaan sebagai pembantu rumah makan melayu yang ada di sekitar tempat itu.Kukuatkan niat mendatangi salah satu rumah makan tersebut, tetapi entah kenapa, rasa malu dan sungkanku membuat aku tidak berani bertanya. Sesampainya di tempat itu aku berhenti beberapa saat untuk selanjutnya akupun melangkah pergi ke emperan masjid Sultan untuk menunggu kemurahan Allah pada hambanya yang naif ini.

Di sana aku dapati ada seseorang wanita yang sedang duduk-duduk. Maka segera kudekati dia dengan penuh harap bisa membantuku untuk mendapatkan pekerjaan. Setelah kudekati dan bertanya padanya ….ternyata dia hanyalah seorang pengemis yang sedang menanti uluran tangan kaum muslimin yang sholat di tempat itu.

Aku kembali duduk di tempat semula sambil terus berdoa agar aku dapat kerjaan untuk menghidupi enam orang anak yang ku tanggung. Aku terus menunggu dan berdoa, hinggan tiba-tiba ada seseorang yang datang padaku dan menawarkan pekerjaan:” awak boleh masak rendang?tanyanya: ku jawab: ya insyaallah jika sekedar untuk makan. Kembali dia bertanya padaku: awak boleh masak asam pedas? Kukatakan lagi: ya insyaallah. Dia menyebutkan beberapa jenis menu yang ternyata seluruhnya dapat dan pernah kumasak.

Subahnaallah… ternyata dia membawaku naik mobil ke tempat rumah makan yang tadi telah kusinggahi. Saat itu aku disuruh memasak dengan gaji 35 Dolar perhari…gaji yang kala itu sangat besar bagiku. Aku memuji Allah atas limpahan karuniaNya yang begitu besar padaku.Sejak saat itu aku senantiasa pulang-balik Batam-Singapore perdua minggu untuk melihat-anak-anakku yang kutitipkan pada temanku sambil mengantarkan uang kebutuhan mereka.

Sungguh berat rasanya meninggalkan anak-anakku yang masih kecil-kecil pada temanku, mengingat nasib mereka yang tidak pernah dapat sentuhan kasih dari ayah mereka, dan kini, mereka juga harus rela berpisah dengan ibu mereka.
Alhamdulillah sedikit demi sedikit aku selalu menabung dari uang gaji. Hari demi hari aku bekerja tak kenal lelah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sekolah anak-anakku yang kini semangkin besar.
Dengan menabung itulah akhirnya aku dapat membeli sebidang tanah dan membangun rumah di atasnya sebagaimana yang sekarang bapak ustadz saksikan”.

Ia menuntup sepenggal episode dari kisah hidupnya yang sangat sarat dengan nilai-nilai kesabaran dan keuletan, menghidupi sendiri seluruh anak-anaknya hingga dewasa, menikah bahkan ada yang dapat menyelesaikan kuliahnya.
Sungguh aku dan teman-teman begitu terkagum-kagum dengan wanita perkasa ini, semoga Allah ta ala senantiasa menjaganya dan seluruh keluarganya.

Batam, Zulhijjah 1435 h/16 okt 2014
Kenang-kenagan Indah Daurah di Ranah Minang
Abu Fairuz

Tulisan Terkait Lainnya