Kasih tak sampai

Diposting oleh Ustadz Abu Fairuz pada 17 October 2014
Kategori: Akhlak

 

kasih tak sampai

Ikhwan itu baru mengaji dan tertarik pada dakwah. Orangnya hitam manis, tenang dan bersahaja. Dia selalu datang ke kiosku untuk menemui sahabatnya yang telah lebih dulu mengaji untuk berbincang-bincang seputar kerjaan dan kajian.

Suatu ketika ia mendatangiku bertanya tentang statusnya yang ketika itu sedang menjalin hubungan cinta dengan seorang wanita. Menurutnya hubungan mereka adalah suci dan tidak dikotori dengan syahwat, sebagaimana yang selalu terjadi dikalangan muda-mudi yang sedang berpacaran di zaman ini.

Kuterangkan padanya bahwa dalam Islam tidak boleh ada hubungan antara pria dan wanita yang tidak mahram kecuali di ikat terlebih dahulu dengan ikatan suci berupa akad pernikahan.

Ungkapan orang awam “cinta suci” sebelum pernikahan, hanyalah ungkapan manis yang luarnya bagaikan madu tetapi dalamnya adalah racun yang telah membinasakan banyak muda-mudi, hingga terjerembab ke dalam jurang perzinahan. Nauzubillahi min zalik, bahkan terkadang dampaknya lebih dahsyat dari zina yang mereka lakukan. Tidaklah muncul kasus aborsi, membuang bayi hidup-hidup, membunuh pasangan yang hamil, atau bunuh diri karena khawatir menanggung rasa malu yang terjadi, melainkan efek dari pacaran yang dibungkus dengan cinta suci. Karena itulah kusarankan agar ia segera menikahinya.

Tapi sungguh aku terkejut tatkala mendengar bahwa gadis itu kini dalam keadaan kritis diistirahatkan dari perusahaannya disebabkan penyakit kanker darah putih (leukemia) yang telah mengerogoti tubuhnya. Bahkan perusahaan yang menanggung semua biaya perobatan dan biaya telah memulangkannya ke kampung halamannya di Jawa, dan kini gadis kini hanya mampu terbaring di atas tempat tidur, sementara dokter telah memvonisnya dengan ungkapan” tiada harapan” untuk sembuh dan dia tidak akan mampu bertahan lama .

Aku mendekatinya dan bertanya padanya: Apakah engkau jujur dalam mencintainya? Ia menganggukan kepalanya sembari tersenyum kecut. Aku katakan padanya:” Nikahilah dia segera…siapa tau dengan besarnya cintamu yang tulus padanya dapat meyembuhkan penyakitnya dan memberikan baginya harapan baru untuk tetap bertahan hidup dan menjadi optimis untuk sembuh”.

Kukatakan padanya:” jika engkau ingin tetap menjadikannya sebagai istrimu, maka nikahilah dia sebelum terlambat. Bila ketentuan takdir Allah menjemput nyawanya setelah ia sah menjadi istrimu, maka insya Allah jika kalian berdua termasuk ke dalam golongan ahli surga kelak…Allah akan menyandingkan kalian berdua di surgaNya sebagai suami istri. Tapi jika ia wafat sebelum kau nikahi..tidak ada jaminan ia akan menjadi istrimu kelak di akhirat jika sekiranya vonis dokter itu benar-benar terjadi”.

Mendengar saranku, seketika ia begegas berangkat ke jawa mendatangi rumah gadis tersebut dan menyampaikan rencananya pada orang tua gadis itu agar segera menikahkannya dengan putrinya.Orang tua sang gadis terharu mendengarkan tekat tulusnya untuk menikahi putrinya yang kini dalam kondisi kritis.

Betapa tidak, banyak pasangan rumah tangga yang bubar disebabkan tidak sabarnya salah satu dari keduanya dalam menghadapi dan merawat pasangannya yang menderita penyakit kronis yang berkepanjangan. Bahkan aku masih mengingat salah seorang kerabatku yang menderita penyakit hingga lumpuh, ditinggalkan begitu saja oleh istrinya seolah-olah dia tidak pernah di anggap ada di dunia ini hingga kematian menjemputnya.

Tetapi ikhwan ini…subhanallah, mau menikahi putrinya yang telah divonis mati oleh sang dokter. Allahu Akbar. Sungguh besar kegembiraan kelurga gadis itu menyambut niat tulusnya. Singkat cerita, surat-menyurat dan segala administrasi pernikahan telah dirampungkan, dan pernikahan segera di gelar di rumah sakit dengan acara resepsi yang begitu sederhana.

Malam harinya, ikhwan tersebut telah berada di samping calon istrinya beserta keluarganya yang telah berkumpul. Akad nikahpun berlangsung dengan khidmat dan linangan air mata. Air mata kesedihan dan kegembiraan tumpah menjadi satu melihat ikatan suci dua anak manusia itu dipatrikan dalam ijab qabul.

Sungguh pernikahan yang paling aneh rasanya ketika sang gadis sebagai mempelai wanita tidak dihias dengan segala bentuk pernak-pernik pernikahan. Jangankan untuk duduk bersanding sebagaimana yang biasa terjadi di orang awam, untuk bangun dari ranjang saja adalah mimipi indah yang tidak dapat terwujud bagi sang gadis.

Alangkah bahagianya seluruh keluarga dan handai tolan sang gadis, sebesar kebahagian kedua mempelai tersebut. Kini resmilah keduanya menjadi suami istri. Doa-doa dipanjatkan kepada Rabb azza wa Jalla, agar menurunkan rahmatnya, menyembuhkan sang gadis, dan meridhoi pernikahan mereka.

Malam itu, adalah malam indah bagi seluruh yang hadir di tempat tersebut. Keindahan malam pertama bagi kedua pengantin yang telah lama memendam kerinduan dan cinta itu diwujudkan dengan kesetian sang suami menjaga istrinya di sisi pembaringannya hingga waktu pagi datang menjelang.

La haula wala quwwata illa billahi, manusia hanya bisa berencana dan berharap, tetapi Allah jualah yang menentukan. Pada keseokan harinya…..Allah menjemput nyawa sang gadis untuk kembali kepadaNya. Inna lillahi wa inna ilahi rajiun. Gadis itu telah berpulang ke Alam Barzakh dalam keadaan tenang setelah resmi menjadi istri bagi ikhwan tersebut. Ketentuan takdir yang tidak dapat dirubah.

Beberapa hari setelah pulang dari Jawa dia menemuiku dengan segala kesedihannya. Tetapi aku menghiburnya dan menenangkan gemuruh di dadanya dengan ungkapan:”tidak perlu khwatir akhi…semoga Allah mempertemukan kalian kelak di Akhirat, dan menyandingkan kalian berdua di negeri Abadi sebagai suami istri di sisi Allah yang Maha Pemurah. Jikalah cinta kalian berdua tidak dapat terwujud di dunia fana yang sempit ini, niscaya ada negeri akhirat yang luas dan abadi yang dapat mempertemukan kalian berdua kelak.Perbanyaklah taat dan bersedekahlah untuk istrimu”.

Perkataanku cukup manjur untuk menenangkannya dan membuatnya ikhlas dengan ketentuan Allah. Ku ingat ketika bulan Ramadhan dia datang kepadaku menghantarkan sejumlah uang yang cukup besar infak atas nama istrinya untuk pembangunan proyek yaasan kita.

Doaku selalu, semoga Allah menjaganya dan menjaga kita semua, menurunkan rahmatNya kepada kita semua dan orang-orang yang kita cintainya. Agar kita semua beruhusnuz zhan dengan ketentuan takdir Allah yang penuh hikmah dan adil. Ya Rabb ajarkan kami meridhoi segala keputusanMu dan ikhlas menerima dengan lapang dada apapun yang telah Kau gariskan untuk kami.

Batam, 23 Zulhijjah 1435 h/17 Okt 2014

Abu Fairuz

Tulisan Terkait Lainnya