BILA ISI TAK SEINDAH CASING

Diposting oleh jundy priyana pada 19 December 2015
Kategori: Akhlak

 

Bismillah…

Bila anda membeli hp, mohon cek benar-benar isinya sebelum membeli, lihat hard ware dan kapasitas memory ataupun Ram nya. Lihat pula pabrik yang memproduksinya. Jangan mudah tertipu dengan tampilan luar yang indah,sebab casing belum tentu mencerminkan isinya.

Dalam dunia fana yang kita diami ini,ada orang-orang yang tampilan zahirnya baik. Mereka adalah penimba ilmu, berprofesi ustadz maupun ustadzah,bahkan penghafal Quran. Dengan zahir yang baik,ramah, tampak wara’dan zuhud…membuat kita takjub dan terpesona. Tak jarang dalam hati ini terucap :” Ya Allah …alangkah indahnya jika aku bisa seperti dia”…

Seiring perjalanan waktu,ternyata penilaianku tentang mereka berubah. Setelah melihat bahwa ” casing indah tidak menjamin isinya”. Sekalipun penghafal Quran, pengemban ilmu syariat,ustadz maupun ustadzah, namun tiada guna tatkala akhlak mereka terhadap makhluk bermasalah. Nekat hutang sana-sini,kemudian lupa; pura-pura lupa;atau sengaja melupakan beban tersebut. Bahkan ada yang telah berhutang puluhan juta hingga ratusan juta.

Jadilah ilmu yang mereka tunjukkan hanyalah retorika,ibarat lip’s tik pemoles bibir. Hafalan Quran yang indah dibaca tak lewat dari kerongkongan. Penampilan berjenggot,bercelana “cingkrang”dan bercadar hanyalah sebatas kamuflase alias “topeng”.

Alangkah kecewanya manusia menyaksikan perangai orang-orang yang mereka muliakan ternyata jelek tatkala menyangkut urusan “fulus”. Sebagaimana pantun di bawah ini:

Layar berkibar di atas sampan.
Dihembus angin menuju dermaga.
Sejak fulus jadi haluan.
Agama luntur tiada mengapa.

Akibat budaya hidup yang konsumtif,semua mau di beli dan di miliki….jadilah hutang mereka menggunung dan akhirnya tak terbayar. Sebagian mereka melarikan diri dari kejaran hutang kembali ke kampungnya. Sebagian yang lain pindah-pindah tempat,hidup dengan gaya “nomaden”…untuk menghindari hutang. Sebagian lain “muka tembok” alias muka “badak” pura-pura ngak tau…

* * *

Aku pernah mengenal sosok Jebolan fakultas syariah di salah satu perguruan luar dan beken…bahkan telah pula Ia mereguk jenjang magister.

Dalam beberapa perjalan dakwah ke Sumatera maupun jawa, aku selalu ditanyain tentang masalah orang ini yang punya hutang puluhan juta dan hingga kini tidak terbayar. Sungguh ku dengar betapa dongkolnya mereka mengingat yang melakukan ini sosok yang mereka panggil ustadz. Kini sang ustadz tidak dipercaya lagi,bahkan untuk mengisi kajian pun tidak. Ku dengar ia benar-benar ditinggalkan manusia.

Ada juga ustadz yang dikejar-kejar jama’ah umrah disebabkan mereka batal berangkat dan uang tidak kembali.

Ada ustadz yang pindah mengajar di sekolah lain dengan meninggalkan beban hutang yang lumayan besar.

Ada ustadz dan ustadzah yang bergerilya ke sana-ke mari cari hutangan hingga puluhan juta,yang juga hingga kini tak terbayar dan namanya tercoreng dan mencoreng institusi tempat ia mengajar.

Ada ustadz yang dicela jamaah disebabkan proyek properti yang ia kembangkan gagal karena berdiri di atas tanah yang bermasalah.

Ada ustadz yang didatangkan ke suatu daerah dan diberikan gaji yang layak untuk ukran di tempat itu, setelah memulai dakwah, jamaah kembali mensupport nya dengan dana segar puluhan juta untuk membuat usaha. Karena ngak bakat dan tidak bisa mandiri, usahanya hancur dan ia tak mampu mengembalikan uang tersebut.

Mirisnya ia malah nekat dan memaksakan diri untuk minta tambahan gaji dan mengkelola sendiri keuangan madrasah tersebut tanpa sepengetahuan yayasan.

Kini setelah merasa punya banyak pengikut ia akan buat yayasan sendiri pula dan mengancam berpisah dengan yayasan yang telah mendatangkannya.

* * *
“Ah…..ustad dan ustadzah juga manusia”
“Mereka bukan seperti Nabi yang maksum”
“Mungkin gaji dan amplop mereka terlalu kecil….”
“Mungkin kebutuhan mereka banyak…”

Maupun ungkapan-ungkapan lain dianggap dapat menjadi uzur bagi mereka. Ungkapan di atas boleh jadi ada benarnya. Masalahnya…mereka itu bukan orang awam, orang pasaran yang ngak kenal ngaji maupun ilmu agama…itu saja bedanya.

Kesalahan orang berilmu tidak dapat disamakan dengan kesalahan orang awam. Kaum Yahudi terlaknat karena tidak mengamalkan ilmu yang mereka ketahui. Sementara Kaum Nashara tersesat karena tidak berilmu. Kemurkaaan Allah kepada Yahudi jauh lebih besar dari kaum Nashara,karena Yahudi berilmu dan melanggar.

* * *

Alhamdulillah Allah masih memberikan kepada kita para asatidzah yang dapat menjadi qudwah dalam segala hal. Qudwah dalam ilmu dan amal,qudwah dalam dakwah dan sabar, qudwah dalam ikhlas dan tawadhu,qudwah dalam kejujuran bermuamalah dan menjaga amanah.

Mereka ibarat bintang-bintang di langit yang selalu menjadi pedoman bagi pengelana untuk menentukan arah. Mereka bagaikan sang surya yang tak pernah jenuh menerangi manusia dan mengusir pekatnya malam. Mereka ibarat purnama yang menawan dengan cahaya peraknya menyibak gulita.

Karena mereka saja Allah masih pelihara dunia ini dan menurunkan rahmatNya. Bila anda bertemu dengan mereka,maka pegang erat dan jangan pernah lepaskan. Adapun untuk para pembaca,izinkan ku tutup aertikel ini dengan gurindam penutup kalam:”

Bila ilmu telah di dapat
Mohon amalkan duhai sahabat

Bila amanah tiada dipegang
Niscaya kepercayaan orang kan hilang

Bila hutang di dunia tak bayar
Menyesal nasib di padang mahsyar

Barang siapa hidup khianat
Di akhirat pasti ia melarat

Batam,1 Rabiul Awwal 1437 /12 Des 2015.

Abu Fairuz.

Tulisan Terkait Lainnya