Nekat untuk Mencintainya?

Diposting oleh adminabufairuzcom pada 9 March 2016
Kategori: Tazkiyatun Nufus

 

Mencintai dunia adalah penyakit yang banyak dinikmati manusia. Penyakit ini dianggap kebanyakan manusia adalah penawar derita hidup di dunia, padahal ia adalah racun yang orang berlomba-lomba untuk menenggaknya.

Cinta dunia membuat seseorang celaka di dunia maupun akhirat. Berikut ini dampak-dampak dari mencintai dunia yang berlebihan:

1. Sibuk ngurus dunia hingga lupa menyiapkan bekal untuk akhirat dan melalaikan kewajiban.

Berkata Alhasan Bashri Rahimahullah:

” فإن الدنيا كثيرة الأشغال لا يفتح رجل على نفسه باب شغل إلا أوشك ذلك الباب أن يفتح عليه عشرة أبواب”

Sungguh dunia ini sangat menyibukkan,tidaklah seseorang membukakan bagi dirinya satu pintu kesibukan dunia kecuali, satu pintu itu akan membuka pula sepuluh pintu kesibukan yang lain.

2. Mendatangkan gundah gulana dan merusak fokus terhadap tujuan yang hakiki menuju negeri akhirat. Nabi bersabda:

” من كانت الدنيا همه فرق الله عليه أمره و جعل فقره بين عينيه و لم يأته من الدنيا إلا ما كتب له. و من كانت الآخرة نيته جمع الله له أمره. و جعل غناه في قلبه و أتته الدنيا و هي راغمة.”

“Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai ambisinya, niscaya Allah akan buyarkan segala urusannya dan Allah menjadikan kefakiran lekat selalu di antara dua matanya, dan tidaklah dunia itu datang padanya kecuali apa yang telah ditakdirkan. Barang siapa yang ambisinya adalah negeri akhirat, niscaya Allah akan permudah urusannya dan menjadikan selalu perasaan kaya melekat diantara kedua matanya, dan dunia yang datang padanya”.

3. Mencintai dunia akan mendatangkan seribu duka nestapa yang melelahkan yang tiada putus-putusnya.

Berkata Ibnul Qayyim:
و محب الدنيا لا ينفك من ثلاث : هم لازم و تعب دائم و حسرة لا تنقضي و ذلك أن محبها لا ينال منها شيئا إلا طمحت نفسه إلى ما فوقه كما في الحديث الصحيح عن النبي ـ صلى الله عليه و سلم ـ : “لو كان لابن آدم واديان من المال لابتغى لهما ثالثا”

Pecinta dunia tidak kan lepas dari tiga hal; gundah gulana yang tiada putus, keletihan yang panjang, dan keluh kesah yang tiada henti, sebab tiap kali dia memperoleh satu nikmat maka jiwanya akan meronta untuk memperoleh lagi kenikmatan yang lebih besar.

Berkata Nabi-sallallahu alaihi wa salam: “seandainya anak Adam telah memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan ambisi memiliki lembah emas lainnya”.

4. Mencintai dunia sebab kehinaan. Berkata Ahli hikmah:
من أراد الدنيا فليتهيأ للذل
Barang siapa yang tergila-gila dengan duia bersiaplah untuk hina.

5. Mencintai dunia membuat seseorang rela menjadi penjilat dan menjadi “syetan yang bisu” tak punya nyali mengingkari kemungkaran disebabkan takut ditinggalkan orang kaya dan penguasa.

6. Cinta dunia membuat seseorang sibuk membicarakannya. Seluruh topik pembicaraan selalu menjurus ke dunia, bagaimana memperolehnya, ambisi untuk menikmati pakaian mahal, kendaraan bagus, rumah mewah, pasangan yang cantik, maupun pusat-pusat perbelanjaan ternama.

Ulama salaf berkata: “sungguh aku membenci orang-orang yang sibuk membicarakan perut dan syahwatnya.”.

Berkata Ayyub as-Sakhtiyani: “aku tidak pernah mendengar Ahmad Bin Hambal bicara tentang dunia sedikitpun”.

Berkata Aun bin Abdullah: “adalah generasi salaf terdahulu menjadikan sisa-sisa waktu mereka untuk mencari dunia. Adapun kalian sekarang menjadikan porsi akhirat kalian dari sisa-sisa dari waktu dunia”

Semoga kita dilindungi Allah dari penyakit ini, dan mendapat bimbingannya untuk menyibukkan diri mengumpul bekal akhirat kita.

————–
Samarinda, 26 Jumada Ula 1437/ 06 Maret 2016.

Abu Fairuz Ahmad Ridwan My

Tulisan Terkait Lainnya