MENGAPA HARUS PUSING?

Diposting oleh jundy priyana pada 5 January 2016
Kategori: Tazkiyatun Nufus

 

Dalam perjalanan Dakwah,sebagaian orang merasa pusing dengan besarnya operasional dakwah yang harus di emban di pundaknya.

“Ana pusing memikirkan biaya operasional dakwah ini, dalam satu bulan kami harus mengeluarkan sekian ratus juta untuk membayar ini dan itu, sementara kami harus peras keringat,banting tulang buat berbagai usaha dan” jor-joran”ke mana-mana cari infaq dan donatur”.

Itulah sebagian ungkapan para aktivis dan penggerak dakwah. Ungkapan jujur menunjukkan kepeduliannya kepada dakwah.

Ikhwati….
Akhawati…
Setiap kita wajib untuk senantiasa memikirkan kemajuan dakwah,mencari sumber-sumber pendanaan dalam dakwah,berikhtiar dan berusaha.

Tapi….
Pahamilah bahwa dakwah dan agama ini milik Allah. Dia yang bertanggung jawab penuh untuk menjaganya, memeliharanya dan menyebarkannya. Baik dengan perantara antum ataupun orang selain antum. Maka jangan pernah pesimis dengan bantuan Allah.

Jikalah Abdul Mutthalib dengan yakinnya berkata kepada Raja Abrahah:” adapun unta-unta yang kau ambil seluruhnya milikku dan kembalikan padaku, sementara Ka bah ada pemiliknya(Allah) dan Ia pasti kan menjaganya” mengapa kita harus kalah dengan Abdul Mutthalib dan ragu dengan pertolongan Allah, padahal kita belajar akidah yang tidak dipelajari Abdul Mutthalib.

Hal terpenting yang harus antum jaga adalah,keikhlasan. Karena hanya dengan itu semata rahmat Allah akan turun dan datang. Hilangkan segala bentuk harap dan ketergantungan kepada makhluk yang meruntuhkan dakwah dan menghilangkan berkah.

Satu telunjuk ikhwan yang ikhlas sekalipun faqir ketika diangkat ke langit dengan bersumpah atas nama Allah akan lebih baik dari ribuan konglomerat yang ubun-ubun dan hati mereka ada dalam gengaman Allah. Allah maha kuasa untuk mengunci hati-hati mereka untuk menyalurkan infaq kepada anda dan memalingkannya kepada yang lain yang lebih ikhlas dari pada anda.

Ikhwati…
Akhwati…
Dakwah ini berat jika kita bergantung dengan diri kita sendiri,dengan ilmu dan kepiawaian kita,dengan loby dan manuver kita.

Lebih dahsyat dari itu perasaan mampu menghusung dakwah sendiri dengan segelintir manusia yang bersama anda akan melahirkan ujub dan sombong,merasa bangga dan berjasa atas Islam.

Ketika anda pasrahkan agama ini kepada Allah, menghilangkan segala perasaan “mampu ” tanpa pertolongan Allah, meyakini Allah pasti akan menolong siapa saja yang memperjuangkan agamanya pasti beban yang berat dipundak anda akan jadi ringan. Kecemasan anda kan menjadi senyum penuh keyakinan akan datangnya pertolongan Allah.

Ikhwati….
Sebesar apa keikhlasan kita dalam berdakwah,seperti itu datang keberkahan.
Sebesar apa ketergantungan kita pada makhluk,sebesar itu pula musibah yang menimpa kita karena ditinggalkan Allah.

Ikhwati…
Akhwati….
Ketika Ibnul Qayyim dan para sahabatnya begitu gundah gulana karena besarnya tantangan dalam dakwah dan dahsyatnya gelombang fitnah. Tahukah anda apa yang mereka lakukan ?

Mereka mendatangi majelis ilmu dan mendatangi guru mereka syaikhul Islam ibnu Taimiyah. Apa kata Ibnul Qayyim:” baru saja kami melihat beliau(Ibnu Taimiyah)dan mendengar perkataannya, seketika hilanglah kecemasan kami dan datanglah ketenangan dan ketentraman”.

Ikhwati…
Akhwati…
Dakwah ini berat jika anda berjalan sendiri tanpa bimbingan ilmu dan para asatidzah. Dakwah ini bukan perusahaan yang dapat diprediksi untung rugi dan gagal berhasilnya dengan kalkulator dan program-program canggih dunia.

Dakwah ini sangat bergantung pada Allah dan bimbingan para ulama. Ketika kau tinggalkan Dia dan mereka kemana lagi kau harus berlari ?

Ikhwati dan akhwati para aktivis dakwah…
Bagaikan charger hp yang begitu menentukan hidup matinya hp begitu juga hubungan anda dengan Allah dan ulama.

Namun sayangnya kulihat dirimu tidak begitu bersemangat menimba ilmu,melebihi semangatmu dalam mengumpulkan orang.

Namun kulihat dirimu bermalas-malasan untuk mendatangi kajian,tidak seperti semangatnya dirimu ketika tour kesana-kemari, mencari support dari makhluk.

Ikhwati….
Akhwaati…
Janganlah jadi lilin-lilin yang menerangi manusia namum membakar dirinya. Jikalah orang-orang pulang daurah ke rumah masing-masing dengan membawa obor penyuluh,sementara engkau sendiri pulang berjalan dalam gelap dan kelam.

Trawas-Mojokerto, 24 Syawwal 1436/9 Agustus 2015

Abu Fairuz

Tulisan Terkait Lainnya